Pencarian Kepahlawanan Lewat Komik

Syifa Amori
jurnalnasional.com

Genre komik dalam seni rupa patut diperhitungkan karena kemampuannya memuat tema yang substansial dengan daya tarik tersendiri.

Setelah selama 12 tahun dari SD hingga SMP, bahkan SMA, murid sekolah di Indonesia dihadapkan pada sosok-sosok pahlawan yang berkorban demi tanah air dalam buku pelajaran sejarah mereka. Kini, mahasiswa Harvard, Mark Zuckerberg yang menemukan dan membuat facebook mendadak juga dirasa bagai pahlawan. Berkat penemuannya, interaksi sosial dan komunikasi lintas benua dapat dilakukan dengan mudah. Continue reading “Pencarian Kepahlawanan Lewat Komik”

Mengaranglah Sampai ke Amerika

Binhad Nurrohmat
Pikiran Rakyat, 12 Jan 2008

Pada sejumlah pengarang kita mengarang karya ketika berada di negeri lain serta terilhami kenyataan manusia dan kebudayaannya, misalnya Rendra (Blues untuk Bonnie, 1971), Umar Kayam (Seribu Kunang-Kunang di Manhattan, 1972), dan Budi Darma (Olenka, 1983).

Para pengarang dan karyanya yang berjelajah lintas-budaya ini merupakan sebagian jejak prestasi “kosmopolitan” kesusastraan kita. Para pengarang ini mengarang karya tentang kenyataan manusia dan kebudayaan di negeri sendiri maupun negeri lain, yaitu Amerika, dengan mutu literer dan kadar kepekaan persoalan yang mengagumkan. Continue reading “Mengaranglah Sampai ke Amerika”

Tetanggaku Cina

Weni Suryandari
http://oase.kompas.com/

?Ma……..Mama, Bu Mita udah pulang!? celoteh yang biasa kudengar setiap kali aku baru pulang mengajar dan baru mau membuka pintu pagar. Rumah yang terletak di hadapan rumahku itu selalu ramai dengan celoteh anak-anak kecil, si kembar dan si bungsu. Ketiganya laki-laki semua.

Aku menengok dan tertawa melihat celoteh mulut-mulut kecil itu. Mereka berebutan naik ayunan bahkan celah-celah pagar untuk bisa mengintipku dari balik pagar yang ditutupi fiberglass
?Iya, kenapa sayang? Ibu masuk dulu, ya?? Aku menyahut sambil membuka pagar. Continue reading “Tetanggaku Cina”

Gerimis Senja di Jendela

Abdullah Khusairi
http://www.jawapos.com/

Kau tandai malam itu di dadaku. Hingga membekas dan terasa sampai kini. Maka rindu ini kian rindang saja. Rindang tak berbuah. Pun seorang, tak ada yang tahu tentang itu selain aku. Dan malam-malam aku mengisahkan sendiri bagaimana getar-getar jiwa menyatu malam itu.

Aku menulis sisa-sisa dari hidup yang pernah terbingkai bersamamu. Bingkai yang kecil. Kecil sekali. Tak patut disebut sejarah bagi siapa saja, apalagi bagi negeri ini. Continue reading “Gerimis Senja di Jendela”

Bahasa ยป