Hidup Hanyalah Menunda Kekalahan

Sunaryono Basuki Ks
http://www.sinarharapan.co.id/

Memang, bagi Chairil Anwar, ?hidup hanyalah menunda kekalahan.? Lahir, hidup dan mati di tangan Tuhan. Semuanya rahasia Tuhan. Kalah dan menang juga rahasia Tuhan. Manusia wajib berusaha, soal kalah sudah menjadi garis tak perlu ditangisi.

Tapi bagi Bayu Sejati, hidupnya harus menunda kemenangan. Menang! Menang! Menang! Kemenangan suatu keniscayaan, sebagaimana kekalahan. Kemenangan bak datangnya matahari pagi dan kekalahan adalah matahari terbenam. Continue reading “Hidup Hanyalah Menunda Kekalahan”

Kota, Waktu, Puisi

Goenawan Mohamad
kompas.com

Perlu ada imajinasi arsitektural yang hendak merayakan nostalgia sebagai kesadaran puitis tentang masa lalu yang intim. Dengan demikian, sebuah kota membutuhkan sebuah “sajak panjang” dan tak hanya harus didirikan dengan ketidaksabaran.

Agaknya ada hubungan yang tersembunyi antara kesusastraan Indonesia, kota, dan sejarah. Hubungan itu tidak lazim dibicarakan, namun sebenarnya bukan sesuatu yang luar biasa jika kita ingat akan Revolusi Agustus, ketika dari Jakarta “Indonesia” dimaklumkan, dan sebuah negara-bangsa berangkat dari pertengahan abad ke-20. Continue reading “Kota, Waktu, Puisi”

Mengenang Kritikus Sastra Dami Toda

Gerson Poyk
http://www.suarakarya-online.com/

Penulis terhenyak ketika memperoleh berita bahwa Dami N Toda telah meninggal pada bulan November 2006 yang lalu. Perkenalan pertama kami terjadi di Sanggar Wowor milik pematung Michael Wowor di Jalan Kalibata Raya pada tahun enam puluhan ketika Menteri Perkebunan waktu itu, Frans Seda, memberi oder kepada Michael untuk membuat patung Irama Revolusi. Continue reading “Mengenang Kritikus Sastra Dami Toda”

Festival Puisi Weltklang, Berlin

Ketika Puisi Masih Dipercaya

Dorothea Rosa Herliany
kompas.com

PENGARANG Jerman, Wolfgang Borchert, pada Oktober 1947, pernah menulis manifesto antiperangnya yang terkenal, “Maka, hanya ada satu pilihan. Katakan Tidak!” (dann giht es nur eins! “sag nein!”). Kemudian hari-hari berlalu dan suatu hari aku datang di negeri itu. Aku habiskan waktu dengan menyusuri jalan-jalan di Berlin. Sampai Tembok Berlin itu juga: bilakah dulu jadi lambang kebebasan manusia? Betapa kini sudah tak tampak lagi jejak-jejak perjuangan manusia melawan tirani politik dan kekuasaan itu. Tapi, bisa jadi inilah wujud kebebasan itu, Continue reading “Festival Puisi Weltklang, Berlin”

W. J. S. Poerwadarminta Bapak Kamus Indonesia

Eko Endarmoko, Anton M. Moeliono
majalah.tempointeraktif.com

Sejak usia 20 tahun sudah mulai bergulat dengan bahasa. Dia mencatat sekaligus merumuskan arti kata sebagaimana yang hidup di tengah pemakainya.

WILFRIDUS Joseph Sabarija Poerwadarminta (12 September 1904-28 November 1968) masuk angkatan orang Indonesia pertama yang memperkenalkan bahasa Indonesia di luar negeri setelah peristiwa bersejarah Sumpah Pemuda. Ketika menjadi dosen bahasa Melayu di Sekolah Bahasa Asing di Tokyo (1932-1937), ia sering mengatakan kepada orang Jepang bahwa Indonesia sudah punya bahasa nasional sendiri. Continue reading “W. J. S. Poerwadarminta Bapak Kamus Indonesia”

Bahasa ยป