Sajak-Sajak Mujtahidin Billah

http://sajaksufi.wordpress.com/
Pada Selembar Buku Sejarah Cinta Balqis

Cinta telah ditawan dengan pedang sukma, apa lagi yang kau lihat
pada kulit air yang mengaca dalam metafora istana itu? kau dengarkan
sayap burung hud hud menarik engsel pintu sejarah, usah pertikaikan
sangkar indah tanpa penghuni, kita teruskan saja hijrah pada negeri
yang sedia menunggunya rakyat jelata burung, negeri tanpa raja tanpa
takhta singgahsana, hanya sinar jiwa memancar setelah terbukanya
pintu istana agung, hanya Aku, tidak lagi namanya burung atau hud hud.

Sebagai Zulaikha

Usahlah kau mengerling dari kejauhan
jemputlah ke sini dan petiklah kembang-kembang
di kebun zaitun yang terlarang ini
ajarkan padaku makna cinta keabadianNya
walau lengan bajumu akan tersayat
oleh sentuhan duri-duri kasar di kebun terluka ini
marilah wahai Yusuf
tiada keindahan selain keindahan wajahmu
nampak jelas di pundak alam semesta

kau hadir secara tiba-tiba
tatkala aku pun sedang mencari-cari jalan keluar
dari segenap lorong pintu rahsia istana ini
sebaik saja aku terpandang kelibat seri wajahmu
langit mega bagai membuka ketujuh-tujuh wilayah pintunya
laksana kilat pedang memancarkan gabungan pelangi

bebaskanlah aku dari jantung istana ini
yang sekian abad menyeksa batinku
dibelenggu wujud sang raja
jiwa kesunyianku ingin sekali menyentuhmu Yusuf
adakah kau cinta agung
yang menapak turun dari mercu langit
mengembuni jalan di padang-padang hangat kembara
belum pernah kurasakan kehadiran misteri seperti ini
di sela-sela ketandusan lembah jiwaku
kutahu tak mudah untuk aku meloloskan diri
lepas lari dari berlapis-lapis pintu besar istana

tatkala burung-burung berterbangan di suatu fajar
menitirkan zikir dari pohon ke pohon
dalam sayap mataku, menjelma mustika wajahmu
sebagai roh abadi
aku ingin segera mendatangi tempat sucimu
bermunajat di hadapan Tuhan yang kausembah
tak dapat kusembunyikan lagi bayangan maluku
setelah dipertawasendakan oleh semua perempuan istana
gilakah aku mendambakan cahaya kasihmu
agar kau sudi menyentuh
sutera kerinduanku yang tak bertepi

tatkala perahu berlayar sendirian di tengah ombak kencana
dalam tandu igauku, kupanggil namamu berkali-kali
Yusuf, jangan pergi jauh dariku!
aku tak punya sahabat dalam pelayaran membingungkan ini
bagaimana harus kubedakan antara kebenaran dan kebatilan
antara kemilau cinta dan godaan nafsu
pelajaran aneh ini tak dapat kutelaah dalam kitab-kitab tafsir
namun kupasti di balik kerdipan matahatiku yang redup
ada alam hakiki dimana Tuhan bersemayam
dan kau adalah manikam paling berharga
yang pandai menyembunyikan khatulistiwa
di tengah samudera kasmaran

cinta kepadamu membuat semua bintang bersinar di langit,
bulan serta matahari jatuh sujud dalam sejadah mimpimu
cinta kepadamu memukau semua perempuan cantik di istana
persis ikan-ikan terloncat keluar dari sungai jernih
kerana tergila-gilakan kelibat wajah tampanmu
Yusuf, bawalah aku bersamamu
ke mana saja walau sampai ke benua ghaib
aku tak keberatan meninggalkan segala khazanah kerajaan
akan kutanggalkan segala gelang permata di tanganku
kerana hari ini aku benar-benar faham
cinta sejati adalah selendang halus ketuhanan
rahsia Ilahi hanya dapat diketahui dari dalam
inikah namanya Arafah
yang menemukan kehendak Tuhan
“Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi
Aku mahu DiriKu dikenali..”

Yusuf, akulah perempuan berdosa yang paling memalukan
berani melanggar adab membuka pintu kamarmu
hampir-hampir aku terpisah dari pautan selendangku
bak sehelai daun jatuh terkapar dari pohon
terombang-ambing disaput deras air gelombang dan badai lautan
kusanggup korbankan seluruh ragaku
namun akhirnya aku juga perempuan yang paling malang
lantaran gagal menawanmu sebagai bahtera sejati
tanpa kusedari telah kuragut jubah cintamu itu
dan aku tergamak mempurdahkan fitnah
demi terlalu takut dan malu dikecam hukuman dan kehinaan

benar Yusuf, penjaramu itu lebih kausukai
daripada pujuk kasih seorang perempuan
walau ditakhtakan di atas mahligai keemasan istana
terlanjur aku sudah pun membuka pintumu
berilah aku sedikit kesempatan dan kemaafan
untuk mencari tempat istirah di ambang fana kesengsaraan
kupasti sebelas bintang, matahari serta bulan
yang sujud di wilayah langitmu itu
kini kesemuanya ada di relung terdalam rahsia kalbuku

Menyulam Anggerik
(menyulam kenangan bersama ibuku Fatimah)

Kain alas meja yang baru saja kubeli dari toko, di permukaan
hiasannya

ada sulaman beberapa kuntum anggerik merah, daun-daun
dan tangkainya hijau. dahulu pasti ada tangan yang tekun
menyulamnya. kubayangkan dia perempuan yang saban
petang duduk bersimpuh di tepi pintu berandah

dan sekali pernah kusandarkan pipiku ke atas pangkuan
pehanya kerana pada waktu itu aku masih kecil dan ingin
melihat sesungguhnya apa yang ada di bawah kain yang diikat
dengan batas pemidang, tapi

yang kulihat hanyalah simpulan-simpulan benang yang kusut
dan celaru ditusuk oleh sebatang jarum.

“ibu membuat apa?” tanyaku pada dia dan dia tersenyum saja.
“ibu sedang melakarkan pola beberapa kuntum anggerik
merah, daun-daun dan tangkainya hijau.” lantas aku merasa
iri mengapa dia mencintai bunga dan daun, tidak seperti aku
yang gemarkan wajah monster.

“tapi ibu, di bawah ini tak ada pun pola anggerik dan daun,
hanya benang-benang kusut dan celaru.” aku merungut.

“anakku, kau harus lihat nanti hasilnya di atas kain ini, bukan
di bawahnya. pergilah teruskan kerja lukisanmu, sementara
ibu akan melanjutkan sulaman ini.”

beberapa jam kemudian, wajah monster sudah siap kulukiskan
di atas selembar kertas, makhluk ganas yang akan membuat
kerosakan dan membaham manusia-manusia di muka bumi.

dia pintas memanggilku, seraya senyum dia berkata, “lihatlah
anakku,
ibu pun baru saja selesai menyulam keindahan alam di atas
kain ini walaupun di bawahnya kau lihat benang-benang kusut
dan celaru.
begitu pun Tuhan di atas langit sana tetap juga merancangkan
apa yang terbaik bagi manusia, membangunkan syurga,
meskipun
manusia-manusia masih membuat kejahatan di muka bumi ini.”

ketika dewasa pernah aku bertanya dalam mimpi, “Tuhan,
apa sedang Kau lakukan sekarang?”

Tuhan pun menjawab, “Aku sedang menyulam anggerik merah,
daun-daun dan tangkainya hijau dari benang-benang amal solehmu
di muka bumi, nanti kau akan lihat sendiri hasil keindahannya
di atas syurga yang Kujanjikan.”

Munajah Putih Dalam Sajadah Panjang

Dia duduk di rumputan cinta
ruhnya bersatu antara nyanyian daun-daunan
syuhudnya menjelajahi udara bukit dan gunung
marilah wahai sayap seribu merpati
iringi munajah putihnya ke setiap benua
dialah Alif yang rindu
rindu mencari Nun Kekasih

Saksikanlah
sejalur sinar menjurus dari mata batinnya
membelah lapisan kabut
mengetuk pintu-pintu alam
gemersik nalurinya
semakin mengalir
dari gerbang sungai hasrat
angin sayup mengejutkan penghuni-penghuni rimba
nampakkah Nun Kekasihnya?

Sang serigala pun terkejut dari tidur
mengusap mata amarahnya yang merah
?celaka! dia baca puisi itu lagi!?

Saat ini sang gagak terpekik-pekik
memanggil kawanannya di hamparan uzlah
berlinanglah airmata sepanjang hijrah batin
memohon gerimis putih
dari langit membasuh amarah
tajallikanlah sayap undangan
ke Sanggar Nubuwah menghirup keindahan
rahsia yang terpendam di atma jiwa

?teruskan tafakurmu, Alif!
sambarilah malam putih ini
dengan nyanyian puisi munajahmu!?,
pesan sang gagak.

Rimba kelip-kelap
kelip-kelap
sang serigala meraung panjang
raungannya melampaui bukit dan lembah
menerjang kumpulannya yang masih leka
?oi! bangun! kalau kalian asyik tidur
alamatlah rimba ini menjadi Taman Lahut!
puisinya membawa musibah
ayuh! ancam seluruh penghuni rimba
dengan raunganku
agar tabir-tabir rimba ini
tidak tersingkap oleh tafakurnya!?

Kumpulan sang serigala menyusupi
ke celah-celahan rimba
kelip-kelap
kelip-kelap
dengarlah cabuk petir di langit
berdentum dan berderai
kata Muhammad
inilah perang yang besar
puisi putih menggamit hujan
hadirlah menyuci sang kekasih
walau bentuknya huruf
tapi batinnya alam

Dia harus sampai di Mahligai Pertama
menerima sambutan Nun Kekasih
inilah Alif
merentas duri-duri duniawi
lukanya perlu dirawat
dengan daun-daunan di Taman Lahut
dia fana dalam puisi kerinduan
mengukir nama Kekasih
meniti titian langit

Rimba kelip-kelap
kelip-kelap
gerimis turun membasahi rimba
Alif masih terbenam dalam dirinya
sang serigala digugat bimbang
hanya tinggal enam alam melawan tafakur
bagaimana kalau Alif terus-terusan menang
dan bisa menembusi sempadan terakhir itu
tiada siapa mampu mengejarnya ke sana
seluruh wujud akan musnah

Jauhkah lagi perjalanan
wahai Alif kekasihku
ini Nun Kekasih yang menanti
di Mahligai Pertama
sanggupkah kau bertempur
dengan sang serigala itu

Kutahu betapa sengsaranya kau
di rimba percubaan
amukilah sang serigala
yang menjadi tabir terakhirmu
kau bakal menyaksikan
matahari di seluruh lembah
percik di kulit air danau yang tenang
Aku hanya bisa kautemui
dalam ketenangan
Akulah keabadian itu

Datanglah Alif
walau tersayat tubuh dagingmu
putih darah melukis namaKu
akan Kusambutmu di Halaman Nubuwah
meniti panca persada
pada saat penyairku berintai-intaian

Di pedalaman masih kuperangi sang serigala
aku berdarah dalam hujan
rimba kelip-kelap
jeritan petir di langit berpanjangan
kutahu perjuangan ini sukar
namun kunyalakan jua
unggun percintaan

Akulah Alif
yang dijadikan dari anasir cinta
kusangkutkan mata ruh di pergunungan
batinku mengusap puisi putih
meninjau Nun Kekasih
Kaukah yang bersemayam
di balik hembusan nafasku
atau terlindung dalam insanku

Kekasih, kaudengarilah
derap hijrah batin
di hamparan uzlah
aku bersatu dalam titisan airmata sang gagak
hujan membasuh warna tubuhnya
akan kulayahkan sayapnya
kelak menjadi putih
dah singgah di Mahligai Pertama
sambutlah salam Alif

Alif yang sengsara
Alif yang fakir tanpa duniawi
pada dirinya hanya wujud
puisi munajah
dalam sajadah panjang

Alif kekasihKu
telah kaulayari malam putih ini
cuma sedikit lagi rahsia ini terbuka
kekalkah kau dengan jejakmu
sampai kapan petir berpanjangan
sampai kapan sang serigala menghalangmu
tak gerunkah kau dengan sang serigala
kawanannya telah semua kautewaskan
kini tinggal sempadan terakhir itu

Ah, kau harus sampai menerima sambutanku
dan kaupacu sang serigala itu
sebagai tawananmu

Kaulah Alif
yang mendukung takjub cinta-Ku
berahi dalam puisi
telah kaugoda langit, gunung, awan
rumput dan pasir
inilah ilham yang berbaur
di samudera kasihmu
membersit rindu
tidak sia-sia titis airmata
di sajadah sujud hamba
demi Keagungan

Tembusilah syuhudmu
di jendela ?ainul yakin
kalau kau bisa menatap kilauKu
akan kau kenal nikmat pertama
di Taman Lahut

Kubelai puisi putihmu
antara langit dan bumi
inikah munajahmu?

Alif kekasihku
petiklah mawar di Halaman Nubuwah ini
dan sematkan di jantungmu
ini Nun Kekasih
menggamitmu di pintu kota

Air yang kuteguk dalam tafakurku
menyejukkan pijar gurun
kukenal jua rahsia bahagia
pada cahaya air yang jernih
berkilau dalam makna puisiku

Ah, air wajah hatiku
terpendam rahsia di dalam
manikamnya insan
inilah Alif yang tunggal
mengukir cinta makrifat
ruhnya berlari
antara langit dan padang derita
nampahkah Nun Kekasih?

Kusapa sayap seribu merpati
sayapnya merebah di peraduanku
mengangkat munajahku
ke lapisan ketujuh
mengharungi kabut
inikah medan terakhir, Kekasihku?

ah, masih kunampak bayangan sang serigala
perjuangan ini tak akan selesai
selagi belum kubunuh sang serigala

Wahai rimbaku
menjelmalah Taman Lahut
dengan daun-daunan emas
rimba kelip-kelap
kelip-kelap
sampaikah aku di Mahligai Pertama-Mu?
cahaya di atas cahaya
hidupku mengenal makna
fana dalam nama dan kudrah-Mu

Kepada Mu Kekasih

Aku berserah
Kerana ku tahu Kau lebih mengerti
Apa yang terlukis di wajahku ini
Apa yang tersirat di hati
Bersama amali.

Kepada Mu kekasih

Aku bertanya
Apakah Kau akan menerimaku kembali
Atau harus menghitung lagi
Segala jasa dan bakti
Atau harus mencampakku ke sisi
Tanpa harga diri.

Hanya pada Mu Kekasih
Aku tinggalkan
Jawapan yang belum kutemukan
Yang bakal aku nantikan
Bila malam menjemputku lena beradu

Kepada Mu Kekasih
Aku serahkan
Jiwa dan raga jua segala-galanya
Apakah Kau akan menerima
Penyerahan ini
Apakah kau akan menerimaku
Dalam keadaan begini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *