Pergeseran Pola Puitik Dari Chairil Anwar Menuju Arief B. Prasetyo

Ribut Wijoto
sinarharapan.co.id

Ketika sedang suntuk mempelajari kembali puisi Chairil Anwar, saya tiba-tiba teringat Hugh Trevor-Roper, sejarawan yang membahas historiografi abad ke delapan belas. “Prestasi yang dicapai oleh sejarawan abad ke delapan belas sangat luar biasa”, tulisnya dalam buku The Listener (1977). Abad ke-18 telah semena-mena terhadap data dan peristiwa sejarah. Segala yang terjadi di masa silam dinilai dan ditafsirkan dengan norma dan realitas masa sekarang. Seolah-olah nilai masa sekarang bersifat mutlak dan masa silam bersifat relatif.

Semena-mena, sejarawan abad ke-18 tidak akan pernah sampai pada “apakah yang sesungguhnya terjadi di masa silam”. Mengapa seseorang, di masa silam, melakukan tindakan perang, bertobat, atau bunuh diri. Sejarawan abad tersebut tidak sedang berbicara untuk masa silam. Tujuan penelitian sejarah ada pada masa kini. Masa silam hanya kambing hitam untuk gagasan masa kini. Masa silam telah diperkosa. Tetapi begitulah, setiap perkosaan senantiasa menimbulkan kejutan, kenikmatan, pembisuan, dan ketegangan. Tergelar berbagai konsekuensi berkat pemerkosaan. Kemungkinan-kemungkinan yang sebelumnya terkunci rapat, dan tidak terperkirakan, bisa terbuka lebar, bahkan setiap orang dapat memasukinya. Aku, kita, dan mereka menjadi asing karena perkosaan.

Kesuntukan tiba-tiba menipis, saya mengalami pergeseran cara berpikir. Chairil Anwar, penyair yang semula saya posisikan sebagai artefak, data sejarah, berubah menjadi penyair yang berproses di kekinian. Puisi-puisi Chairil Anwar, saya anggapkan ditulis di masa sekarang, ditulis bukannya di masa silam. Saya akan semena-mena, seperti juga sejarawan abad ke delapan belas, terhadap puisi Chairil Anwar, agar saya memperoleh sesuatu yang tidak terkirakan. Konkretnya, saya akan membandingkan puisi Chairil Anwar dengan puisi yang benar-benar ditulis di masa sekarang. Pilihan jatuh pada puisi Arief B. Prasetyo, seorang penyair yang dikenal dengan antologi Mahasukka (terbitan Indonesia Tera, 2000).
***

Mempersandingkan puisi Chairil Anwar dengan Arief B. Prasetyo, saya menemukan adanya greget personalitas dalam merakit kata. Kedua penyair seakan saling berlomba menciptakan situasi garang dalam puisi. Kata-kata berkesan tegang, liar, kuat berotot, dan diliputi semangat individual. Ekspresi yang menekankan konflik kejiwaan manusia. Puisi seperti di tempatkan sebagai sarana mempertunjukkan kedirian berlumur persoalan pelik. Keindahan puisi diraih melalui problem, sejauh mana puisi mampu memberi gambaran amat personal atas pengalaman “kebrutalan” hidup manusia. Arief B. Prasetyo dan Chairil Anwar sama-sama menebarkan kebrutalan teks puisi.

Pembukaan puisi “Aku” dari Chairil Anwar: Kalau sampai waktuku, “Ku mau tak seorang kan merayu, Tidak juga kau.” Arief B. Prasetyo membuka puisi “Mahasukka” dengan kalimat: Di pinggulmu selusin sayap ingin mengerjap, kunang-kunang terbang, menikung, mengiang, membandang, terus, terus, cepat, ringkus, remas, hempas, keras-keras, jadi jerit bianglala yang terkulai di telaga, yang terberai, terkapar mengagapai-gapai akar darah. Kedua puisi sama-sama merepresentasikan kegalauan kejiwaan manusia di tengah kehidupan, sungguh ironis, yang juga galau.

Chairil Anwar memberi gambaran keinginan untuk tidak mau terganggu oleh siapa pun. Kedirian mutlak, tanpa tekanan dan keterlibatan lain-lain pihak. Chairil Anwar, besar kemungkinan, memilih masuk ke wilayah eksistensialisme. Manusia melakukan tindakan karena ia ingin melakukannya, bukan karena ada orang lain menyuruh atau mengkondisikan. Kemerdekaan pribadi “aku”.

Gambaran puisi Arief B. Prasetyo terbalik dari puisi Chairil Anwar, kedirian tokoh dalam puisi menyebabkan berbagai pengaruh terhadap lingkungan. Manusia membuat segala makhluk ingin mendekat, terlibat aktif, dan berguna. Pesona manusia menciptakan ketergantungan gejolak adegan. Manusia menjadi pusat dari gerak lingkungan. Antroposentrisme, manusia sebagai pusat alam semesta. Tokoh dalam puisi Arief B. Prasetyo “terlibat” dalam lingkungan dan menentukan arah “nasib” lingkungan.

Keakanan puisi dalam terjadi dalam Chairil Anwar. Kalau sampai waktuku, ku mau, kalimat ini menandakan peristiwa masih belum terealisasi. Angan baru hendak menciptakan peristiwa. Berlainan dengan puisi Arief B. Prasetyo, peristiwa terjadi dalam keakanan bercampur kekinian. Selusin sayap ingin mengerjap, kunang-kunang terbang, kalimat ini memiliki dua tingkat waktu. Tahap pertama adalah keakanan dan tahap kedua adalah kenyataan sekarang. Batas tegas antara keakanan dan kekinian mungkin dihindari oleh Arief B. Prasetyo. Keduanya menggelibat bersamaan. Teks puisi yang berupa adonan keakanan dan aktualitas.

Perbedaan konsepsi waktu dalam teks puisi dari kedua penyair membuat puisi Arief B. Prasetyo tampak lebih kompleks di dalam menyajikan peristiwa. Chairil Anwar mengisyaratkan, “saya adalah personal tertentu dan saya ingin menciptakan kondisi tertentu”. Arief B. Prasetyo mengisyaratkan, “saya adalah personal tertentu, ingin menciptakan kondisi tertentu, dan saya sedang terlibat dalam peristiwa tertentu”. Lebih jauh lagi, Arief B. Prasetyo menandaskan kurang adanya perbedaan antara keinginan dan kenyataan.

Pilihan waktu konvergentif atau campuran pada puisi Arief B. Prasetyo didukung oleh campuran diksi (pilihan kata) yang variatif. Bermacam kata dengan lingkungan yang berbeda dipadukan dalam membentuk pernyataan kenyataan. Misalnya kata “pinggul”, barang dari tubuh manusia yang berbentuk bulat simetris dan bernuansa sensual, dipertautkan dengan “kunang-kunang”, barang dengan lingkungan hewani yang keluar saat malam dan “sebagai orang Jawa, saya percaya” kunang-kunang bernuansa kematian. Saya kelelahan ketika membayangkan kerumitan penciptaan puisi Arief B. Prasetyo. Konsentrasi tema dan perspektif yang kuat dibutuhkan agar campuran kata tidak mengalami keterpecahan atau non-kesinambungan.

Chairil Anwar juga melakukan keberanian dalam memilih kata. Hanya saja, keberanian Chairil Anwar terasa bersahaja bila dibandingkan dengan kerumitan puisi Arief B. Prasetyo. Hanya saja lagi, kebersahajaan Chairil Anwar didukung oleh strategi fonologis. Penghilangan satu-dua abjad di dalam kata. Misalnya kata “aku” cukup ditulis dengan “ku”, kata “akan” ditulis “kan”, dan kata “tidak” cukup ditulis “tak”. Kekentalan peristiwa mendapat dukungan fonologis.

Dua bentuk keberanian proses perakitan kata, Chairil Anwar yang berani menyingkat kata dan Arief B. Prasetyo yang berani mencampurkan kata, bukannya tidak berpengaruh terhadap ilustrasi kenyataan. Masing-masing kenyataan dalam puisi Arief B. Prasetyo mengandung beberapa kenyataan bawahan. Kenyataan terdiri dari serangkaian, memang lebih tepatnya jalinan, kenyataan-kenyataan lain. Tercipta sebuah kenyataan pluralis. Kenyataan mewakili dirinya sendiri sebagai identitas khusus, dan bersama-sama dengan kenyataan lain, kesemuanya membentuk kenyataan baru. Ini produksi jalinan kenyataan yang berbeda dengan produksi kenyataan dalam puisi Chairil Anwar.

Penyingkatan fonologis oleh Chairil Anwar, menciptakan satu kenyataan yang padat, menggumpal, ketat ekspresi, serta tatanan utuh. Chairil Anwar seakan tidak ingin kenyataan puitik hasil ciptaannya terkontaminasi oleh identitas kenyataan bawahan. Chairil Anwar percaya terhadap kenyataan tunggal, tempat terwujud kegalauan jiwa manusia. Artinya, penafsiran atas kejiwaan manusia terfokus dalam satu kenyataan. Kepadatan kenyataan. Mungkin inilah keinginan Chairil Anwar, membuka penafsiran dari ketunggalan kenyataan. Ibarat sebuah kilatan petir, peristiwa sekilas yang memacu berbagai macam penafsiran justru karena ketidak-lengkapan peristiwanya. Apa latar peristiwa, terjadi pada siapa, berdomisili di mana; bergantung kepada isian pengalaman jiwa manusia yang tentu saja berbeda-beda. Ambiguitas, rangkap-rangkap penafsiran yang dimungkinkan oleh kekhususan teks puisi Chairil Anwar.

Ambiguitas juga, saya percaya Arief B. Prasetyo menyadari dan sengaja melakukan, yang terjadi pada puisi “Mahasukka”. Satu kenyataan dalam puisi Chairil Anwar adalah ambigu. Setiap kenyataan dalam puisi Arief B. Prasetyo juga ambigu. Kalimat, di pinggulmu selusin sayap ingin mengerjap, memustahilkan penafsiran laten. Sejumlah makna dapat dimasukkan dalam kenyataan yang dibentuk oleh kalimat tersebut. Penafsiran menjadi bertingkat-tingkat ketika satu kenyataan dijalin dengan kenyataan lain yang juga bermuatan ambigu. Tingkatkan penafsiran makin semakin ambigu ketika jalinan kenyataan membentuk sebuah kenyataan besar. Jalinan kenyataan. Jalinan makna, berbagai penafsiran dimungkinkan oleh teks puisi Arief B. Prasetyo.

Kecuali perbedaan pola kenyataan, Chairil Anwar dan Arief B. Prasetyo memiliki cara berbeda untuk menarik minat pembaca dalam memproduksi penafsiran. Puisi menyediakan perangkap yang mengikat pembaca untuk betah, bahkan mengulang-ulang pembacaan, dan melakukan apresiasi teks. Semacam perawan yang mendandani badan dengan beragam aksesoris dan aneka kosmetik, ada satu tujuan terselip, agar lawan jenis betah atau bergairah memandang sembari melakukan tindakan-tindakan apresiatif. Membaca puisi, seseorang seperti memasuki wilayah privasi penuh rambu-rambu dan tanda seru. Kesadaran tersedot dan kegairahan tafsir bangkit.

Arief B. Prasetyo merajuk pembaca melalui rentetan gelora ilustrasi. Bermula dari pinggul, semua orang tahu “pinggul” merupakan bagian tubuh berdaya sensual tinggi, pembaca diajak berkeliling ke tempat-tempat teatrikal. Di situ ada selusin sayap ingin mengerjap, ada kunang-kunang terbang, menikung, dan membandang. Di situ, di pinggul itu, ada gerak remasan, hempasan, ada ringkusan, dan ada yang terkapar menggapai-gapai akar darah. Dari tempat yang semula akrab, adakah orang yang tidak mempunyai pinggul, pembaca ditarik ke tampat-tempat asing dengan kejadian-kejadian asing. Dimensi pengalaman pembaca tersentak. Pengalaman yang melampaui kenyataan konkret, tetapi terjadi dan bermula dari bagian tubuh yang sangat akrab dengan setiap laju kehidupan.

Melalui kepadatan kata-kata, Chairil Anwar membetot keangkuhan jiwa pembaca. Keinginan menikmati kesendirian. Kebebasan mutlak; tanpa seorang pun mengganggu, terlibat, dan merayu pun tidak. Penajaman ilustrasi jiwa dalam puisi Chairil Anwar potensial merangsang pembaca menimbang-nimbang langkah tempuh, menjadikannya sebagai bahan renungan mengambil sikap hidup. Setiap orang menginginkan kebebasan, sama besarnya dengan keinginan mendapat pelayanan orang lain. Chairil Anwar berhasil menajamkan salah satu keinginan tersebut sehingga menutup antitesis keinginan pertama. Reduksi terjadi, maksimalitas sekaligus, atas kenyataan. Pembaca pun terprovokasi untuk melakukan penafsiran teks.

Bila diperbandingkan dengan puisi ciptaan Arief B. Prasetyo, pola perangsangan makna dalam puisi Chairil Anwar tampak bersahaja. Puisi Arief B. Prasetyo pun dapat dibaca dengan cara memahami puisi Chairil Anwar. Beberapa peristiwa dalam “Mahasukka” merupakan hasil redukasi, sekaligus maksimalisasi, terhadap kenyataan jiwa manusia. Misalnya, jiwa yang menjerit serupa bianglala di telaga, atau jiwa yang terkapar menggapai-gapai akar darah. Chairil Anwar hanya menggunakan satu ekspresi jiwa. Sedangkan Arief B. Prasetyo, beberapa ekspresi jiwa dipertontonkan.

Pengalaman yang lebih luas digelar oleh puisi Arief B. Prasetyo. Sebaliknya, pola tamasya peristiwa dalam puisi Arief B. Prasetyo tidak dapat diperlakukan terhadap puisi Chairil Anwar. Kapasitas puisi Chairil Anwar terlalu bersahaja, atau tidak tersediakan tempat bagi pusaran makna.

Motivasi ?kata? dalam puisi Arief B. Prasetyo dan puisi pun berbeda. Chairil Anwar menggunakan kata secara langsung merujuk pada penciptaan pikiran. Pembaca dihadapkan pada kondisi tusukan kejiwaan. Misalnya, ku mau tak seorang kan merayu. Puisi Chairil Anwar tidak menyisakan kesempatan bagi basa-basi. Puisi Arief B. Prasetyo, pada akhirnya, memang ditujukan pada pikiran. Hanya saja arah jalan yang ditempuh sedikit melingkar. Kata dipergunakan sebesar-besarnya untuk mencipta gambar atau adegan. Misalnya, di pinggulmu selusin sayap ingin mengerjap. Hasil dari gambar atau adegan itulah yang menjadi referensi menuju pikiran. Melalui kelangsungan motivasi kata, tanpa penundaan seperti puisi Arief B. Prasetyo, kebersahajaan puisi Chairil Anwar makin kentara.
***

Apakah dengan perbedaan karakter puitik, Chairil Anwar yang bersahaja dan Arief B. Prasetyo yang berlimpahan, menjadikan satu dari keduanya lebih indah atau muatan estetikanya lebih tinggi? Saya hanya memastikan, kedua penyair memiliki perbedaan gaya pengucapan.

Penggunaan perangkat puitik yang berlimpahan, bisa jadi, sumber penting pengalaman jiwa. Kebersahajaan pengucapan, bisa jadi, cara tepat pengungkapan jiwa. Keduanya berbeda seperti perbedaan karya sastra bentuk haiku dengan karya sastra bentuk novel. Karya pertama terdiri hanya tujuh belas suku kata. Karya kedua terdiri dari puluhan ribu bahkan ratusan ribu suku kata. Sulit dipastikan, manakah lebih indah dari keduanya.

Tulisan ini hanya berpretensi pada cara wajar memandang penyair dan ciptaannya. Puisi bisa bebas untuk ditafsirkan. Puisi bebas juga diproduksi ulang. Saya kurang bersepakat dengan perhatian berlebihan terhadap penyair. Tindakan tersebut hanya akan memposisikan penyair dan karyanya sebagai mitos.

Saya bergembira, tulisan ini meyakini “puisi Chairil Anwar tidak lebih bagus atau lebih buruk dari puisi Arief B. Prasetyo” dan dari penyair lain. Lebih bergembira lagi, tulisan ini meyakini adanya pergeseran, mungkinkah ini sebuah perkembangan, konsepsi estetika dalam kepenyairan pasca-Chairil Anwar.

Surabaya, 2002

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *