Spiritualitas dalam Sastra

Tentang “Surga Anak-Anak” karya Najib Mahfuz

St. Sunardi
http://oase.kompas.com/

1/
Beginilah kita menyaksikan dalam ?Surga Anak-Anak? agama yang sedang gagap menghadirkan dirinya dalam masyarakat modern. Rasa gagap ini berakhir tragis: agama digugat oleh anak-anak. Agama–yang diwakili oleh sang ayah–belingsatan: seolah-olah mampu padahal tak berdaya mempertanggungjawabkan kekuasaannya. Karena kehabisan kata-kata, sang ayah berusaha menunda persoalan: ?Engkau masih kecil, sayang; nanti kalau kau sudah besar, engkau akan mengerti ?? atau ?Tidakkah kau sabar, sayangku, menunggu sampai engkau besar??.

Seandainya sang anak mengikuti nasihat ayahnya, pengertian agama macam apa yang sedang menanti saat anak menjadi dewasa? Pengertian agama yang bikin sang ayah panik atau pengertian yang bisa membebaskan sang anak dari garis batas yang ditarik atas nama agama? Pengertian agama yang diajarkan di kelas dan mimbar-mimbar atau pengertian agama yang didapatkan lewat praktik kehidupan? Allahu `alam!

Sayang bagi sang ayah: jawaban-jawaban semi-standar yang diberikan sang ayah pada waktu itu tidak memuaskan si kecil. Apalah artinya bagi si kecil jawaban sang ayah atas pertanyaan-pertanyaan tentang Allah (?Lalu Allah itu siapa, ayah??, ?Allah itu hidup di mana, ayah??), tentang nabi, tentang kematian (Mengapa kita tidak terus tinggal di dunia saja?), tentang moral, kalau semuanya itu tidak menjadi pendorong bagi sang anak untuk bersahabat dengan siapa saja?

Oleh karena itu sang anak bersikeras dengan jawabannya sendiri ? bukan jawaban yang sudah terlembaga melainkan jenis jawaban praktis: ?Pokoknya saya ingin terus-menerus bersama Nadiya! [?] Juga pada pelajaran agama?. Inilah suara sang anak, suara sang ayah yang dititipkan pada sang anak, suara penulis cerpen, dan barang kali juga suara kita para pembaca cerpen itu. Barang kali ini juga suara agama!

2/
Itulah gambaran agama yang menyerah pada (terkadang malah memperebutkan) lembaga-lembaga modern (dalam kasus ini lembaga pendidikan modern). Birokrasi masyarakat modern yang semestinya dikritisi terus-menerus supaya mempunyai daya refleksivitas justru sering kali diperebutkan karena lembaga-lembaga itu memang cocok untuk mereproduksi kekuasaannya terus-menerus. Hasilnya? Saya sebut tragis karena agama mengira bahwa agama berhasil menghadirkan dirinya dalam sistem masyarakat modern, padahal cara kehadirannya seperti itu bukannya tanpa masalah. Spisialisasi masyarakat modern dengan halus menjadi legitimasi ampuh untuk memisahkan anak-anak.

Dari dialog dalam ?Surga Anak-Anak? kita menangkap adanya sejenis rejim yang membuat orang sulit meninjau ulang kekuatan agama yang kita butuhkan pada jaman ini. Rejim itu tidak berada di sana, melainkan di sini, tidak berada dalam kitab namun diinskrikpsikan dalam pikiran kita. Regim inilah yang membuat sang ayah ? seperti saya katakan di atas ? tiba-tiba belingsatan menghadapi berbagai pertanyaan sang anak. Rejim ini terus menerus direproduksi sampai-sampai sang ayah mati kutu. Rejim ini pulalah yang di kemudiah hari bisa menentukan perilaku seseorang dalam bermasyarakat, berpolitik, dan bahkan dalam menilai dirinya sendiri.

Salah satu kekuatan rejim ini adalah kekuatan mengekslusikan, kekuatan membuat garis demarkasi pada berbagai level kehidupan. Islam dan Kristen hanyalah salah satu contoh hasil dari eksklusi produksi regim tersebut.

Rezim apakah gerangan ini? Rezim inilah yang justru sedang ditinjau ulang dalam cerpen tadi. Tidak mudah bagi kita untuk melokalisasi regim ini, mengukur kekuatannya, dan mengenali cara kerjanya karena kita semua ada di dalamnya. Kalau Marx mengatakan bahwa begitu lahir kita sudah berada dalam hubungan sosial yang tidak adil, di sini kita bisa mengatakan bahwa begitu lahir kita sudah berada dalam hubungan sosial yang terkotak-kotak oleh regim tersebut.

Inilah rezim yang justru sedang ditimbang-timbang ulang dalam cerpen ?Surga Anak-Anak? agar regim itu menampakkan dirinya dan demikian juga agar wilayah kehidupan manusia yang direpresi oleh regim itu terdengar jeritannya. Dengan cara inilah menurut hemat saya sastra berfungsi untuk terus-menerus menemukan kembali kekuatan spiritualnya dan mencoba melakukan fiksionalisasi bentuk-bentuk yang dibutuhkan oleh kekuatan spiritual tersebut. Jadi, spiritualitas adalah nama bagi sejenis pembebasan manusia. Selama ini, spiritualitas ini dikaitkan dengan lingkungan keagamaan. Namun, seperti akan kita lihat, mengaitkan spiritualitas hanya dalam lingkungan keagamaan juga bisa menjadi sejenis monopoli.

Mengingat besarnya potensi regim ini dalm mengciptakan kekuasaan yang tiranis, tidak mengherankan Mah?z menempatkan persoalan akidah menjadi satu di antara tiga alasan mengapa dia menciptakan karya-karyanya. Dua persoalan lainnya adalah politik ((al-siy?sa) dan seks (al-jins). Tiga tema inilah menurut pengakuannya tidak pernah absen dalam karya-karyanya. Pendapatnya ini pasti bukanlah sebuah preskripsi untuk menulis karya sastra.

Pendapat ini lahir dari seorang Mahf?z yang hidup dalam suatu masyarakat di mana masalah seks, politik, dan akidah menjadi instrumen paling ampuh untuk mengatur gerak-gerik individu baik dalam rumah maupun di luar rumah. Dunia seks, politik, dan akidah dibahas sedemikian rupa supaya dunia ini bisa menampakkan sisi-sisi lainnya (seperti afrodisia, power, spirit) dan tidak semata-mata menampakkan regim yang mengatur belaka.

*) Program Magister Ilmu Relidi dan Budaya Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *