Muda, Terkenal, dan Kaya

Sisi Lain Kehidupan Penulis “Best Seller”
Eriyanti

http://www.pikiran-rakyat.com/

ANDREA Hirata penulis tertralogi Laskar Pelangi sedang shooting di Belitong. Dewi “Dee” Lestari penulis Supernova sedang katarsis di Bali. Sementara Helvy Tiana Rosa penulis novel-novel Islami sedang sibuk menjadi juri festival teater. Bagitulah potret kehidupan para penulis novel terlaris di Indonesia saat ini.

Mereka bukan saja sibuk dengan berbagai kegiatan yang berhubungan langsung dengan dunia tulis-menulis, tetapi juga banyak hal di luar itu. Bisa bermain film, menulis skenario, menjadi juri, menerima penghargaan, atau bahkan menjadi bintang iklan televisi. Pendek kata, lewat novelnya, seribu pintu peluang sudah terbuka lebar.

Coba Anda bayangkan bagaimana kehidupan Kang Abik (Habiburrahman El Shirazy) yang sukses dengan novel Ayat-ayat Cinta dan filmnya ditonton jutaan orang. Atau bagaimana kehidupan para penulis asing seperti J.K. Rowling yang “menyihir” pembacanya dengan Harry Potter, atau Rhonda Byrne sang penulis The Secret yang karyanya terjual 5,25 juta kopi dalam waktu kurang dari enam bulan!?

Mungkin Anda akan membayangkan mereka tinggal duduk manis di rumah mewah sambil menerima royalti yang terus mengalir. Tanpa harus kehilangan kata karena dengan imajinasinya, ribuan bahkan jutaan kata akan terus terangkai.

Ternyata tidak demikian, Andrea Hirata malah sedang sibuk shooting di Belitong sehingga pertemuan “PR” dengannya terpaksa lewat surat elektronik saja. Sebelumnya, Andrea juga keliling dari satu kota ke kota lain untuk berbagi pengalaman kepada para pembaca.

Andrea bukan hanya hadir di forum-forum sastra serius, tetapi juga di ruang-ruang yang lebih urban seperti stasiun radio, kafe, sampai mal. “Kadang kala sangat memusingkan kepala,” ujarnya saat ditanya bagaimana rasanya jadi penulis muda yang kaya dan terkenal.

Tulisan pertama Andrea Hirata sebenarnya bukan karya sastra, tetapi karya ilmiah. Buku pertamanya berjudul The Science of Business yang amat matematis diadaptasi dari tesis S-2 Andrea saat di Sorbonne, Prancis. Buku itu diterbitkan tiga tahun lalu oleh Penerbit ITB. “Setahun kemudian baru saya menulis Laskar Pelangi. Jadi, karya sastra saya yang pertama itu, ya Laskar Pelangi,” ujarnya.

Tidak berbeda dengan Andrea Hirata, Helvy Tiana Rosa yang lebih dulu mengibarkan kesuksesannya di dunia tulis-menulis, punya kesibukan yang sama. Saat dihubungi “PR”, Helvy sedang sibuk menjadi juri festival teater. “Waduh, maaf banget saya dari pagi sampai malam terus nih di festival,” ujarnya dalam pesan singkat Helvy.

Penulis kondang yang juga anggota Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) ini sudah melahirkan 30 judul buku, 10 naskah drama, antologi bersama, ada juga kumpulan puisi dan kumpulan cerpen sekitar 30. Beberapa novelnya antara lain Saat Mas Gagah Pergi, Risalah Cinta, Akira, dan lain-lain.

Tak ayal, berkat kreativitas dan kegigihannya tersebut, Helvy sering diundang keliling hampir seluruh daerah di Indonesia. Ia juga pernah mengisi pelatihan penulisan sampai ke hutan, pabrik, kelompok anak petani bahkan sampai ke luar negeri, Mesir sampai ke AS yang penduduknya non-Muslim. Yang unik, Helvy juga pernah membina FLP Hong Kong yang seluruh anggotanya pembantu rumah tangga yang suka menulis.

“Jadi siapa pun, menurut saya bisa menjadi penulis dan saya senang bisa bermanfaat buat orang lain walaupun hanya sedikit,” ujarnya.

Selain berhasil memahatkan novel-novel Islami dalam khazanah kesusastraan Indonesia, Helvy juga dikenal sebagai peretas berdirinya Forum Lingkar Pena (FLP) yang beranggotakan para penulis novel Islami. FLP berdiri bukan saja di hampir setiap daerah di Indonesia tetapi juga di luar negeri seperti di Malaysia, Singapura, sampai Amerika. Efeknya, terjadi booming novel-novel Islami.
**

KARYA-KARYA yang bagus, bernas, dan memberi inspirasi tentu saja bukan hasil pekerjaan sembarang. Kesuksesan mereka bukan hasil sehari dua hari, tetapi hampir seusia mereka sendiri. Andrea Hirata, misalnya. Meski ia baru mencuat dengan Laskar Pelangi yang menghebohkan, ia sudah menulis sejak dulu. Begitu juga Helvy, Dewi Lestari, Ayu Utami, dkk. Helvy malah mencatat ratusan karyanya secara intensif di berbagai majalah Islami seperti Ummi.

Tak mengherankan bila Helvy pernah mendapat penghargaan dari tabloid Nova dengan kategori wanita Indonesia yang inspiratif, dari majalah Ummi untuk kategori anugerah khusus, lalu tahun 2005 penghargaan dari Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) sebagi tokoh perbukuan Islam dan tahun 2006 Eramuslim Award.

Namun, seiring diterimanya karya-karya mereka oleh masyarakat dan berhasil di pasaran, sisi negatif pun muncul. Karya Helvy yang berjudul Akira sempat diplagiat. Tidak hanya itu, beberapa cerpen milik Helvy pun diplagiat dalam bentuk antologi yang bukan atas nama dirinya.

Tak urung, perempuan berjilbab ini meminta pertanggungjawaban sang plagiator untuk memuat permintaan maaf di lima koran nasional terkemuka di Malaysia dan Indonesia. Disertai pernyataan bahwa buku yang ia tulis merupakan jiplakan dari karya dirinya.

Begitu juga novel Andrea Hirata terbaru yang berjudul Maryamah Karpov. Novel yang baru akan diterbitkan Oktober 2008 ini malah telah beredar dengan judul yang sama dalam bentuk buku maupun e-book. Sampai akhirnya Andrea lewat Renjana Organizer yang menangani weblog-nya mengumumkan secara resmi bahwa buku dan e-book tersebut palsu! Karena penulisnya bukan Andrea Hirata.

Dunia reka cipta memang tak bisa mengelak dari plagiat. Meski demikian, para penulis aslinya mendapatkan uang yang tidak sedikit dari karyanya. Andrea Hirata mengatakan, Maryamah Karpov, novel keempat (terakhir dari tetralogi Laskar Pelangi) telah ditawar beberapa penerbit dengan harga mendekati Rp 1 miliar dan royalti 15 persen.

“Tapi saya belum putuskan. Bagi saya yang penting bukan aspek komersial, tapi saya ingin menemukan penerbit yang cukup punya idealisme dan integritas. Maryamah Karpov insya Allah akan terbit Oktober 2008 seusai pembuatan film ?Laskar Pelangi?,” ujarnya.

Penulis lain yang mengkhususkan diri pada genre cerita anak, Ali Muakhir mengatakan, untuk karya-karya best seller, royaltinya bisa dibanderol antara Rp 5 juta sampai Rp 10 juta. Jauh lebih “beruang” dibandingkan dengan menulis artikel di majalah atau surat kabar yang dihargai antara Rp 300.000,00 sampai Rp 1 juta untuk satu artikel.
**

YANG membanggakan, semua hasil jerih payah tersebut, tidak menjadikan para penulis terkenal dan kaya ini, ongkang-ongkang kaki. Tidak juga menjadi “seleb” yang bisa menghabiskan uang untuk kesenangan. Malah Andrea mengaku tidak punya rumah. Ia masih tinggal di tempat kos di kawasan Tamansari Bandung. Kalaupun pulang kampung, ia pulang ke rumah ibunya di Belitong.

Tentang semua uang honornya, Andrea mengatakan bukan tipe orang hedonistis. Ia lebih suka mengalokasikan honor (royalti) itu untuk keperluan program amal pendidikan yang dijalankan dalam program “Laskar Pelangi in Action”. Program ini adalah program amal pendidikan Andrea yang dibiayai dari royalti buku dan film “Laskar Pelangi”.

Andrea juga mengaku tidak punya banyak asuransi dan tabungan. “Saya selalu mendidik diri saya untuk hidup sederhana, begitulah sikap saya dan begitulah pelajaran dari keluarga (orang tua saya). Saya juga tak suka belanja. Saya punya tanggung jawab besar pada keluarga. Jika saya punya uang, saya pikir ingin menyekolahkan keponakan-keponakan saya yang pintar dan secara ekonomi belum mampu, atau jika ada uang lebih saya ingin memberi beasiswa pada siswa pintar tapi kurang mampu,” tuturnya membeberkan.

Andrea mengaku tidak begitu suka membicarakan uang dan ketenaran. Ia merasa lebih antusias bila seorang pembaca memberi tahu dirinya bahwa karya-karyanya begitu menginspirasi dan mencerahkan mereka. Memberi kekuatan kepada mereka. Tentang obsesinya, Andrea bilang, “Saya tetap ingin menjadi guru dan terus berkontribusi untuk dunia pendidikan,” ungkapnya.

Helvy juga begitu. Ia mengatakan, persoalan gaya hidup dan berapa uang yang diperoleh serta untuk apa, bukan pertanyaan yang tepat untuknya. Sebab menurut Helvy, ia hanya menulis mengikuti hati nurani dan menulisnya lebih karena semua Muslim itu harus menyadari bahwa hidup mereka itu ibadah, karena itu segala apa yang kita lakukan mulai dari bangun tidur dan tidur lagi kalau bisa harus bernilai ibadah.

“Makanya, ketika saya menulis, saya harus bisa menghasilkan karya yang bernilai ibadah. Kalau kemudian orang-orang mengatakan tulisan itu sastra Islami, sebenarnya itu bukan datang dari saya sendiri, tetapi dari penilaian orang-orang,” ujarnya.

Helvy juga mengaku lebih senang diajak berbicara tentang tanggung jawab pengarang daripada tentang gaya hidup. Seperti dirilis eramuslim.com, Helvy mengatakan, dia tidak setuju dengan teori sastra modern yang mengatakan bahwa ketika tulisan itu dilempar ke publik maka pengarangnya sudah mati, karena dia telah menjadi milik publik. Itu dapat membuka celah bagi penulis untuk lepas tangan atas karyanya.

“Menurut saya, karya itu harus dipertanggungjawabkan dari mulai niat membuatnya sampai karya itu dilempar ke publik bahkan sampai pengarang itu meninggal,” kata Helvy.

Leave a Reply