Benang Merah Perkembangan Sastra Ide

Lies Susilowati
suarakarya-online.com

Ketika massa nekrofilis (pencinta kematian) sedang memenuhi jalan raya di negeri ini, diam-diam di toko buku dan perpustakaan telah tersedia buku-buku tentang Marxisme dalam bahasa Indonesia.

Di samping itu, buku-buku Tan Malaka diterbitkan juga dalam bahasa Indonesia masa kini.

Yang lebih menyenangkan, disamping Marxisme, ada juga terjemahan Indonesia buku-buku mengenai eksistensialisme. Nietzsche memasuki dunia pustaka kita dalam bentuk buku berbahasa Indonesia.

Demikian pula ‘Mite Sisifus’ dan ‘Pemberontakan’ karya Albert Camus. Kedua buku Camus berbahasa Indonesia ini menyusul novel The Stranger yang beberapa tahun yang lalu sudah diterjemahkan oleh Max Arifin (penerjemah “Pemberontakan”).

Kerja keras menerjemahkan buku-buku yang merubah dunia ini yang sesuai dengan keinginan pujangga Takdir Alisyahbana almarhum, selain terlambat, juga patut dikatakan masih dalam tarap awal.

Pekerjaan rumah kaum intelektual bangsa ini masih banyak dan berat. Bangsa yang memakai bahasa terbesar nomor empat di dunia ini, terus terang saja masih buta filsafat Barat dan sastra dunia yang berisi ide-ide filsafat. Ini kesalahan pendidikan kita, baik pendidikan menengah dan tinggi.

Akibatnya generasi muda kita yang penuh di jalan raya mudah menjadi celengan berkaki dua, otomaton yang berkerumun menjadi monster. Bila dilihat dari helikopter dan ketinggian langit humaniora tampaknya seperti amuba yang sangat berbahaya. Monster anti biofili sedang gentayangan di negeri ini. Human error yang membawa bencana kemanusiaan bercampur dengan bencana alam.

Ketika bangsa ini sedang menghadapi bencana banjir, tanah longsor, gempa, kebakaran hutan, datang lagi bencana yang dibuat oleh ide mutlak di kepala dan benak yang memerintahkan tangan untuk membakar dan membom kebudayaan material bangsa (kantor, mall, pabrik, rumah tinggal, rumah sakit, panti asuhan dll) menyiksa batin dan membunuh raga.

Ada pula buku baru yang sering disebut-sebut oleh kolumnis kita di sana sini (antara lain oleh Gus Dur, mantan Presiden RI) yaitu ‘Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme’, karya besar Max Weber.

Menurut Gus Dur etika ini ada juga dalam Islam. Jika benar demikian maka kedua agama yang berasal dari keturunan Nabi Ibrahim ini mempunyai titik sandar yang sama, bukannya potensial menjadi predator satu sama lain.

Dunia telah mengenal benang merah panjang, mulai dari alienasi Adam dan Hawa di luar Firdaus yang diajarkan agama-agama samawi, terpisahnya fenomena dan noumenanya Kant, Hegel dengan Ide Absolut (Logos, God, Tuhan) yang teralienasi menjadi manusia yang kesadarannya terbenam ke dalam kesatuan besar pemikiran ideal (terlebur ke dalam sejarah massa), pelacurnya Moses Hess yang faktor reproduksinya (seksnya) diasingkan menjadi komoditi dan diberi harga sebagai barang ekonomi, Fueurbach dengan Manusia adalah subjek dan Tuhan adalah predikat, sampai kepada Marx yang mengatakan bahwa manusia proletar itu adalah manusia yang tenaganya (faktor produksinya) tercerabut, terasing, menjadi milik kaum kapitalis.

Untuk kembali kepada dirinya (untuk menghilangkan alienasi itu), manusia proletar harus mengadakan revolusi proletar. Ini artinya menghalalkan pembunuhan.

Titik sandar eksistensialisme adalah nasib manusia individu. Kesibukan batin seorang eksistensialis berputar-putar di sekitar kesunyian, duka nestapa dan keraguan manusia.

Itulah semua kebenaran eksistensial. Semuanya ada dalam diri manusia individu dan bukan dalam massa. Beban penderitaan manusia (salib) dipikul oleh Kierkegaard dengan kemampuannya yang terbatas, menggiring jalan sengsara Kristus menuju kematian dan kebangkitan.

Berbeda dengan Kierkegaard Nietzsche mengatakan bahwa kalau Tuhan yang demikian itu (Tuhan yang menciptakan kesunyian, gempa bumi, banjir, peperangan, duka nestapa, nausea dan keraguan yang maha berat itu) harus dibunuh, diganti dengan superman. Tuhan (moralitas) harus dibuat nihil (nol, tiada). Nihilisme Nietzsche ini sangat mempengaruhi Hitler. Sementara itu, Mussolini dipengaruhi oleh Hegel.

Keduanya menenggelamkan manusia individu ke dalam lautan massa yang mengalir secara dialektis dalam sejarah bagaikan listrik tanpa peduli pada batin manusia individual yang menderita peperangan, ketakutan, kelaparan dan putus asa. Camus, menemukan dalam kesadaran kehidupan kendala eksistensial yang disebutnya absurd wall (tembok absurd).

Ini adalah nama lain dari salib pada dunianya Kierkegaard. Namun, Camus tetap memenej kendala (absurditas) itu dalam panggung kehidupan.

Di atas panggung kehidupan ini ada tiga tokoh dramatis yaitu kesadaran manusia, dunia di depan kesadaran itu dan kendala yang timbul ketika kesadaran ingin bersatu dengan dunia. Ia tidak ingin membunuh salah satu dari tiga tokoh drama kehidupan itu. Ia mengritik keras loncatan imannya Kierkegaard yang dikatakannya sebagai bunuh diri secara metafisik karena hanya mencemplungkan diri ke dalam absurditas (ke dalam kontradisi dan kemustahilan).

Camus sendiri hanya sampai kepada kesadaran. Dia sadar bahwa dia fana dan karena itu dia merdeka.

Hanya itu. Tanpa akhirat dan hanya memilih melakukan tarian moral di panggung kehidupan, dengan tidak menolak Tuhan sebagai noumenon (sparring partner fenomenon). menolak bunuh diri dan membunuh orang atas dasar tuntunan hatinurani. Ia malah mengeritik Sartre. Bilamana Sartre memegang sebuah batu, esensinya lenyap, diganti dengan eksistensi murni: suasana batin yang merasakan kefanaan, kepercumaan dan nauseating.

Semua ini adalah suatu permulaan bagi seseorang eksistensialis untuk menciptakan dirinya sendiri melalui pilihan yang bebas, sebebas musik jazz yang berkelanjutan tanpa akhir.

Yang dikritik Camus adalah pilihan Sartre untuk engage dengan revolusi berdarah. Sartre dielu-elukan di Tiongkok ketika ia mengunjungi negeri itu.

Terjemahan Indonesia karya-karya filsuf dan sastrawan eksistensialis dunia belum banyak. Maksudnya eksistensialisme ke Indonesia hanya melalui karya segelintir sastra ide (esei, cerpen, novel dan puisi). Pertempuran antara Lekra dan Manikebu dulu adalah pertempuran antara Marxisme versus Eksistensialisme religius tetapi sayang setelah seorang kopral memimpin negeri ini, timbul pembiaran pada religi bergerigi politik, bertaring fanatisme dan premanisme bernyala-nyala membakar membom. Iman yang dinamis telah dihanguskan oleh terorisme individual dan golongan yang lahir dari aktivisme massal tanpa refleksi.
***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *