Satu Akar, Dua Pohon

Hawe Setiawan*
http://majalah.tempointeraktif.com/

Sama-sama berakar Melayu, sastra Indonesia dan sastra Malaysia berkembang secara terpisah. Buku ini membandingkan sistem sastra dan ideologi politik kedua negara pada tahun 1950-an.

AKAR MELAYU: SISTEM SASTRA & KONFLIK IDEOLOGI DI INDONESIA DAN MALAYSIA Pengarang : Maman S. Mahayana Penerbit : Indonesia Tera, Magelang Tebal : xiv + 302 halaman Cetakan pertama : April 2001 AKARNYA sama: bahasa dan tradisi sastra Melayu. Sama-sama bermoyangkan Raja Ali Haji dan Abdullah bin Abdulkadir Munsyi. Namun, pohonnya berbeda, dan karena itu cabang, ranting, dan buah kreativitas kesusastraan Indonesia dan Malaysia tidaklah sama.

Tapi kenapa bisa sebuah akar menumbuhkan dua pohon, begitulah Maman S. Mahayana bertanya-tanya. Dosen Fakultas Sastra Universitas Indonesia itu lalu tertarik menulis tesis tentang perbedaan tersebut. Tesis itu kemudian diterbitkan sebagai buku.

Yang kemudian diperbandingkan oleh Maman adalah lebih dalam hal sistem sastranya, termasuk pertautan antara sastra dan tatanan sosial-politik yang melingkupinya. Karakteristik karya sastranya itu sendiri tidak banyak dibicarakan. Maka, uraiannya lebih pada sistem penerbitan, profesi pengarang, juga semak belukar ideologi politik. Lingkup pembahasannya dibatasi oleh seruas masa tatkala kesusastraan di kedua negara dikatakan menunjukkan “kesemarakan”: tahun 1950-an.

Menjadi berbedanya sastra Indonesia dengan sastra Malaysia, menurut Maman, terpaut pada kolonialisme. Dalam hal ini, Maman antara lain merujuk pada kon-sekuensi negosiasi antara Impe-rium Inggris dan Belanda di London pada 1824. Ranah budaya yang setradisi dipilah dua. Pertama, Malaka serta Singapura menjadi urusan Inggris. Kedua, Sumatra dan selebihnya jadi kewajiban Belanda. Kolonisasi, antara lain, memperkenalkan teknologi percetakan. Dan itulah “embrio bagi kesusastraan di kedua wilayah” (halaman 3).

Dalam perkembangannya, seperti ditulis buku ini, dinamika sastra Indonesia melenceng dari garis tradisi Melayu. Pamor para penulis asal Sumatra memudar, digantikan oleh rekan-rekan mereka dari Nusa Jawa. Sementara itu, pertautan antara tradisi sastra Melayu dan dinamika sastra modern Malaysia sepertinya tetap terpelihara.

“Jadi, jika perjalanan kesusastraan Indonesia dan Malaysia terkesan berjalan sendiri-sendiri, sebenarnya lebih disebabkan oleh adanya kekuasaan kolonial yang berbeda,” demikian salah satu kesimpulan Maman (halaman 241). Namun, bagaimana persisnya kekuasaan kolonial itu menyebabkan keter-putusan tradisi di wilayah yang satu dan keberlanjutannya di wilayah lain, buku ini tidak sampai menawarkan penjelasan yang me-yakinkan.

Alih-alih melakukan hal itu, buku ini memaparkan beberapa keserupaan di antara sistem sastra di sini dan sistem sastra di negeri jiran itu. Ambil contoh perihal perseteruan ideologis. Di sini ada kalangan sastrawan Lekra yang menekankan gagasan “realisme sosialis”, dan ada pula kalangan sastrawan Manifes Kebudayaan yang menitikberatkan ide “humanisme universal”. Di negeri jiran pun timbul silang paham antara para sastrawan Asas 50, yang mengedepankan gagasan “seni untuk masyarakat”, dan sejumlah sastrawan lainnya yang mengemukakan ide “seni untuk seni”. Tapi, apakah itu lalu menunjukkan betapa dinamika sastra di sini merembes juga ke negeri Encik Mahathir, sebagaimana disinyalir oleh Maman?

Juga perlu dipertanyakan pengambilan contoh sastrawan yang representatif. Misalnya, Sobron Aidit?di samping Agam Wispy?cenderung dianggap paling representatif dari kalangan Lekra. Mengapa tidak merujuk pada Utuy Tatang Sontani, yang jelas pernah terkemuka di puncak Lekra? Atau, Asahan Alham?tadinya bernama Asahan Aidit?yang pernah berkarya baik di Indonesia maupun di Malaysia? Dan, menurut Maman?ia mengutip Sapardi Djoko Damono?sastrawan Lekra bukanlah “sastrawan beneran”. Walhasil, telaahnya dalam hal ini terasa kurang berimbang dan kelewat berpijak pada salah satu pihak.

Bagaimanapun, buku ini penting dilihat dari kesejarahan sastra Indonesia. Dapatlah kiranya buku ini disegolongkan dengan, misalnya, Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia dan Kapankah Kesusastraan Indonesia Lahir karya Ajip Rosidi, atau Pujangga Baru: Kesusastraan dan Nasionalisme di Indonesia 1933-1942 karya Keith Foulcher. Dan, bagi para penilik dunia persuratan di negeri jiran, karya ini kiranya dapat pula disandingkan dengan disertasi A. Wahab Abdi, The Emergence of the Novel in Modern Indonesia and Malaysian Literature: A Comparative Study.

*) Pengurus Paguyuban Pengarang Sastra Sunda (PPSS), Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *