Ideologi di Balik Identitas

GF Sasmita Aji
http://www.kr.co.id/

Identitas menjadi perlu tatkala seseorang berusaha melihat sejauh mana dirinya berbeda dari yang lain. Memang, ada sebagian orang merasakan bahwa perbedaan adalah pemicu konflik, namun tidak sedikit pula yang meyakini sebaliknya, yakni justru perbedaanlah yang membuat hidup manusia semakin sempurna dan indah. Di kasus kedua ini, harmonisasi kehidupan dipandang dari heterogenitas yang terjadi sehingga dengan demikian peranan setiap entitas menjadi penting dan tidak boleh dikesampingkan.

Demikianlah identitas, yang meski masih dimaknai sebagai alat pembeda, merupakan faktor penting guna menciptakan kehidupan yang lebih baik karena ?yang satu? berbeda dari ?yang lain?. Namun, lebih daripada sekadar alat pembeda, identitas seharusnya merepresentasikan kualitas-kualitas tertentu yang dihasilkan oleh individu, sehingga perbedaan antarindividu yang menjadi pilar-pilar harmonisasi kehidupan adalah ?buah-buah? bermanfaat yang dihasilkan oleh tiap individu. Dalam hal ini, identitas menjadi suatu perjuangan dan upaya, dan dengan demikian identitas tentu saja tidak bersifat statis tetapi senantiasa terbuka untuk berbagai perubahan atau perkembangan.

Sementara itu, berbicara tentang ideologi di balik suatu identitas akhirnya menjadi hal yang lumrah dan semestinya tatkala identitas diidentikkan dengan perjuangan/upaya menuju yang lebih baik. Bahkan identitas tanpa ideologi malahan akan mengurangi esensinya karena justru dengan berlandaskan ideologi itulah upaya membentuk atau mencapai identitas, yang berupa kualitas-kualitas hidup, menjadi suatu sasaran yang mau tidak mau harus dilaksanakan. Pendeknya, ideologi adalah bahan bakar yang memberi energi bagi individu untuk mengupayakan kualitas-kualitas yang dapat memberinya perbedaan dari individu yang lain.

Dalam bahasa umum ideologi semacam ini disebut sebagai visi-misi. Bahwa dalam penjabaran sehari-hari biasanya bahasa visi-misi begitu abstrak menjadikan istilah ?ideologi?, yang menggunakan format bahasa sederhana, lebih gampang dicerna oleh pemahaman publik. Namun, yang harus lebih dipahami ialah bahwa ideologi ada sebelum identitas lahir sehingga identitas inilah yang sebenarnya merepresentasikan ideologi yang empunya identitas.

Dalam rangka Lustrum III Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma, tahun 2008, tulisan ini bermaksud memahami ideologi yang selama ini diusung oleh Fakultas lewat representasi identitasnya. Namun demikian, persoalan mendasar nampaknya segera muncul bilamana pertanyaan tentang identitas Fakultas Sastra dikemukakan, terlebih jika identitas adalah perolehan-perolehan kualitas yang selama 15 tahun belakangan ini berhasil digapai. Persoalan tersebut tentang sejauh mana Fakultas Sastra sudah menghasilkan identitas yang dapat menunjukkan dirinya ?berbeda? (baca: kelebihan/kekhasan) dari Fakultas sejenis di institusi lain.

Hal ini tidak mudah terjawab karena selama ini memang setiap entitas dalam fakultas, yakni Jurusan/Program Studi, sibuk dengan dirinya sendiri sehingga lupa bahwa kehidupannya haruslah membentuk harmonisasi dengan yang lain dalam wadah Fakultas Sastra USD. Konsekuensinya, identitas Fakultas Sastra sulit didefinisikan (dengan kata-kata yang rigid), meskipun tidak mungkin dinafikan bahwa ini sudah ada.

Maka, terobosan yang sedang dilaksanakan oleh Panitia Lustrum III tahun 2008 ini, yakni dengan membuka forum bersama (berupa seminar) bagi semua Jurusan untuk berbicara mengenai ?Mereposisi Identitas Fakultas Sastra?, sungguh dapat merupakan lecutan kesadaran akan pentingnya identitas sebagai salah satu Fakultas ?penting? di lingkup Universitas Sanata Dharma. ?Penting? karena sebenarnya Fakultas Sastra memiliki tugas khusus sebagai ujung tombak universitas dalam mengusung ideologinya yang secara jelas menyatakan ?Memadukan Keunggulan Akademik dan Nilai-nilai Humanistik?.

Sebagai wadah himpunan ilmu-ilmu humaniora, Fakultas Sastra memiliki tanggung jawab dalam mengkonkretkan nilai-nilai humanistik yang nantinya menjadi salah satu identitas Universitas. Namun demikian, ada hal yang menarik untuk dikaji berkaitan dengan identitas Fakultas Sastra yang berupa jenis-jenis program studi (prodi) yang dimilikinya, yakni Sastra Indonesia, Sastra Inggris, dan Ilmu Sejarah. Menarik, karena dibandingkan dengan Fakultas Sastra yang lain ketiga jenis prodi tersebut menjadi keunikan tersendiri bagi Fakultas Sastra USD.

Dari perspektif ?marketing? dan kebutuhan pasar, jelas hanya S Inggris yang mungkin dapat memberi keuntungan secara finansial karena minat calon mahasiswa dalam memilih prodi, dan bahkan bisa dikatakan kedua prodi yang lain adalah ?proyek merugi?. Dari perspektif internal, yakni bahwa USD adalah milik Serikat Jesus (salah satu jenis sekumpulan biarawan Katolik), ketiga prodi sama sekali tidak ada kaitannya dengan hal-hal yang berbau religi.

Jadi, ideologi apa yang coba diusung lewat ketiga entitasnya tersebut? Sebagai wadah ilmu-ilmu humaniora, tentu disiplin tentang budaya dan ?teks? menjadi menu utama dari Fakultas Sastra, dan ini pun nyata dijalankan oleh ketiga prodi tersebut: Sastra Indonesia, Sastra Inggris, dan Ilmu Sejarah.

Sastra Indonesia dan Sastra Inggris secara spesifik membedakan dua macam teks telaahan, yakni teks literatur dan teks linguistik, dan keduanya jelas merupakan produk budaya manusia. Ilmu Sejarah sendiri secara khas memberi tekanan pada teks-teks budaya manusia yang pernah terjadi pada masa lampau. Maka, secara gampang ketiga prodi pada dasarnya memiliki kesamaan link dalam membicarakan manusia lewat teks-teks budaya yang telah dihasilkannya.

Namun demikian secara khusus sebenarnya Ilmu Sejarah justru memperlebar wawasan klasik, yang sangat didewakan oleh sastra dan linguistik, mengenai ?teks?. Ilmu Sejarah mengupas fakta/peristiwa sebagai teks, sehingga paradigma bahwa teks harus selalu tertulis (ingat, definisi sastra ialah segala sesuatu yang tertulis) harus diubah, yakni teks adalah segala sesuatu yang dapat ditelaah. Dan, sehubungan dengan manusia dan budaya kiranya Ilmu Sejarah telah merintis dan memberi jalan bagi masuknya disiplin Cultural Studies.

Dalam disiplin inilah akhirnya kajian tentang humaniora menjadi lebih utuh dan lengkap, karena memang sebenarnya yang disebut sebagai ?budaya? adalah segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia dan ini tidak terbatas oleh nilai ?tinggi? (adiluhung) dan ?rendah? (populer). Persoalannya, apakah ketiga Prodi tersebut memiliki track yang sama untuk memahami perspektif ini? Jika memang ya, ideologi Fakultas Sastra dalam mengusung ?budaya? dan ?teks? memang dengan nyata terepresentasi dalam identitasnya.

Identitas Fakultas Sastra lewat Prodi Sastra Inggris dapat menjadi clue bagi munculnya ideologi lain di balik ini. Dikontraskan dengan Prodi Sastra Indonesia, jelaslah bahwa ada dua macam budaya yang secara khusus menjadi fokus utama: budaya global dan lokal. Sementara itu, lewat perspektif disiplin sejarah, nampaknya upaya untuk menghilangkan missing link antara yang global dan lokal merupakan kunci pemahaman bahwasanya budaya, baik global maupun lokal, bertemu pada sumber yang satu, yaitu kearifan manusia.

Dengan kata lain, dalam heterogenitas ternyata bisa digali kesamaan unsur yang harus kembali kepada manusianya sendiri, dan memang begitulah esensi dari ilmu humaniora. Mengapa masalah global dan lokal merupakan ?kegelisahan? Fakultas Sastra? Jawaban dari pertanyaan inilah yang bakal mengantar kita pada ideologi di balik identitas Fakultas Sastra, yaitu sensitivitas pada masalah dunia sekarang ini, khususnya di abad 21 ini, yang berupa fenomena globalisasi. Dan, Fakultas Sastra USD hendak menjadi panglima terdepan bahwa globalisasi bukanlah ?ancaman?, yang menjadikan Bangsa Indonesia korban, tetapi ?kesempatan?, yang akan mengubah Bangsa Indonesia menjadi Bangsa yang disegani Dunia karena identitas lokalnya. Profisiat Fakultas Sastra USD!!!!

*) Dosen Sastra Inggris Universitas Sanata Dharma Artikel ini kerja sama Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma dengan KR.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *