Zhivago

Goenawan Mohamad
http://majalah.tempointeraktif.com/

Tiap akhir Mei diam-diam saya memperingati seorang penyair yang mencoba menyingkir, ketika politik berniat membangun dunia dengan gegap-gempita, sedangkan ia mencoba bicara yang lain, tak percaya bahwa politik dan sejarah adalah segala-galanya. Tentu saja ia tertabrak. Begitulah Boris Pasternak meninggal di rumahnya di Peredelkino, 30 kilometer dari Moskow, 30 Mei 1960.

Ia dikutuk pemerintahnya. Kekuasaan yang dibangun oleh Lenin dan Stalin memutuskan bahwa Pasternak seorang pengkhianat. Uni Soviet menghendaki tiap warganya bergerak seperti tentara dalam formasi perang, karena revolusi (umumnya ditulis dengan “R”) yang bermula sejak Oktober 1917 belum selesai. Dunia masih harus diubah. Dan sejak Stalin memegang kendali, disiplin pun diteruskan dengan kian keras: rencana pembangunan lima tahun sudah dicanangkan, semua orang harus menyingsingkan lengan baju, dan para seniman diberi arah.

Pada tahun 1934, Andrey Zhdanov, orang kepercayaan Stalin, berpidato di Kongres Persatuan Penulis Soviet. Asas yang kemudian disebut sebagai Zhdanovshchina bermula dari sini: para sastrawan diharuskan menerapkan doktrin “Realisme Sosialis”.

Sebenarnya mustahil membikin satu resep bagi karya-karya sastra?tapi bagaimana para birokrat dan pejabat Partai Komunis mengerti proses kreatif? Bagi mereka, para sastrawan harus bertugas dalam rekayasa sosial untuk membentuk “manusia baru”. Sebab, kata Zhdanov mengutip Stalin, sastrawan adalah “insinyur jiwa manusia”.

Tapi jiwa manusia lebih rumit ketimbang semen dan baja, dan Zhdanovshchina pun akhirnya jadi sebuah mekanisme yang mengendalikan ekspresi kesusastraan. Penulis satire Mikhail Zoshchenko dan penyair Anna Akhmatova?yang menerbitkan karya-karya yang “a-politis, individualistis, dan borjuis”?dipecat dari Persatuan Penulis Soviet. Ketakutan pun menyebar. Apalagi semua tahu, sebelumnya, penyair Osip Mandelstam dibuang dan mati, seperti banyak orang ditangkap dan kemudian hilang.

Pasternak juga bimbang dan gentar. Haruskah ia masuk ke dalam ikhtiar besar yang mau meringkus segala-galanya, juga batin, ke dalam proyek “Revolusi”? Ataukah ia menulis puisi seperti yang ia lakukan selama itu, dan tak ikut dalam “Revolusi” itu, karena baginya ada hal-hal yang lebih segera dan bermakna?

Saya kira pada saat itulah ia menulis Hamlet, sebuah sajak empat bait. Di sini Pasternak memakai tokoh lakon Shakespeare itu sebagai metafor, ketika harus memilih, to be or not to be, bertindak atau tak bertindak, hidup atau mati. Tapi Pasternak juga menggabungkan kebimbangan Hamlet dengan rasa gentar Yesus di Taman Getsemani, ketika tahu nasib apa yang menanti. Di ambang pentas, Hamlet berbisik: “Jauhkan cawan ini dari diriku, Abba, bapaku.”

Ia sendirian. Ia seakan-akan noktah yang gamang dalam keluasan sejarah yang sedang bergerak. Di sekitarnya mengepung orang-orang “farisyi”, katanya. Dengan kata lain, di sekitarnya mengepung orang-orang yang merasa paling benar, paling suci, karena paling patuh kepada akidah agama.

Bagi saya menarik, bahwa Pasternak memilih kiasan Injil untuk situasi hidupnya: tampaknya ia menyamakan Stalinisme dengan sebuah agama yang memperkeras akidah dan memperkukuh lembaga. Tentu ia tak bisa masuk ke sana. Sifat religius yang terungkap lewat puisinya justru menunjukkan bahwa hidup tak seperti yang diartikan kaum farisyi: hidup itu sendiri mengandung sesuatu yang suci, meskipun tak tersentuh oleh akidah. Injil, demikian tertulis dalam Doktor Zhivago, bukanlah “petunjuk dan perintah ethis”. Kristus “berbicara dalam amsal yang diambil dari kehidupan”.

Dan kehidupan, bagi Pasternak, adalah sesuatu yang intim tapi menakjubkan, bergairah meskipun ringkih. Hidup adalah “adikku perempuan”, seperti dikatakannya dalam sajaknya Sestra moya-zhizn, yang “berenang di dunia terang, berlindungkan hujan musim kembang”. Sementara di sana ada “orang-orang berantai arloji” yang diam-diam kesal dan menggerutu.

Kontras itulah agaknya tema dasar karya-karya Pasternak: di satu sisi hidup yang dekat, yang mempesona, yang bebas dan tak terduga-duga; di sisi lain, ada yang patuh, teratur dan berwibawa (“berantai arloji”). Di antara keduanya, sang penyair telah memilih. Karena hidup tak bisa ditaklukkan oleh doktrin, ia, yang memihak hidup, menampik untuk mengikuti Zhdanovshchina. Ketua Persatuan Penulis Soviet memutuskan: Pasternak harus dibabat.

Tapi ia diam-diam terus menulis novel itu, Doktor Zhivago, kisah tragis seorang dokter di tengah Revolusi yang ganas, seorang yang percaya bahwa ada Kristus dan ada kekuatan yang tak tertandingi dari “kebenaran yang tak punya senjata”.

Ia setengah berharap setengah tidak bahwa novel itu akan bisa diterbitkan. Pada 1957, tiba-tiba Doktor Zhivago terbit, dalam bahasa Rusia, di Italia. Pada 1958, hadiah Nobel diberikan kepadanya.

Tak ayal, Pasternak pun jadi obyek Perang Dingin antara kubu Uni Soviet dan kubu “Barat”. Bagi “Barat”, ia lambang ketidakbebasan kreatif di bawah komunisme. Bagi para pendukung “Revolusi” di mana-mana, ia layak dibungkam. Bahkan di Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, yang juga ingin menerapkan Realisme Sosialis dan mengutip ajaran Zhdanov dengan bersemangat, menganggap Doktor Zhivago berdosa besar: sebuah “fitnah” terhadap Revolusi Oktober.

Pasternak tak bisa melawan. Semua karyanya dihentikan beredar. Ia kehilangan mata pencaharian. Dan tak mungkin ia akan diizinkan datang ke Stockholm untuk menerima hadiah kehormatan itu. Pada 1960 ia, yang menderita kanker paru-paru, meninggal.

Tapi bisakah ia memilih Sejarah dan Akidah, dan bukan puisi? Tentu tidak. Sebab puisilah yang menyambut hidup, dengan gerak kecil-kecilan yang intens. Sebab puisi adalah,

Siul yang jadi matang di saat sekejap
Kertak suara es di angin kedap
Malam yang mengubah hijau jadi beku
Duel suara bulbul dalam lagu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *