BENGKALIS NEGERI ZAPIN*

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Datanglah ke Bengkalis dan bertanyalah tentang zapin. Maka boleh jadi, sesiapa pun warga masyarakat di sana, akan menjawabnya enteng saja, seperti seseorang yang mewartakan identitasnya. Tetapi boleh jadi juga jawabannya panjang lebar, lengkap, sambil sekalian menunjukkan sejumlah gerakan yang khas, yang gemulai, yang rancak atau yang patah-patah, meski sangat berbeda dengan breakdance. Antusiasme! Itulah kesimpulan yang akan kita peroleh ketika pertanyaan tentang zapin jatuh di Bengkalis. Zapin bagi masyarakat Bengkalis, bahkan juga bagi masyarakat pesisir Semenanjung Melayu adalah denyut nadi dinamika kehidupan mereka. Maka, bagi masyarakat Bengkalis, tidak mengenal zapin dan tak memahami dinamikanya adalah sesuatu yang sungguh keterlaluan.

Di berbagai wilayah pesisir di kepulauan Nusantara, zapin memang sejak lama telah dikenal baik, meski sebutan dan sejumlah gerakannya memperlihatkan variasi yang beraneka ragam. Bagi penduduk Bengkalis dan warga beberapa pulau di sekitarnya, keakraban mereka dengan zapin nyaris tidak ubahnya seperti mereka mengenal pantun. Bukankah pantun merupakan salah satu ikon Melayu yang di sana ada filosofi, simpul ingatan kolektif, dan elan dalam menjalani kehidupan. Zapin juga demikian. Di sana ada filosofi, ekspresi kultural, dan pantulan kehidupan keseharian masyarakat yang diwujudkan lewat sejumlah nama ragam gerakan-gerakan zapin yang sangat khas Melayu. Maka, kita akan terpukau oleh gerakan ?atau sejenis jurus dalam silat?ragam pusau belanak besar, pusau belanak kecil, lompat injut, alif, kopak, titi batang, anak ayam patah, siku keluang, sut patin, pusing tengah, atau ragam wainap.

Dalam sejumlah gerakan itu, secara kasat mata, kita akan melihat, bahwa di sana ada kelenturan, kehalusan, dan keindahan, bahkan juga sampai pada gerakan kaku, patah-patah, dan akas. Tetapi di balik itu, ada filosofi dan pandangan hidup. Sebutlah, misalnya gerakan Selo Sembah sebagai salam pembuka. Selepas itu, tampillah sang penari zapin membawakan gerak melangkah dari satu alif, sebuah gerakan sut tiga kali ke depan, sut di tengah satu sebanyak lima kali. Itulah awal permulaan menari. Lalu apa maknanya? Gerakan ini sesungguhnya simbolisasi rukun Islam yang kelima. Gerakan itu segera dilanjutkan dengan alif dua dengan langkah sut depan dua kali dan sut tengah satu kali sebanyak dua kali. Itulah simbol penari bermohon izin hendak menunjukkan (kepiawaian) tariannya yang dilandasi sikapnya sebagai Muslim, yaitu berteguh pada keberimanannya: menempatkan al-Quran dan Hadist sebagai langkah menjalani kehidupan.

Sebagai bagian yang tak terpisahkan dari puak Melayu, Bengkalis selain mengenal pantun dengan sangat baik, juga menempatkan zapin sebagai ikon. Tentu saja klaim itu tidak serta-merta muncul begitu saja. Ada sejarah panjang yang menyertainya; ada ruh budaya yang mendekam dalam jiwa dan filosofinya; ada harapan di depan dan hasrat membangun marwah Bengkalis sebagai bagian dari pandangan dunia Melayu. Dan zapin seperti merepresentasikan gelora semangat itu.
***

Bengkalis adalah sebuah pulau kecil yang dikelilingi eksotisme alam dengan hamparan laut yang memagarinya. Secara geografik, Bengkalis berdepan dengan Selat Melaka. Dalam posisi itu, Bengkalis leluasa memainkan peranannya sebagai kunci Selat Melaka (Key of the Malacca Strait). Posisinya yang sangat strategis itu tentu saja menjadi begitu penting sebab ia juga sekaligus berada dalam jalur segi tiga pertumbuhan ekonomi: Indonesia?Malaysia?Singapura, dan atau juga segi tiga Indonesia?Malaysia?Muangthai. Kesadaran sebagai wilayah laluan hubungan perdagangan menjadikan Bengkalis sebagai wilayah yang harus senantiasa siap memainkan peranan sebagai salah satu bagian dari teras kepulauan Sumatera, wilayah yang berada di garda depan, sebagai pelaku, dan bukan penonton; sebagai subjek dan bukan objek.

Dalam bidang kebudayaan, khasnya kesenian, Bengkalis harus bersikap dan menyikapi terjadinya akulturasi sebagai sebuah keniscayaan. Maka, inkulturasi juga merupakan keniscayaan yang disadari telah menjadi bagian dari penyikapan masyarakat Bengkalis dalam menerima dan memberi ihwal berjalin-kelindannya kebudayaan sendiri dalam berhadapan dengan kebudayaan asing. Dan zapin merupakan salah satu produk budaya dari proses yang rumit dan tidak sekali jadi. Oleh karena itu, zapin Bengkalis juga punya kekhasannya sendiri.

Kononnya, zapin berasal dari bahasa Arab: zafn, zafan yang bermakna gerak atau langkah (kaki), melangkah, zaf (alat petik berdawai 12), dan al-zafn dimaknai sebagai mengambil langkah atau mengangkat satu kaki. Kesenian ini mula diperkenalkan para gujarat dari Hadramaut, Yaman ketika mereka berdagang sambil menyebarkan agama Islam. Ketika itulah mereka mempertunjukkan sebuah tarian yang sarat dengan gerakan kaki menghentak-menggelora yang lazim mendasari model irama tarian Padang Pasir. Gerakan tarian itu diiringi pula oleh nyanyian yang syair lagu-lagunya berisi pengagungan kepada Allah SWT dan salawat atau ungkapan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. Itulah model zapin yang awal. Ia menyebar di daerah-daerah pesisir di kawasan Semenanjung Melayu ke daerah pesisir Jawa sampai ke wilayah Kalimantan. Di wilayah-wilayah itu, zapin lazim dimainkan dalam perhelatan yang bersifat keagamaan, seperti peringatan hari besar Islam atau pada pesta perkawinan, khitanan, syukuran, atau perayaan desa yang diadakan sebagai pesta rakyat.

Adapun alat-alat musik pengiringnya yang lazim digunakan adalah gambus (terutama gambus selodang), beberapa buah gendang, marawis (marakas), dan rebana. Tentu saja alat-alat musik itu sebagai perlengkapan dasar. Sangat mungkin dalam perkembangannya, sesuai tuntutan zaman, akan masuk pula alat musik lain, jika gerak tari zapin memerlukannya. Maka, kini zapin banyak juga yang kemudian diiringi alat-alat musik lain, seperti suling, biola, akordion, dumbuk, harmonium.
***

Seperti juga kesenian lainnya dari kebudayaan bangsa asing yang disebarkan di wilayah Nusantara, proses akulturasi terjadi secara alamiah. Pengubahsuaian segala yang datang dari kebudayaan asing itu, selain menegaskan keinginan menerima dan sekaligus mempertahankan tradisi setempat sebagai ekspresi dari inklusivisme mereka, juga menunjukkan kreativitas masyarakatnya. Jadilah segala kesenian?kebudayaan yang datang dari luar itu memperoleh kemasan baru yang sesuai dengan karakteristik lingkungan keberadaan mereka. Bahkan, tidak hanya itu, ruh, jiwa, dan semangat sebagai substansi berkesenian mereka, diolah sedemikian rupa dengan sangat kreatif. Ia lalu menjelma menjadi sebuah produk kesenian yang lebih kaya dan cerdas, lebih memesona dan menyihir, dibandingkan kesenian aslinya!

Zapin yang diperkenalkan dengan gerakan-gerakan yang berulang dan dengan segala kesederhanaannya itu, diterima sebagai karakteristik dasar. Tetapi lalu, dikembangkan dengan berbagai variasi geraknya, ditaburi sejumlah kebaruan, disusupi jiwa, ruh, dan semangat kultur lokalitas dan lingkungan tempatan, dan dijadikan sebagai salah satu sarana dakwah ketika syair-syair lagunya didendangkan. Di sanalah mengeram elan vital kultur tempatan yang memancar dalam berbagai variasi gerak. Lalu muncullah klaim-klaim sebagai legitimasi kreativitas senimannya.

Secara konvensional, struktur zapin bergerak dalam tiga bagian, yaitu bagian awal sebagai salam pembuka atau disebut juga Selo Sembah. Itulah ekspresi penghormatan setiap langkah apa pun dalam berhadapan dengan sesiapa pun. Bagian tengah sebagai gerakan inti yang dilakukan berulang-ulang atau pecahan gerak dan lenggang tari, dan bagian akhir sebagai salam penutup. Pada bagian salam pembuka, penata tari yang kreatif sering kali memberi ruang bagi penari untuk melakukan improvisasi, meski dengan tetap mempertahankan pakem. Begitu pula pada bagian tengah, masih dimungkinkan adanya usaha menyelusupkan gerakan tertentu yang merepresentasikan kegiatan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, zapin seperti mensyaratkan adanya kesamaan dalam pakem: pembuka?bagian tengah?dan penutup, tetapi kaya dengan perbedaan berbagai variasi geraknya.

Mengingat di sana juga ada semangat untuk menunjukkan kreativitas, maka selalu ada variasi gerak yang khas yang membedakan tarian zapin dari satu daerah dengan zapin dari daerah lain. Di situlah sesungguhnya keanekaragaman variasi gerak zapin memperlihatkan keberbedaan dan kekayaan local genius wilayah budaya tempatan, termasuk juga perbedaan penamaannya. Dalam konteks itulah kemudian kita mengenal Zapin Arab ?yang masih mempertahankan aura Padang Pasirnya, Zapin Johor ?yang kini berkembang begitu cepat, Zapin Pelan, Zapin Tengku, Zapin Brunei (Jipin Tar dan Jipin Laila Sembah), Zapin Bengkalis (Zapin Tepung), Zapin Gelek Sagu, dan sederet panjang nama lain yang menyertai variasi gerak zapin. Bahkan, di Pulau Rupat, pernah pula ada tarian zapin sambil bermain bola api. Orang pun kemudian menyebutnya sebagai Zapin Api.

Selain itu, di beberapa daerah di wilayah Nusantara ini, zapin dikenal dengan nama yang lain. Di Jambi, Palembang, dan Bengkulu, misalnya, zapin dikenal dengan nama dana, yang di Lampung disebut bedana, sedangkan di Nusa Tenggara disebut dana-dani. Di Brunei, zapin lebih dikenal dengan nama jipin, yang hampir sama dengan di Kalimantan yang menamakannya jepin, yang di Sulawesi disebut jippeng, sedangkan di Maluku dikenal dengan nama jepen.
***

Zapin Bengkalis, konon, mula berkembang selepas Kesultanan Siak Sri Indrapura tidak lagi memainkan peranan penting dalam kehidupan pemerintahan. Tarian zapin kemudian tidak lagi dapat dipertahankan sebagai kesenian eksklusif yang hanya dimainkan di kalangan istana dan kerabat kesultanan. Sebagaimana lazimnya kesenian yang tumbuh dan berkembang di kalangan istana, pakem zapin yang semula begitu ketat dengan gerakan yang sangat menonjolkan kehalusan dan langkah kaki yang rapat, kini mulai disusupi dengan menekankan kelincahan dan kepiawaian gerak. Penari perempuan?yang dalam zapin awal tidak diizinkan?kini justru menjadi bagian yang sama pentingnya dengan penari laki-laki.

Masyarakat menerima pentas seni ini sebagai manifestasi keberadaannya, eksistensi, jati diri dan identitas kultural. Dengan semangat egalitarian, zapin justru berkembang semarak yang lalu diklaim tidak hanya sebagai ekspresi kesukacitaan mereka, tetapi juga sebagai salah satu cara menawarkan pencerahan jiwa melalui simbolisasi keberimanan dan pesan-pesan moral dalam lagu-lagu yang mengiringi tarian zapin. Zapin kemudian menjadi kesenian yang bersifat edukatif dan menghibur.

Tambahan lagi, mengingat musik zapin itu terdengar seronok di telinga ?ear catching? sedap didengar, dengan rempak kendang yang menghentak menimpali alunan dawai gambus, maka tanpa sadar derap musik itu kerap menggerakkan jemari tangan atau kaki mengikuti rentak irama (tempo) zapin. Itu pula salah satu faktor yang menyebabkan masyarakat gampang akrab dengan zapin. Dari sana pula kemudian sejumlah penari coba melibatkan masyarakat, mengajak ikut bermain, dan mendirikan sanggar-sanggar.

Bagi masyarakat Bengkalis, zapin seperti telah menjadi jati diri mereka. Anak-anak sekolah, tokoh-tokoh adat, pejabat daerah, pegawai negeri, pedagang, ibu rumah tangga, nelayan, dan tentu saja para senimannya, menyadari betul betapa zapin telah menjadi bagian dari kehidupan keseharian mereka. Sanggar-sanggar tari zapin bertumbuhan hingga ke pelosok kampung dan ceruk desa. Masing-masing sanggar tari itu pun, seperti berlomba mengumbarkan kreativitasnya melalui berbagai ragam variasi gerakan tarinya. Zapin tiba-tiba saja menjelma senam pagi, olahraga sore, ?jurus silat? yang dipelajari malam hari, atau pentas hiburan peringatan hari-hari besar Islam, perayaan 17 Agustusan, acara kenduri, khinatan, perkawinan, syukuran, bahkan juga sebagai pentas kesenian pembuka pertemuan ilmiah yang berskala nasional dan internasional.

Kesadaran Bengkalis untuk menempatkannya sebagai negeri zapin tentu saja bukan tanpa alasan. Selain di sana ada sejarah panjang tentang perjalanan zapin di Bengkalis dan kemudian menjadi jati diri masyarakatnya, juga ada filosofi yang menjiwai segala gerak tarian zapin. Keakraban masyarakat Bengkalis dengan zapin telah menebarkan kesenian ini sebagai produk budaya yang memang lahir, berbiak dan tumbuh semarak di segenap lapisan masyarakatnya. Berlahiranlah kemudian sejumlah perkampungan zapin, seperti Meskom, Pulau Rupat, Teluk Latak, dan Kota Bengkalis sendiri.

Telusurilah lorong-lorong di Kota Bengkalis, maka di sana pun, sanggar-sanggar tari yang bertebaran telah menanamkan zapin pada diri anak-anak usia balita, anak-anak sekolah dasar, anak-anak remaja, para pemuda dewasa, orang tua, bahkan juga ibu-ibu rumah tangga. Jadi, di sana, warga masyarakat, sejak mereka yang berusia prasekolah sampai kakek-nenek, umumnya cukup piawai memainkan zapin. Zapin telah menjadi produk kesenian yang tidak tersekat oleh perbedaan usia, etnik, agama, dan jenis kelamin.

Datanglah ke Bengkalis dan berikanlah anak-anak usia prasekolah di sana, marwas, gambus, dan kendang. Maka, tangan-tangan mungil itu akan bergerak lentur, terampil memainkan alat-alat musik dan menyuguhkan irama yang siap mengiringi tarian zapin. Tengoklah ibu-ibu rumah tangga yang sedang memasak di dapur. Suguhkanlah mereka musik pengiring tarian zapin, maka secara refleks, mereka akan menggerakkan kaki atau tangan menyambut alunan musik itu. Berjalanlah ke pantai atau pelabuhan dan temuilah para nelayan atau awak perahu, maka enteng saja mereka yang baru pulang melaut itu memainkan tarian zapin.

Berzapin?menari, memainkan musik, dan menyanyi? bisa menjadi alat hiburan pelepas lelah atau sebagai gerak senda-gurau yang menyenangkan. Berzapin bagi mereka adalah alat bergaul, etika dan tatakrama berbudaya, gaya hidup, adab bermasyarakat, dan jati diri sebagai Melayu. Dengan demikian, zapin juga berfungsi sebagai alat perekat kerukunan bermasyarakat.

Pemerintah daerah Bengkalis tentu saja memahami dinamika dan potensi zapin yang tumbuh dan berkembang semarak di tengah masyarakatnya. Maka, di setiap kampung dan pelosok desa, Pemerintah Daerah coba mendorong berdirinya sanggar-sanggar, komunitas-komunitas zapin, kelompok-kelompok pemuda atau kegiatan ekstrakurikuler di semua peringkat sekolah ?sekolah dasar sampai sekolah lanjutan atas? dan membantu serta memfalisitasi segala kegiatan mereka. Sesungguhnya dari tempat dan wadah itulah berlahirannya para pemusik dan penari zapin.

Di samping itu, agar kesemarakan itu didukung dan dibarengi pula oleh kualitas yang baik, secara berkala dan berkesinambungan, diselenggarakanlah workshop, pelatihan, lokakarya, dan seminar dengan menghadirkan para pakar dan seniman dari dalam dan luar negeri dengan reputasi nasional dan internasional. Muara segala aktivitas itu adalah festival tahunan yang diberi nama Semarak Zapin; sebuah perhelatan akbar berskala internasional yang mempertemukan kelompok-kelompok zapin terbaik dari mancanegara.

Begitulah, zapin pada akhirnya menjadi salah satu alat untuk mengangkat marwah kesenian?kebudayaan Melayu. Dengan kesadaran itulah, sejumlah besar kelompok atau sanggar di Bengkalis, hampir tidak pernah luput dalam keikutsertaannya terlibat dan ambil bagian dalam berbagai festival atau pentas di tingkat nasional dan internasional. Sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara, seperti Singapura, Malaysia, Muangthai, dan Brunei Darussalam, rutin didatangi dalam rangka keikutsertaan mereka dalam festival zapin yang diselenggarakan di negara-negara itu.

Dalam sebuah festival internasional di Italia yang diikuti lebih dari 30-an kelompok seniman dan penari dari mancanegara, zapin Bengkalis dengan penata panggung Asrizal Nur, terpilih sebagai kelompok penari dengan penampilan terbaik. Kehadiran rombongan seniman Bengkalis yang sebelumnya sama sekali tidak diperhitungkan itu, tidak hanya berhasil memukau para seniman dari mancanegara dan memberi inspirasi bagi seniman yang hadir di sana, tetapi juga meneguhkan dan sekaligus juga melegitimasi reputasi para seniman Bengkalis dalam kancah internasional. Selepas acara itu, sejumlah seniman dari berbagai negara di Eropa, antara lain, Swiss, Prancis, Jerman, mengundang seniman Bengkalis untuk pentas di sana. Hasilnya, zapin Bengkalis memperoleh sambutan dan apresiasi yang luas dari para seniman di sana yang pada gilirannya makin mengenalkan zapin di sejumlah negara Eropa itu.

Reputasi internasional itu ditanggapi para seniman, Pemerintah Daerah, dan masyarakat Bengkalis sendiri secara positif. Lahirlah kemudian karya-karya baru tarian zapin, antara lain, Kopi Tumpah, Pulut Hitam, Bunga Cempaka, tarian Sayang Cik Isah, dan album lagu Melayu yang bertajuk Zapin Bermandah.

Demikianlah, Bengkalis dan zapin telah bergerak saling membesarkan. Maka, patutlah kiranya Bengkalis digelari sebagai negeri zapin!

(Dirangkum dari berbagai sumber)
?????????????

*) Pidato Kebudayaan Semarak Negeri Zapin di Bentara Budaya Taman Ismail Marzuki, Jakarta, di selenggarakan Yayasan Panggung Melayu, 19 Februari 2008.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *