Korupsi Di Negeri Miskin

Judul Asli : Tanah API
Penulis : S. Jai
Penerbit : Pustaka Sastra LKiS Yogyakarta
Tahun : Cet. 1, Juni 2005
Tebal : xiv + 437 halaman (index)
Peresensi : Nur Hamzah*
http://ahmad-sujai.blogspot.com/

“Kipang dalam hidupnya tidak pernah menemukan kedamaian selama hidupnya, sebelum kejahatan seperti perkara korupsi di negeri yang hilang ini ditumpas sampai akar-akarnya.”

Novel Tanah Api karya S.Jai tampaknya banyak mengurai pemikiran, ajaran, idiologi, peradaban dan kejahatan. Oleh karena itu, wajar bila sering terjadi sebuah pemikiran pada zaman keemasan saat dipimpin rezim Soeharto, namun pada zaman yang berbeda saat era reformasi terjadi masa keredupan.

Pada periode tertentu zaman telah dikutuk oleh rakyat, karena ketimpangan sosial, agama dan politik telah dinodai oleh rezim yang memimpin, sehingga terjadi kekacauan yang meluas di mana-mana.

Novel ini sangat menarik kerena memberikan cara pandang baru terhadap sejarah pergolakan bangsa Indonesia mulai zaman koloni hingga zaman reformasi. Dengan merujuk pada kondisi penguasa kita yang banyak melakukan penyelewengan dari pesan para tokoh bangsa yang telah mendirikan negara Indonesia.

Novel ini mampu hadir tanpa absurditas dan paradoksal dalam mengungkap kasus-kasus di negeri yang telah hilang identitasnya.

Novel ini lebih banyak mengungkapkan metaforisme tentang kehidupan politik dan kekuasaan yang terjadi selama ini, banyak bertentangan dengan kehidupan rakyat Indonesiayang menjadi ciri khas melandanya wabah korupsi di mana-mana.

Seolah-olah kejahatan korupsi menjadi tradisi ritualitas bagi pejabat dan elit negara. Orang melakukan kejahatan ini menjadi sebuah kebanggan prestise. Contoh paling kecil lembaga agama, seperti Departemen Agama tempat orang beragama, sebaliknya orang beramai-ramai mengkorup uang Haji.

Kilas balik inilah yang menjadi keprihatianan kaum beragama untuk membrantas korupsi menjadi kesulitan. Karena Tuhan sudah di kalahkan dengan uang.

Novel ini yang di tulis S.Jai lebih memfokuskan pada gambaran tokoh Kipang seorang informan menjadi semacam martir untuk menunjukkan bahwa kekuasaan politik cenderung korup, terutama saat sistem politik tidak memiliki aturan yang jelas dan segalanya bisa dinegosiasikan.

Rasionalisasi ini banyak diungkapkan Karl Marx bahwa peran negara itu akan menindas rakyat dan korup. Sehingga Marx sendiri menawarkan negara harus dibubarkan, agar rakyat lepas dari penindasan.

Aturan-aturan politik seperti ini juga akan menimbulkan bubarnya negara yang carut marut, karena rakyat tidak percaya lagi pada proses aturan main negara. Sebagaimana seperti ungkapan Hobbes, kalau negara itu kuat, rakyat akan lemah dan kalau rakyat kuat negara akan lemah.

Prinsip-prinsip ini barangkali adalah ungkapan absurditas yang tidak relevan untuk diterapkan pada proses pembentukan negara seperti Indonesia.

Di tengah hiruk pikuk politik dan praktik-praktik korupsi, menjual informasi demi sejengkal jabatan, konspirasi-konspirasi yang berusaha mengungkap kebejatan, kejahatan mampu menghadirkan Kipang dalam tokoh novel ini untuk berani melawan arus dominan menunjukkan kebenaran.

Dengan langkah teror-teror terhadap para tikus koruptor yang merayap kemana-mana, bagaikan tikus-tikus kelaparan. Tokoh Kipang bersama tokoh lainnya Wardhana melihat peristiwa demi peristiwa yang mewarnai kehidupan bangsa ini sangat menghadirkan sebuah mozaik besar yang bermuara di tanah Jakarta sebagai pusat permasalahan besar dan kebusukan tanah air negeri Indonesia.

Dapat ditemukan panorama, modernitas, keglamuran, kegelapan dan kegemilangan seperti para tokoh politisi, intelektual, artis, kyai. Sebagaimana gambaran di Jakarta, bertumpuk jadi satu, ada Amin Rais yang rakus jabatan, Munir sosok penyunjung HAM, Soeharto yang otoriter, Gusdur intelktual yang genit, Iwan Fals musisi yang peka sosial, Ahmad Dani musisi yang punya karakter banci dan masih banyak tokoh-tokoh lain.

Semua tokoh yang mewarnai Jakarta di era reformasi, pembaca bisa memeriksa secara seksama dalam pentas politik dan sosial lebih cenderung dipaksa untuk meruntutkan prilaku-prilaku politik yang banyak merugikan rakyat, dengan sensasi-sensasi murahan yang di liput media cetak dan massa dengan tujuan mereduksi aksi-aksi politik kontroversi seperti kebijakan-kebijakan penguasa terhadap kepentingan publik.

Tidak pernah relevan dalam hal kesejahteraan umum, pendidikan, penataan kota dan keadilan hukum. Semua prilaku ini tidak ada nurani penyesalan dan dikorup sampai akar-akarnya.

Dalam novel tanah api, jalan ceritanya bukan hanya memotret rangkaian-rangkaian peristiwa menjadi satu, tetapi lebih mengungkapkan peristiwa-peristiwa yang terpisah yang berangkat dari cerita mulai sejarah koloni sampai peristiwa zaman korupsi di era Indonesia baru.

Sehingga penokohan dalam cerita Tanah Api ini menghubungkan peran tokoh Kipang-Wardhana, di sisi lain seorang hero dalam menumpas kejahatan korupsi dan Kipang-Randhu punya prinsip kesatuan dengan Kipang dalam mengemban misi untuk menegakkan demokrasi di Indonesia dengan berbagai persoalan kriminal, korupsi dan politik.

Membaca kisah dalam Novel Tanah Api yang ditawarkan S.Jai akan disuguhi dengan keprihatinan dan kebobrokan. Pembaca bisa melukiskan sendiri Tokoh Kipang dalam perjalananan hidup harus melawan arus dominan yang sering kali mengecewakan. Apa boleh buat Kipang dan tokoh dalam kisah-kisah ini ditunjukkan dari luar sulit mencari kejujuran, keadilan dan kebersihan.

Setiap tokoh sarat dengan mengusung ide-ide beban berat. Tapi akhirnya harus kalah dengan rezim yang berkuasa dalam melawan kejahatan, ia harus terpinggirkan dan kembali ke keluarganya. Bagaikan sepenggal korban dan bongkahan peristiwa yang lepas dari peristiwa anasir-anasir interpertasi. Kipang dalam hidupnya tidak pernah menemukan kedamaian selama hidupnya sebelum kejahatan di Negeri yang hilang ini, ditumpas sampai akar-akarnya.

Demikianlah cerita Tanah Api yang dilakonkan Kipang dalam pengembaraan untuk menumpas kejahatan, sebagai korban anarkisme penguasa yang dholim ini, hingga akhirnya ketidakadilan menimpa dirinya, ia menjadi korban dari ganasnya realitas, sehingga tidak mampu mempertahankan kekokohan hidupnya.

Karena itu ia menjadi sepenggal korban di negeri yang hilang, walaupun ia berusaha keras untuk melawan hegemoni rezim otoriter dan korup untuk dihilangkan dari keberadaannya. Tetap mengalami kegagalan. Pertanyaanya, sudahkah kita malu hidup di negeri korupsi untuk bersama-sama bertanggung jawab atas tikus-tikus yang merajalela di berbagai lini di Indonesia?

Pertanyaan ini sebagai metaforisme bangsa kita yang telah hilang dari identitasnya sebagai ilustrasi yang dikisahkan Kipang untuk menemukan jejak langkah dalam mengarungi samudera kebenaran.

*) Peminat buku dan Aktif di Rumah Baca LKISTimur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *