Potret Buram Libido yang Menyimpang

Maman S. Mahayana
http://kompas-cetak/

Sebuah novel metaforis dengan tokoh yang juga metaforis: Sendalu karya Chavchay Syaifullah. Sendalu “kencang” yang dalam konteks novel itu meski dimaknai sebagai “pengaruh (buruk) yang cepat menyebar; wabah, epidemi macam penyakit kusta, AIDS, atau flu burung”.

Tokoh utama, Lumang, diposisikan sebagai “anak terapit bangkai” karena kakak dan adiknya meninggal prematur. Lumang sendiri bermakna ?lumpur, noda?. Jadilah tokoh Lumang digambarkan hidup lebih nista dari lumpur, pencipta teror, penebar noda bagi manusia, jawara keparat bagi wanita. Continue reading “Potret Buram Libido yang Menyimpang”

?Gelar Sajak Suryatati?

Berpihak pada Persoalan Masyarakat

John Js
http://www.sinarharapan.co.id/

?Saya kagum dengan konsistensi dan kepedulian (Walikota Tanjungpinang) Suryatati sebagai wanita yang menulis puisi. Lagi pula saya senang mendapat kesempatan membaca sajak-sajak Melayu. Sajak-sajak Melayu Jemputan (karya Suryatati) sangat menyentuh. Membaca puisi adalah sesuatu yang bisa menghilangkan kegalauan, seperti seni peran,? ungkap Tamara Bleszyinski yang terpilih membaca karya sajak Suryatati berjudul ?Nyanyian Rakyat Kecil? di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, minggu lalu. Continue reading “?Gelar Sajak Suryatati?”

Geliat “Kritis” Cerpenis Malaysia

Sihar Ramses Simatupang
sinarharapan.co.id

Aku saksikan wajahnya yang dipajang berbagai koran, biasanya di halaman sosial; atau aku melihat sekilas mobil suaminya yang diparkir di luar salah satu hotel -mobil dengan pelat bernomor satu digit (orang kaya jadah) yang mudah diingat. Namun, aku tak pernah bertemu Alissa?

Barisan kalimat di atas adalah bagian dari salah satu cerpen “Yang Terkasih”, dari antologi cerpen berjudul Pahlawan dan Cerita Lainnya karya Karim Raslan, sastrawan Malaysia yang melaunching bukunya di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Jakarta (4/9). Continue reading “Geliat “Kritis” Cerpenis Malaysia”

Satu Akar, Dua Pohon

Hawe Setiawan*
http://majalah.tempointeraktif.com/

Sama-sama berakar Melayu, sastra Indonesia dan sastra Malaysia berkembang secara terpisah. Buku ini membandingkan sistem sastra dan ideologi politik kedua negara pada tahun 1950-an.

AKAR MELAYU: SISTEM SASTRA & KONFLIK IDEOLOGI DI INDONESIA DAN MALAYSIA Pengarang : Maman S. Mahayana Penerbit : Indonesia Tera, Magelang Tebal : xiv + 302 halaman Cetakan pertama : April 2001 AKARNYA sama: bahasa dan tradisi sastra Melayu. Sama-sama bermoyangkan Raja Ali Haji dan Abdullah bin Abdulkadir Munsyi. Namun, pohonnya berbeda, dan karena itu cabang, ranting, dan buah kreativitas kesusastraan Indonesia dan Malaysia tidaklah sama. Continue reading “Satu Akar, Dua Pohon”

Alam yang tak Mencemaskan

Ahda Imran
pr.qiandra.net.id

DALAM hampir semua novel Indonesia yang mencoba menempatkan alam tidak sekadar sebagai latar cerita, tetapi juga sebagai masalah yang diangkatnya. Alam bukankah ancaman yang mencemaskan dan menakutkan. Alam tidaklah diperlakukan sebagai problem yang serius. Bahkan, dalam banyak puisi penyair Indonesia, alam (laut, gubung, hutan, sawah) justru menjadi objek yang penuh pesona, inspirasi. Maka yang muncul adalah kekaguman mereka pada alam. Jejak alam dalam novel Indonesia adalah ekspresi kekaguman, keterpesonaan, dan hasrat melakukan persahabatan dan persaudaraan dengan alam. Continue reading “Alam yang tak Mencemaskan”

Bahasa ยป