Perempuan Cantik Itu Tersenyum Kepadaku

Dodiek Adyttya Dwiwanto
oase.kompas.com

Minggu siang ini aku kembali ke sini. Kembali ke tempat ini lagi. Sebuah pusat perbelanjaan di kawasan Semanggi. Lebih spesifiknya food court di plaza ini.

Entahlah di lantai berapa. Sudah tidak terhitung aku ke sini tetapi tetap saja aku selalu nyasar, kehilangan arah di tempat yang menurutku tidak beres tata letaknya. Mungkin arsitek yang merancang tata letak tempat ini baru lulus kuliah hingga membuat orang-orang termasuk diriku selalu tersesat. Dan hari ini aku datang lagi ke tempat itu. Seperti juga sebulan yang lalu. Dua bulan yang lampau. Setahun yang silam. Dan seperti yang sudah-sudah, aku tersesat.

Minggu siang ini aku kembali lagi ke sini. Bertemu dengan orang-orang yang sama. Teman-teman lama. Kawan-kawan saat masih kuliah di Yogyakarta dulu. Ya, semacam reuni, kumpul-kumpul, temu kangen, silaturahmi, kongkow-kongkow, ya, terserahlah mau dinamakan apa tetapi ya, begitu, deh, nostalgia mengenang masa lalu.
Udah di mana? Teman-teman udah pada kumpul, nih.

Sebuah pesan pendek alias sms masuk ke telepon selulerku. Aku melangkahkan masuk ke plaza ini. Malas mulai menyergapku.

Tempat yang sama?
Jam yang sama?
Orang yang sama?
Obrolan yang sama?
Sialan!
Setelah tersesat seperti biasanya, aku menemukan food court. Terlihat seorang temanku melambaikan tangannya dari kejauhan. Aku membalasnya.
Gila atau apa orang-orang ini, ya?!

Masak harus bertemu di tempat dan waktu yang sama! Dan aku bisa menebak kalau obrolannya juga tidak jauh berbeda dengan yang dulu. Hmm, mungkin bisa saja terjadi, kan orangnya juga sama. Bodoh sekali aku ini! Aku menepuk dahiku sendiri.
Sial!

Aku mendekati kerumunan meja sahabat-sahabat lamaku. Baru ada enam orang yang datang. Aku menyalami mereka satu persatu dan baru kemudian duduk. Lantaran baru datang, aku hanya menyimak saja obrolan mereka.
Sial!

Mereka tengah membicarakan masalah pekerjaan! Memang nggak ada kesempatan lain untuk bicara masalah kantor? Dimarahi boss, bawahan yang bodoh, rekan sekerja yang suka mencuri ide, flirting sama karyawan baru, selingkuh dengan sekretaris bos yang bahenol, kolusi dengan klien, gaji yang nggak naik-naik, promosi yang telat, atau bonus yang tidak kunjung dibayar selalu jadi bahan pembicaraan.

Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. Sebulan yang lalu mereka membicarakan hal ini. Dua bulan yang lalu juga. Setahun yang silam juga. Lho, kok, sekarang masih membicarakan hal ini? Apa nggak ada baiknya ngomongin yang up to date. Entah itu masalah politik ekonomi sosial budaya deh. Kan banyak, tuh, kenapa sih Noordin Moh Top susah banget ditangkapnya. Kenapa Gunawan Santoso bisa kabur dari Cipinang padahal ia bukan tukang sulap sekelas David Copperfield. Atau mungkin nggak almarhum Pramoedya Ananta Toer dapat hadiah Nobel? Atau kenapa sih Indonesia terkena bencana melulu? Tsunami, gempa, banjir, kecelakaan alat transportasi selalu jadi langganan?
Sial!

Aku hanya mendengarkan celotehan keenam sahabat lamaku ini. Sejatinya, tidak apa-apa sih mengenang masa lalu. Banyak yang indah, seru, lucu, bikin kangen, atau malah nyebelin. Tapi kalau tiap waktu dibicarakan, ya, bosan juga kan?
Aku masih mendengarkan keenam orang ini berbicara. Aku hanya mendengarkan saja. Mau ngapain, ya?

Aku melihat ke arah meja. Hmm, penuh dengan makanan dan minuman. Masing-masing telah memesan. Wah, mungkin ini waktu yang tepat untuk melarikan diri sejenak dari obrolan nostalgia ini.

Aku beranjak pamit untuk memesan makanan. Wah, lega rasanya.

Sengaja aku berputar-putar dulu. Menghabiskan waktu. Aku menuju sebuah gerai yang cukup jauh agar bisa waktu makin lama terbuang. Padahal sebenarnya aku hanya memesan orange juice dan french fries saja. Nafsu makanku sudah hilang sejak tadi. Makanan kecil ini hanya menjadi teman saja, seolah-olah menjadi pendengar setia padahal sejatinya pikiranku malah melayang ke mana-mana.

Hampir 15 menit aku berkelana hanya untuk segelas orange juice dan seporsi kecil french fries. Akhirnya, aku kembali lagi ke meja tempat sahabat-sahabat lamaku berkumpul.

Sekarang sudah ada delapan orang lagi yang datang. Total ada 15 orang yang hadir. Orang-orang yang sama, di tempat yang sama, tidak salah lagi kalau membicarakan masalah yang sama!
Sial!

Kini, mereka tengah membicarakan Sandra, si kembang kampus. Mati gue. Aku langsung menepuk dahiku. Not the same story again, please!

Mengulas kembali Sandra sama saja membicarakan diriku pada akhirnya. Sandra adalah perempuan yang paling cantik, bahenol, dan kayaraya di seantero kampus. Kebetulan aku, Sandra dan sederetan orang yang doyan bernostalgia ini memang satu jurusan. Hampir semua orang, entah itu lelaki atau perempuan, mengakui kalau Sandra memiliki sex appeal yang sangat tinggi. Makanya, banyak mahasiswa dari lain jurusan, lain fakultas hingga lain universitas jatuh cinta atau malah nafsu ingin melihat Sandra.

Namun, tidak banyak yang tahu kalau di balik kecantikan dan keseksian Sandra, ia ternyata seorang yang maniak seks! Kalau melakukannya dengan pasangan alias pacarnya ya wajar-wajar saja kan? Tapi Sandra lain! Ia suka melakukan one night stand alias kencan buta semalam. Saat clubbing, ia selalu mengajak siapa saja untuk diajak bercinta sampai pagi!

Teman-teman satu jurusan tidak ada yang mengetahui hal ini sampai suatu saat ada yang membuka masalah ini. Bodohnya lagi Sandra tidak malu-malu untuk mengakuinya. Gonta ganti pasangan membuat Sandra akhirnya kebobolan juga. Penyakit menular seksual memang tidak didapatnya tapi malah janin yang bersemayam di rahimnya.

Karuan saja, semua teman-temanku kaget, siapa ayah si jabang bayi? Semua orang yang pernah dekat dengan Sandra menjadi “tersangka” termasuk aku. Apalagi sebelum ketahuan hamil di luar nikah, Sandra dekat sekali denganku. Walaupun kemudian ada seseorang lelaki yang mau bertanggungjawab tetapi tetap saja banyak yang menyangka, ups salah, menuduh aku juga ikutan dalam “arisan nasional” meniduri Sandra!
Sialan!

Aku hanya pernah sempat menciumnya saja. Itu pun buatku hambar. Kok, nggak ada rasanya. Datar gitu deh. Begitu juga dengan Sandra yang menganggap ciumanku aneh. Kadangkala terbersit juga penyesalan, kenapa juga Sandra tidak mengajakku untuk bobo bareng, ya? Aku penasaran dengan gaya bercintanya di atas ranjang.
Sial!

Sekarang mereka semua memperolok diriku yang apes tidak pernah kunjung dapat mencicipi tubuh sintal dan mulus milik Sandra!
Sial!

Dari topik Sandra, mereka ganti bahan pembicaraan. Sekarang mereka sedang mengenang para dosen di kampus. Yang galak masih saja mendapat sumpah serapah. Yang pelit memberikan nilai juga mendapat salam dari para penghuni Kebun Binatang Ragunan.

Aku hanya mendengarkan saja. Aku makin bosan dengan cerita-cerita ini. Aku melihat sekelilingku. Semua meja terisi penuh. Masing-masing dengan kelompok dan gayanya masing-masing. Ada sekumpulan ABG yang duduk di sebelah meja kami. Ada satu keluarga besar yang duduk di pojokan sana. Ada juga sekumpulan orang-orang seusia aku dan teman-temanku.

Eits, ada pemandangan menarik tepat saat aku balik memandang ke depan. Empat orang berkumpul, salah satunya perempuan cantik bermata sendu. Ia duduk menghadap ke arahku. Aku dan dia sama-sama saling berpandangan. Aku tersenyum dan dia balik membalasnya.

Aku memperhatikan ketiga lelaki selain perempuan cantik bermata sendu itu. Hmm, salah satu lelaki tersebut pasti pasangan perempuan itu. Bisa jadi suami tapi aku yakin mereka masih berpacaran. Dari gerak gerik keduanya, aku bisa memastikan kalau mereka memang sepasang kekasih.

Ketiga lelaki itu berbicara sambil menyantap makan siang mereka. Hanya perempuan cantik bermata sendu itu saja yang tidak bicara. Ia hanya bicara sesekali dan makan dengan tenang sekali. Sesekali perempuan cantik bermata sendu itu melemparkan pandangan ke arah lain. Entah melihat sekeliling yang penuh dengan orang-orang. Tapi tidak jarang ia melihat ke arah jendela. Apalagi terlihat jelas di jendela kalau hujan turun dengan derasnya. Langit Jakarta gelap ditutupi awan. Gedung-gedung pencakar langit basah diguyur air hujan. Sesekali kilat menyambar dan suaranya terdengar sangat menggelegar.

Aku terus memperhatikan perempuan cantik bermata sendu itu.
Aku yakin ia bosan dengan apa yang dibicarakan oleh pasangannya dan kedua temannya itu. Sedangkan aku sendiri bosan dengan obrolan sahabat-sahabatku yang doyan mengenang masa lalu.

Perempuan cantik bermata sendu itu kemudian melihat ke arahku. Aku dan dia saling berpandangan. Ia tersenyum dan aku balik membalas senyuman manisnya yang penuh sejuta pesona.

Sejenak, aku pura-pura tidak melihatnya dan hanya mencuri-curi pandang saja. Sekilas, perempuan cantik bermata sendu itu mulai memperhatikan diriku. Mungkin ia menyadari kalau aku tidak comfort dengan obrolan orang-orang sekelilingku. Aku bisa memprediksikan ini karena sebaliknya ia juga tidak nyaman dengan obrolan orang-orang sekelilingnya.
Hmm, klop kan?

Dari topik dosen-dosen yang killer, para sahabat lamaku ini berganti topik pembicaraan menjadi masalah demonstrasi mahasiswa. Kebetulan, saat reformasi 1998, aku dan kawan-kawanku aktif ikut berdemo. Dan, kini, mereka membahasnya kembali. Tapi lucu juganya, mereka jumawa dan sombong karena bisa menumbangkan rezim Soeharto, tetapi mereka tidak berdaya saat berhadapan dengan dosen killer dan mereka juga tidak punya bargaining position saat berhadapan dengan para atasan di kantor. Absurd!

Aku makin bosan dengan topik-topik yang dibahasnya. Sialnya lagi french fries-ku habis dan orange juice tinggal sepertiga saja isinya. Aku ingin mencari makanan dan minuman tambahan, tapi aku malas untuk melangkahkan kaki. Apalagi food court ini makin ramai saja. Ah, kenapa juga aku tidak memperhatikan perempuan cantik bermata sendu itu lagi.

Saat aku mulai memperhatikan perempuan cantik bermata sendu itu, ia dan ketiga teman laki-lakinya seperti hendak berkemas-kemas untuk pergi. Ah, secepat itukah aku harus kehilangan dirimu, wahai perempuan cantik bermata sendu? Aku belum sempat mengenal dirimu. Aku baru bisa menikmati senyum manismu yang menawan.

Benar saja dugaanku. Perempuan cantik bermata sendu itu bersama ketiga teman lelakinya beranjak pergi. Sebelum pergi, tanpa sepengetahuan pasangannya perempuan cantik bermata sendu itu kembali tersenyum padaku. Ah, senyum terakhir sebelum aku mati kaku dalam obrolan membosankan bersama sahabat-sahabatku.

Food Court Plaza Semanggi, Jakarta, 5 Maret 2006 – Tebet, Jakarta Selatan, 10 Mei 2006

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *