Perempuan ke Seratus

Evi Idawati
suarakarya-online.com

Nabila adalah perempuan yang aku incar untuk menggenapi sembilan puluh sembilan perempuan yang pernah aku tiduri menjadi hitungan bulat ke seratus. Tapi perempuan ini sangat susah didekati. Temperamennya yang meledak-ledak semakin memancing syahwatku untuk menaklukannya. Meski sekarang usiaku menginjak limapuluh tahun, aku masih belum sadar juga untuk memulai pertaubatanku. Bayangkan, berapa bulan sekali aku tidur dengan perempuan berbeda. Padahal aku sudah punya istri simpanan empat. Mereka muda dan cantik-cantik. Continue reading “Perempuan ke Seratus”

Perempuan Cantik Itu Tersenyum Kepadaku

Dodiek Adyttya Dwiwanto
oase.kompas.com

Minggu siang ini aku kembali ke sini. Kembali ke tempat ini lagi. Sebuah pusat perbelanjaan di kawasan Semanggi. Lebih spesifiknya food court di plaza ini.

Entahlah di lantai berapa. Sudah tidak terhitung aku ke sini tetapi tetap saja aku selalu nyasar, kehilangan arah di tempat yang menurutku tidak beres tata letaknya. Mungkin arsitek yang merancang tata letak tempat ini baru lulus kuliah hingga membuat orang-orang termasuk diriku selalu tersesat. Dan hari ini aku datang lagi ke tempat itu. Seperti juga sebulan yang lalu. Dua bulan yang lampau. Setahun yang silam. Dan seperti yang sudah-sudah, aku tersesat. Continue reading “Perempuan Cantik Itu Tersenyum Kepadaku”

Pembunuhan Sultan dan Sisir George Bush dalam Sastra Kita

Linda Christanty *
cetak.kompas.com

Tahun ini, tepat 10 tahun Ayu Utami menulis Saman, novel yang dianggap memberi tafsir baru terhadap tubuh perempuan, seks, dan seksualitas dalam sastra kita.

Dalam Saman, untuk pertama kalinya perempuan bebas bicara tentang hal terdekat dengan diri mereka dan sekaligus telah lama diceraikan dari mereka, yaitu tentang tubuh mereka sendiri. Dan tubuh ibaratkan bahasa ibu, bukan sekadar teks. Tetapi, suatu hari negara dan agama ikut mengatur penggunaannya. Continue reading “Pembunuhan Sultan dan Sisir George Bush dalam Sastra Kita”

Spiritualitas dalam Sastra

Tentang “Surga Anak-Anak” karya Najib Mahfuz

St. Sunardi
http://oase.kompas.com/

1/
Beginilah kita menyaksikan dalam ?Surga Anak-Anak? agama yang sedang gagap menghadirkan dirinya dalam masyarakat modern. Rasa gagap ini berakhir tragis: agama digugat oleh anak-anak. Agama–yang diwakili oleh sang ayah–belingsatan: seolah-olah mampu padahal tak berdaya mempertanggungjawabkan kekuasaannya. Karena kehabisan kata-kata, sang ayah berusaha menunda persoalan: ?Engkau masih kecil, sayang; nanti kalau kau sudah besar, engkau akan mengerti ?? atau ?Tidakkah kau sabar, sayangku, menunggu sampai engkau besar??. Continue reading “Spiritualitas dalam Sastra”

Kekuatan Cerpen

Retno Sulistyowati
http://www.tempointeraktif.com/

Plong! Harris Effendi Thahar lega sudah. Otot mukanya rileks, tak lagi tegang. Senyumnya lebar dan tawanya lepas. Disertasi yang telah dikerjakannya selama sekitar enam bulan akhirnya rampung dalam sidang terbuka Senat Universitas Negeri Jakarta, akhir pekan lalu. Hasilnya, dia dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan. Continue reading “Kekuatan Cerpen”

Bahasa ยป