Sajak-Sajak Mujtahidin Billah

http://sajaksufi.wordpress.com/
Pada Selembar Buku Sejarah Cinta Balqis

Cinta telah ditawan dengan pedang sukma, apa lagi yang kau lihat
pada kulit air yang mengaca dalam metafora istana itu? kau dengarkan
sayap burung hud hud menarik engsel pintu sejarah, usah pertikaikan
sangkar indah tanpa penghuni, kita teruskan saja hijrah pada negeri
yang sedia menunggunya rakyat jelata burung, negeri tanpa raja tanpa
takhta singgahsana, hanya sinar jiwa memancar setelah terbukanya
pintu istana agung, hanya Aku, tidak lagi namanya burung atau hud hud. Continue reading “Sajak-Sajak Mujtahidin Billah”

Lelaki Terpuji Itu

Nelson Alwi
http://jurnalnasional.com/

DIA bukan modin. Tapi sepengetahuan orang-orang, kepeduliannya pada musala di kompleks perumahan di mana kami bermukim, melebihi loyalitas seorang modin atau penjaga rumah ibadah mana pun.

Biasanya, antara pukul sembilan dan sepuluh pagi, dengan handuk kecil tersampir di pundak, dia sampai di musala. Tenang-tenang dia singkapkan pintu dan jendela rumah ibadah itu. Tenang-tenang pula dia buka gudang perkakas. Kemudian, ada-ada saja yang dia kerjakan?tergantung cuaca dan, mungkin juga, merupakan kebijakan atau kemauannya belaka. Continue reading “Lelaki Terpuji Itu”

M A R I N A

Iman Suwongso
http://oase.kompas.com/

Marina, aku mencarimu di ujung jalan, tempat biasanya kamu berdiri di bawah pohon randu, berpayung warna-warni. Sudah kuhabiskan waktu setengah hari aku disitu, namun bibirmu yang bergincu tebal itu seperti lenyap ditelan debu yang mengepul oleh roda truk. Aku menunggumu bersama burung prenjak, yang menahan kicaunya karena dia takut kehilangan kemerduannya saat kamu melenggang dari tikungan jalan. Sudah aku tanyakan kepada tetangga terdekat di ujung jalan ini, juga kepada kapuk-kapuk yang berterbangan, seperti salju hinggap di rambutmu yang legam. Mereka diam. Lebih bisu dari patung kuda di perempatan jalan itu. Continue reading “M A R I N A”

Meneguhkan Kembali Karya Sastra

Imam Muhtarom *
indopos.co.id

Pernyataan novelis Budi Darma pada Kamis (31/7/2008) dalam rangkaian Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara) XII di Bogor, 28 Juli -2 Agustus 2008, layak menjadi renungan dalam perkembangan sastra sekarang ini. Sastra hari ini, menurut Budi Darma, mendapat tantangan yang cukup berat. Tantangan itu bukan karena tidak adanya infrastruktur untuk menopang kelangsungan sastra itu sendiri, melainkan justru ketika infrastruktur tersebut dalam keadaan cukup memadai. Buktinya, sekian penerbit telah muncul dengan segala kelengkapannya agar karya sastra sebanyak mungkin diserap pasar. Continue reading “Meneguhkan Kembali Karya Sastra”

Bahasa ยป