Hidup Hanyalah Menunda Kekalahan

Sunaryono Basuki Ks
http://www.sinarharapan.co.id/

Memang, bagi Chairil Anwar, ?hidup hanyalah menunda kekalahan.? Lahir, hidup dan mati di tangan Tuhan. Semuanya rahasia Tuhan. Kalah dan menang juga rahasia Tuhan. Manusia wajib berusaha, soal kalah sudah menjadi garis tak perlu ditangisi.

Tapi bagi Bayu Sejati, hidupnya harus menunda kemenangan. Menang! Menang! Menang! Kemenangan suatu keniscayaan, sebagaimana kekalahan. Kemenangan bak datangnya matahari pagi dan kekalahan adalah matahari terbenam. Ayah Bayu adalah pesilat sejati, murid perguruan Silat Nasional Perisai Diri. Mahagurunya RMS Dirdjoatmodjo yang waktu itu bermarkas di Surabaya. Saat dia menempuh kuliah di Fakultas Ekonomi Unair, dia berkenalan dengan Mondo Satrio, ikut kegiatannya berlatih silat, dan tentu saja, Mondo sudah menduduki tingkat cukup sebagai asisten pelatih dan akhirnya sebagai pelatih.

Mondo senang sekali mencoba anak didiknya dengan serangan-serangan mendadak di tempat berlatih, tetapi di luar itu dia tak mau bemain-main dengan ilmu silatnya. Bagi Mondo, kalau dia sudah mengenakan pakaian seragam untuk berlatih, maka wajib siap untuk diserang. Sering ayah Bayu memberikan dadanya untuk diserang setelah mendapatkan latihan dasar gwakang, ilmu mengeraskan tubuh. Satu-satunya cara berlatih ialah mencobanya.

Ayahnya juga berlatih kerohanian, yang diberikan langsung oleh Mahaguru PD. Mereka memanggilnya Pak De. Kata ayahnya, nama Bayu Sejati diambil dari ilmu kerohanian yang dipelajarinya. Di sana dilatih untuk bergerak dengan pertolongan Bayu Sejati. Dengan minta tolong Bayu Sejati, ayahnya dapat menggerakkan teknik silat apa saja. Dengan cara inilah ayahnya menyempurnakan gerak silatnya. Mulai dengan bagaimana menggerakkan teknik burung mliwis yang dianggap paling sederhana sampai menggerakkan teknik puteri bersembahyang yang dianggap paling sempurna.

Semua teknik itu disempurnakan ayahnya dengan berlatih tekun sampai dia mencapai sabuk merah saat wisuda sarjana. Suatu tingkat di bawah tingkat yang dicapai oleh Mondo Satrio saat itu, oleh Rudy Kapoyos, oleh Mulyono, oleh Ketut Tjitrana yang berasal dari Buleleng, oleh Made Suwetja yang berasal dari Denpasar. Semua nama itu akhirnya menjadi pendekar muda dan pendekar penuh saat Pak De meninggal di tahun delapan puluhan.

Semangat juang ayahnya itu yang menurun ke diri Bayu. Dia tak mau kalah. Tak mau menyerah. Soal bisnis tak boleh tawar-menawar. Memang hidup bagaikan roda, kata ayahnya, kadang di atas dan kadang di bawah.

Tiba-tiba muncul sosok Puji yang sangat dibencinya. Tepat berada di depan matanya, di perusahaan di mana dia bekerja, di meja di seberang mejanya. Tiap hari perempuan bertubuh kurus bagai wayang kulit itu berada di pelupuk matanya. Tiap hari dia mendengar suaranya yang melengking bagai kaleng kosong, dan senyumnya yang sama sekali tidak manis.

?Aku cantik kan, Mas Bayu?? tanyanya dengan nada menyebalkan di telinga Bayu.

?Cantik? Atas dasar apa??

?Kan ada lesung pipit di pipiku, Mas Bayu?? katanya sambil menunjuk pipinya dengan jari telunjuk.

?Lesung padi ada,? kata Bayu memuntahkan kejengkelannya.

?Aku juga seksi kan, Mas Bayu??

?Seksi konsumsi atau seksi perlengkapan??

?Jangan benci gitu, Mas Bayu. Benci tapi rindu, kan??

?Jangan ganggu aku. Aku sibuk!? Bayu membanting map data yang sedang dipegangnya. Suara braak tak mengejutkan Puji. Perempuan itu hanya tersenyum dan duduk dengan tenang di mejanya, membuka-buka tumpukan map penuh berisi angka-angka. Matanya bergerak ke kiri dan ke kanan, malahan juga ke atas dan ke bawah seolah-olah menelusuri data yang terhampar di depannya.

Bayu merasa pantatnya panas, bahkan matanya menyala merah. Puji pasti dapat menyaksikan bahwa wajah Bayu berubah merah legam bagai habis dipukuli di ring tinju. Tapi Puji justru tersenyum, seolah merayakan kemenangannya bisa membuat Bayu marah.

Celakanya, Puji justru dipromosikan jabatan menjadi bos Bayu. Tapi, Bayu bersyukur sebab dengan promosi itu Puji menempati ruang baru, terpisah dari ruang yang dihuni Bayu. Sekarang dia bisa tersenyum, terbebas dari tatapan genit perempuan tinggi kurus itu. Tapi, ternyata Bayu tak benar-benar dapat menikmati kebebasannya. Setiap hari, dua sampai tiga kali Bayu dipanggil menghadap ke ruang kerja Puji yang nyaman, yang hanya berisi meja kerja perempuan bos itu, telepon, lukisan burung-burung di taman dari Bali.

?Tahu kenapa kamu aku panggil??

?Mana aku tahu, Bos??

?Jangan panggil aku ‘bos’. Itu penghinaan.?

?Oh, maaf Nona.?

?Ini juga penghinaan, Tahu!?

?Lalu, aku harus panggil apa??

?Panggil Dik.?

?Wah, gak bisa Bu. Eh, Nona. Itu melanggar kode etik profesi. Seorang bos perempuan harus dipanggil Ibu, atau Madame, atau Nyonya, atau..?

?Hah! Nyonya? Kamu menghina lagi. Dalam tempo singkat kamu sudah menghina tiga kali.?

?Begini saja Tuan Puteri. Tolong dipasang tulisan di meja ini, para tamu atau bawahan harus memanggil Ibu apa??

?Jangan gitu Mas Bayu.?

?Maaf, Bu. Aku berkeberatan dipanggil Mas, sebab kita tak ada hubungan kekerabatan.?

?Soal itu kan bisa diatur, Mas??

Bayu ingin meletakkan kepalanya di atas meja dan meninggalkannya di situ. Darah menyembur dari urat-urat di lehernya, tetapi Puji justru bersikap sangat tenang.

Bayu duduk tak bernapas, memandang wajah Puji dan senyumnya yang mencuat dari lesung pipitnya. Dilihatnya seluruh tubuhnya seolah mau menembus blazer warna merah darah yang menyembunyikan baju putih berenda. Rambutnya yang hitam lebat dan ikal bagaikan gambar iklan sampo. Mata besarnya berkedip-kedip dan ternyata alisnya juga hitam tebal, membentuk garis yang kuat.

Tiba-tiba Bayu melihat cahaya, bukan pada betis Ken Dedes tetapi pada mata Puji. Dia ingin menutup kedua matanya dengan tangan tetapi merasa malu, jadi hanya dipincingkannya saja matanya seolah menahan silau matahari pagi.

?Kenapa, Mas??

?Ga apa-apa, Dik.? Sebut Bayu tak sadar.

?Nah, gitu kan mesra.?

?Maaf. Bu. Aku tak sengaja.?

?Sengaja juga tak apa.?

Hati Bayu tergetar. Entah mimpi apa semalam sampai pagi ini, setelah sekian kali dipanggil menghadap bos, dia melihat cahaya itu. ?I see the light,? itu yang terdengar di telinga hatinya.

Kembali ke ruang kerjanya sendiri, Bayu berjalan limbung bak layang-layang putus. Harus dia akui hari ini, Jumat pagi, dia mulai jatuh cinta. Bukan gara-gara lagu yang dinyanyikan Agnes Monica dalam konser Megalitikum Kuantum. Dia harus akui bahwa telah jatuh cinta. Tapi, bagaimana mungkin? Berbulan-bulan lamanya dia benci perempuan itu, kenapa tiba-tiba dia jatuh cinta pada dewi itu? Tak ada betis yang berkilau, sebab belum pernah dia saksikan Puji berjalan dengan betis terbuka, sebab Bayu selalu membuang muka bila perempuan itu melintas. Dan saat menghadap, dia hanya bisa melihat Puji dari pinggang ke ujung rambut kepala. Bahkan bentuk lengannya saja dia tak tahu.

Dia letakkan pantatnya di kursi, disambut dengan cerita Katri yang sekarang menempati meja Puji.

?Tahu, gak ada berita hangat??

?Apa itu? Aku pusing.?

?Ini pasti menarik. Bos kita diincar Bos Besar.?

?Ah, apa iya.?

?Bos besar kita kan kaya raya dan tampan, dan masih bujangan.?

?Ya, begitu kalau perusahaan milik keluarga. Masih muda langsung berada di puncak.?

?Tapi, Bos Besar kan tak terlalu muda? Dia punya gelar SE dan juga MBA.?

?Ya, ya. SE dan MBA entah dari universitas mana. Saat mulai bertugas kan gak bawa gelar-apa-apa, tetapi dalam tempo singkat, sim salabim, sudah Sarjana Ekonomi dan Master of Business Administration. Kutahu dia tak pernah studi di luar negeri. Boro-boro studi, berbahasa Inggris saja ga becus. Semua pekerjaan yang ada bahasa Inggrisnya dilempar padaku.?

?He, he. Cemburu ya??

Hati Bayu tergoyang lagi, tapi dia berusaha bersabar. Sudah, apa peduliku kalau Bos Besar jatuh cinta sama Bos. Biar saja mereka berbahagia.

Bukan begitu sikapnya saat dia sampai di rumah. Bayu merindukan Puji. Aneh. Untuk pertama kali Bayu merindukan Puji, dan masih harus melewati Sabtu dan Minggu sebelum dia bisa bertemu kembali dengan perempuan itu. Celakanya, dia tak punya nomor Hpnya, juga tidak nomor HP Katri, jadi harus bersabar menunggu sampai hari Senin.

Jam jadi menjelma karet, molor, molor terus tak tahu kapan sampainya ke jam kerja. Acara TV tak menarik. Film DVD tak menarik. Hanya bantal dan guling alias The Dutch wife. Apa memang betul guling terjemahannya begitu? Atau bolster lebih tepat? Hanya memeluk guling yang bisa dia lakukan, seolah memeluk Puji.

Senin pagi, belum seorang pun datang, dia sudah berada di depan pintu masuk, menunggu Puji datang. Detik terasa jam, menit terasa abad. Ah, kuno, pikirnya saat hendak beranjak. Mobil bos tiba, Ken Dedes turun dari mobil tapi betisnya tak terlihat berkilau. Memang bukan calon ratu yang membawa lelaki ke singgasana kerajaan. Bayu berharap Puji menampakkan lesung pipitnya, tetapi perempuan itu berlalu begitu saja seolah dia tak di sana. Padahal entah berapa abad Bayu sudah menunggu.

Apakah sudah direbut Bos Besar? Ah, Bayu menyadari kekurangannya, hanya seorang bawahan. Belum tertutup lubang di dadanya, sudah meluncur mobil Bos Besar, dan kedua bos itu saling menyapa, dan berjalan bersama menuju ruang atas dalam satu lift. Tak terlihat karyawan lain berani bersama masuk ke dalam lift.

Entah apa yang terjadi di dalam lift. Hanya sekian detik tetapi banyak yang bisa dilakukan. Dadanya bolong lagi. Makin hari dada itu makin bolong dan makin hari harapannya terbang bersama debu. Mungkin kemanjaan yang pernah diajukan Puji padanya sekarang diberikan kepada Bos Besar. Tak ada alasan untuk menolak, tetapi semangat juang Bayu yang jelas: Menang! Menang! Menang! membuat bolong di dadanya hilang. Pastilah promosi Puji menjadi Kepala Departemen merupakan akal-akalan Bos Besar untuk menjeratnya. Bayu merasakan ketidakadilan dan kecemburuan. Kalau dia menjadi Bos Besar, pasti Puji dinaikkannya menjadi Direktur Pengadaan Barang. Ah, khayal. Dia hanya seorang karyawan yang sewaktu-waktu bisa di-PHK.

Kenyataannya sekarang, Puji malah tak menoleh padanya. Dulu, setiap Bayu datang selalu dikejarnya dan lengannya selalu digayuti sampai terasa mau copot. Sekarang, saat dia mulai tertarik untuk jadi tumpuan, Puji terbang bagai gelatik kecil, berkececiap di udara.

Tidak ada panggilan menghadap. Satu hari, sepekan, sebulan, dua bulan. Dada makin bolong dan makin bolong. Dalam keadaan bolong-bolong seperti itu dia bertubrukan dengan Susilawati di kantin kantor. Perempuan itu karyawan kecil seperti dirinya. Perempuan itu hampir oleng, dan kemudian muntah-muntah.

?Ah, maaf, maaf. Aku jadi membuatmu sakit begini.?

Susy hanya menggeleng dan tersenyum kecil, barulah Bayu berbisik:

?Kamu hamil, Sus? Selamat ya? Kok gak ada undangan??

?Undangan bagaimana? Berbuat saja tak mengakui.?

?Bagusnya ditonjok saja lelaki itu.?

?Kamu berani? Dia sekarang punya pandangan baru. Aku didepak.?

?Kejam! Kejam!?

?That?s life, Bayu. Aku kurang hati-hati. Seharusnya diproteksi. Tapi, terjun bebas jadinya begini.?

?Lalu, siapa dia? Kurang ajar banget.?

Lama Susy terdiam. Setelah memesan semangkuk mi bakso dia berbisik:

?BB.?

?Benar??

?Ya.?

?Berani sumpah??

Di depan Puji Bayu ungkapkan semuanya tetapi Puji hanya tersenyum.

?Oh, jadi kamu menyelidik? Kaukira aku tak tahu? Aku juga mau bikin perhitungan dengan BB. Demi teman sejawat, sesama perempuan. Jadi, kamu mau denganku??

Dada Bayu langsung tertutup bolongnya. Matanya bersinar-sinar.

?Baik kalau begitu.? Katanya mengulurkan tangan.

Hampir Bayu memeluknya dan mencium pipinya dan mencium bibirnya, tapi Puji menyodorkan sebuah amplop mewah, pasti harganya mahal. Sebuah undangan pernikahan. Tertulis di sana sebuah nama yang dia hanya kenal, seorang pengusaha muda yang sukses, yang santun, dan yang tampan. Seseorang yang punya sebuah perusahaan besar gurita yang tetap berkembang. Bukan BB.

Dada Bayu kembali bolong. Mula-mula dia tak percaya pada Chairil Anwar dan memilih semboyan baru: ?Hidup haruslah menunda kemenangan.? Dan kemenangan itu sudah tertunda. Yang ada adalah Chairil Anwar. Benar-benar di depan matanya.

Singaraja, 17-25 Maret 2007

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *