Latar Indonesia dalam Karya Sastra Tionghoa

I Nyoman Suaka
http://www.balipost.com/

Karya-karya kesusastraan peranakan Tionghoa di era tahun 1920-an, kini bangkit kembali dan banyak beredar di pasaran. Bahkan tidak canggung-canggung, buku sastra itu terbit berseri (jilid satu sampai delapan) yang bertajuk ”Sastra Melalui Peranakan Tionghoa”. Buku itu membicarkan tentang karya sastra kaum penulis Tionghoa tempo dulu. Anehnya, ketika karya sastra itu terbit pertama kali, pernah dijuluki sebagai bacaan picisan, murahan dan bermutu rendah. Akibat julukan itu, maka hasil kesusastraan peranakan Tionggoa tergolong bacaan liar. Mengapa demikian?

KESUSASTRAAN peranakan ini di Indonesia lebih populer diistilahkan sebagai sastra Melayu Peranakan Tionghoa. Di golongkannya ke dalam sastra Melayu karena bahasa yang digunakan sebagai media ekspresi oleh pengarangnya adalah bahasa Melayu, bukan bahasa Cina. Pengarang-pengarang asal negeri Tirai Bambu itu sudah lama merantau di Indonesia. Mereka tidak memiliki ikatan yang kuat dengan kebudayaan leluhurnya, khususnya di bidang bahasa.

Di mana bumi dipijak di sana langit dijunjung. Ungkapan itulah yang pas untuk pengarang keturunan Cina ini. Bahasa yang digunakan dalam menuangkan ide dan gagasan terpolong bahasa Melayu Rendah. Maka dari itu, kesusastraan peranakan yang berkembang ketika itu disebut dengan kesusastraan Melayu Rendah Peranakan Tionghoa. Seperti diketahui, sebelum ikrar Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, bahasa Melayu dibagi menjadi bahasa Melayu Rendah dan bahasa Melayu Tinggi.

Bahasa Melayu Rendah adalah bahasa pasaran yang digunakan dalam pergaulan sehari-hari. Nilai rasa bahasa itu agak kasar kedengaran. Berbeda dengan bahasa Melayu Tinggi yang merupakan bahasa Melayu halus dan kedudukannya cukup terhormat. Sayangnya, dilihat dari penutur bahasa itu, jauh lebih banyak dan luas penuturnya adalah bahasa Melayu Rendah. Ternyata kondisi ini sangat menguntungkan perkembangan sastra peranakan Tionghoa karena jumlah pembacanya jauh lebih besar dan merakyat.

Tema Cerita
Tema-tema cerita yang diangkat dalam syair, roman dan cerita pendek diambil dari permasalahan hidup orang kebanyakan. Setting cerita hanya terjadi di Sumatera, dan Jawa, baik di kalangan warga Tionghoa, Pribumi maupun Belanda. Topik penceritaan seperti perkawinan, pertentangan adat, kehidupan lelaki dalam memelihara gundik, dan sosial politik. Dari permasalahan-permasalahan itu, yang paling banyak digarap adalah percintaan dan pergundikan, seperti ”Nyai Sumirah” oleh Thio Tjin Boen (1917), ”Nyai Aisah” oleh Tan Boen Kim (1915) dan ”Nyai Marsinah” (1922).

Pengarang banyak menggunakan ”Nyai” dalam judul karyanya tiada lain untuk menarik perhatian pembaca sebab kata itu bertendensi wanita simpanan atau gundik. Tokoh seperti itu bermakna negatif karena dapat diajak kencan oleh laki-laki.

Tema pornografi ketika itu merupakan permasalahan yang amat subur di tengah masyarakat yang berhasil diamati oleh pengarang. Bahkan roman ”Bunga Berjiwa” oleh Tan Boen Kim mengungkapkan bobroknya moral manusia. Diceritakan Lie Keng Ien yang dengan kekayaannya selalu memburu wanita cantik, baik wanita yang sudah bersuami maupun belum. Ketika mengawini Merari, ia tega membunuh Prawiro (suami Menari). Sebaliknya Merari yang hanya ingin bersenang-senang, akhirnya bersedia meninggalkan suaminya (Prawiro), padahal suaminya sangat setia. Hanya karena harta Merari bersedia menjadi gundik. Tokoh Lie Keng Ien adalah seorang juragan yang tinggal di Kota Surabaya. Ia memiliki empat istri simpanan. Rata-rata gundiknya itu adalah wanita yang gila kekayaan, sedangkan sang juragan tidak sanggup berbuat adil. Keempat istrinya itu saling membenci dan tidak rukun, demikian pengarang Tan Boen Kim merekam realitas sosial yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.

Latar atau daerah cerita masyarakat Indonesia menarik perhatian para pengarang peranakan Tionghoa. Hal ini menunjukkan bahwa golongan masyarakat Tionghoa mempunyai hubungan yang baik dengan daerah tempat tinggal mereka. Selain itu pengarang peranakan ini menyadari bahwa pembacanya bukan hanya masyarakat Tionghoa tetapi juga masyarakat pribumi. Menyadari kondisi ini, muncullah tema-tema perkawinan antarsuku bangsa seperti lelaki Tionghoa dengan wanita Indonesia dalam roman ”Bunga Roos dari Tjikembang” oleh Kwee Tak Hoay (1927), ”Bunga Roos Merah” oleh Chang Ming Tse (1939), ”Ular yang Cantik” oleh Soe Lie Piet (1929), ”Itu Bidadari dari Rawa Pening” oleh Tan Hoeng Boen (1929) dan lainnya. Dari karya-karya tersebut ternyata perkawinan campuran itu banyak mendapat tantangan, baik dari orang tua Tionghoa maupun di pihak orang tua pribumi. Perkawinan itu lebih banyak sengsaranya daripada nikmatnya.

Tentang politik dan sejarah Indonesia, juga tak luput dari pengamatan para pengarang keturunan Cina ini, seperti roman ”Darah dan Air Mata di Boven Digul” oleh Oen Bo Tik (1931), ”Merah” oleh Liem King Hoo (1937) dan ”Drama di Boven Digul” oleh Oen Bo Tik (1931). Ketiga roman tersebut berisi kisah tahanan kaum komunis Indonesia di Bovem Digul setelah pemberontakan mereka gagal. Sastrawan Tionghoa juga tertarik dengan kejadian-kejadian sejarah sehingga menjelma menjadi karya sastra yang berjudul ”Drama dari Merapi” oleh Kwee Tek Hoay (1931), ”Kembang Wijaya Kusuma” oleh Liem King Khoo (1930) serta ditulisnya kehidupan primitif masyarakat suku Badui dan Tengger.

Nota Rinkes
Karya sastra garapan pengarang Tionghoa seperti yang dipaparkan tersebut ternyata mendapat sorotan tajam dari pemerintah kolonial Belanda yang menjajah Indonesia ketika itu. Ceritanya dinilai tidak bermoral, bermutu rendah dan murahan. Kritiknya pedas yang menilai kesusastraan peranakan Tionghoa itu berselera murahan dan tergolong bacaan liar datangnya dari Direktur Volkslectuur, D.A. Rinkes. Lembaga yang dipimpinnya itu adalah semacam kantor komisi bacaan rakyat yang bertanggungjawab untuk mengawasi terbitnya buku-buku bacaan. Selanjutnya Volkslectuur yang didirikan pada tanggal 14 September 1908 ini berganti nama menjadi Balai Pustaka tahun 1917.

Tumbuhkembangnya sastra Melayu Peranakan Tionghoa ini sangat didukung oleh bermunculan penerbit-penerbit swasta yang siap mencetak dan memasarkan karya-karya para pengarang saat itu. Bisnis buku sastra ketika itu aman menggiurkan karena banyak mendatangkan keuntungan. Terbukti banyak penerbit swasta yang berdiri seperti Goan Hong (Jakarta), Economy (Bandung), Paragon (Malang), Swastika (Surakarta), Drukkerij (Semarang) dan Boekhandel Indishe (Medan).

Tentang kiprah penerbit swasta ini, D.A. Rinkes sempat pusing dan kembali mengecam bahwa penerbit itu adalah ”Saudagar kitab yang kurang suci hatinya” dan bersikap agitator. Untuk menerbitkan buku-buku, Kantor Bacaan Rakyat ini mengajukan tiga syarat pokok yaitu tidak mengandung unsur antipemerintah kolonial Belanda, tidak menyinggung perasaan dan etika golongan masyarakat tertentu dan tidak menyinggung perasaan agama tertentu. Tiga persyaratan tersebut dalam sejarah kesusastraan Indonesia dikenal dengan ”Nota Rinkes” — mengambil nama direktur Volkslectuur. Hasil-hasil kesusastraan peranakan Tinghoa digolongkan ke dalam bacaan liar dan bermutu rendah seperti di awal

tulisan ini, karena banyak mengungkapkan tema-tema pelacuran seperti pergundikan yang mengarah kepada ponografi. Hal ini dinilai mengganggu perasaan dan etika masyarakat, seperti persyaratan kedua Nota Rinkes. Selain itu, bahasa yang dieksploitasi pengarang keturunan Cina ini termasuk bahasa Melayu Rendah, yang sangat bertentangan dengan persyaratan naskah Volkslectuur yang harus menggunakan bahasa Melayu Tinggi.

Menjamurnya buku-buku sastra Melayu Tionghoa dan pengarang pribumi juga menjadi ancaman bagi pemerintah kolonial Belanda dalam melanggengkan kekuasaannya di Indonesia. berdasasrkan penelitian Claudion Salmon (1985), karya-karya pengarang Tionghoa jauh lebih banyak dibandingkan hasil karya pengarang pribumi maupun Belanda ketika itu. Salmon mencatat bahwa dari tahun 1870 sampai 1970 telah terbit 3005 karya sastra pengarang peranakan Tionghoa terdiri atas 73 sandiwara, 183 syair, 233 terjemahan sastra Barat, 759 terjemahan sastra cina dan 1398 karya roman dan cerpen asli. Angka-angka ini sangat mengkhawatirkan pemerintah Belanda, karena dapat menyusupi paham yang bertentangan dengan kebijakan penjajahan kolonial.

Kini zaman telah bergeser ke arah reformasi dengan arus informasi yang terbuka lebar. Sudah saatnya sastra Melayu peranakan Tionghoa mendapat tempat yang layak untuk dikaji dan dipelajari. Bisa jadi, julukan sebagai sastra murahan dan liar itu sebagai dampak kebijakan politis kolonial untuk mengekang kreativitas pengarang. Terlalu berlebihan menyebut predikat sebagai sastra liar karena tidak sedikit juga karya-karya pengarang keturunan cina ini yang bermutu untuk direnungkan. Selamat Tahun Baru Imlek 2555, Gong Xin Fa Chai!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *