Apresiasi untuk Sastra Bahasa Lampung

Judul buku: Mak Dawah Mak Dibingi (Kumpulan Sajak Udo Z. Karzi)
Penulis: Udo Z. Karzi
Penerbit: BE Press, Bandar Lampung
Tahun terbit: 2007
Jumlah Halaman: xii + 71 halaman
Peresensi: Irfan Anshory
http://www.lampungpost.com/

Masyarakat Lampung sebenarnya cukup kaya dengan karya sastra berupa adi-adi (pantun), warahan (cerita), hiwang (ratapan yang berirama), wawancan (sejarah), dan sebagainya. Continue reading “Apresiasi untuk Sastra Bahasa Lampung”

Ayo Jadi Penulis Go Blog

Mohamad Ali Hisyam*
http://www.jawapos.com/

Sambung-sinambung gagasan dalam tulisan Muhidin M. Dahlan, Saatnya Bikin Buku TV (Jawa Pos, 29 Juni 2008) serta esai Azrul Ananda, Newspaper is Dead (Jawa Pos, 1 Juli 2008), menjadi seuntai benang merah dari asumsi mendasar bahwa masa depan dunia cetak, termasuk di dalamnya dunia perbukuan, saat ini sedang berada di persimpangan. Jauh sebelum itu, harian inilah yang pertama kali memperkenalkan kesimpulan bernada ramalan ini ke tengah publik. Continue reading “Ayo Jadi Penulis Go Blog”

Paradigma Antologi Sastra

Binhad Nurrohmat
http://www.sinarharapan.co.id/

Bila ada seorang sastrawan Indonesia secara eksplisit menampakkan sikap kekecewaan lewat cara berburuk sangka atau marah-marah gara-gara karya sastranya tak masuk sebuah antologi sastra sebenarnya itu kecenderungan lama yang sudah berulang kali terjadi dan menjangkiti nyaris setiap antologi sastra kita. Kekecewaan semacam itu cenderung juga akan memancing tanggapan ?baik-baik maupun emosional.? Continue reading “Paradigma Antologi Sastra”

Peluncuran Buku “Menoleh Silam Melirik Esok”

Dari Buku ke Perdebatan Lekra-Manikebu
Sihar Ramses Simatupang
sinarharapan.co.id

Jakarta-Pertemuan itu sebenarnya bukan pertemuan yang pertama kali sehingga tidak lagi menjadi pertemuan luar biasa.

Mereka, para pembicara, berbeda latar belakang. Seorang di antaranya adalah sastrawan yang aktif di Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat, ikatan seniman yang berideologi realisme sosialis) dan kini tinggal di Prancis, JJ Kusni. Continue reading “Peluncuran Buku “Menoleh Silam Melirik Esok””

Dari “Kado Istimewa” Sampai “Dua Tengkorak Kepala”

Dari Cerpen “Topikal”, Reduksi Realitas Sampai Masa Depan Cerpen Kita

Agus Noor *
kompas.com

LIMA tahun terakhir, boleh dibilang adalah “masa keemasan” cerpen Indonesia. Sebuah periode yang tidak semata ditandai dengan begitu melimpahnya cerpen, tetapi juga mulai diterimanya cerpen sebagai sebuah genre sastra yang mandiri; pun mulai dihargai melalui pemberian penghargaan terhadap cerpen-cerpen yang dianggap “terbaik” seperti dilakukan Kompas dan Dewan Kesenian Jakarta di tahun 1999 lalu. Continue reading “Dari “Kado Istimewa” Sampai “Dua Tengkorak Kepala””

Bahasa ยป