PEMILU

D. Zawawi Imron
http://www.jawapos.com/

Pemilu legislatif atau pileg sudah 10 hari yang lalu dilaksanakan. Itulah pesta demokrasi yang paling hiruk-pikuk, meskipun tidak banyak hura-hura seperti pada pemilu-pemilu yang telah lalu. Hiruk-pikuk pemilu yang sekarang ialah karena persaingan antarparpol dan antarcaleg yang ketat.

Bayangkan, orang yang akan duduk di kursi legislatif tidak lagi berdasar nomor urut calon dalam satu partai, tapi berdasar perolehan suara terbanyak. Jadi, calon nomor sepatu pun bisa menjadi wakil rakyat asalkan orang yang mencontreng namanya lebih banyak daripada calon yang berada di nomor urut di atasnya. Itulah wajah pelaksanaan dan demokrasi terbaru di Indonesia.

Pada pemilu-pemilu sebelumnya, ketika pemilihan anggota legislatif berdasar nomor urut, biasanya para pengurus partai akan mencantumkan nama-nama mereka pada urutan atas, sehingga mereka bukan sekadar ”jadi calon”, tetapi bisa disebut ”calon jadi”. Tetapi, setelah diubah berdasar suara terbanyak, bisa jadi para penggede partai itu dikalahkan oleh orang-orang separtainya yang berjuang di ujung tombak. Sehingga para pemilik nomor urut atas itu harus menelan pil pahit.

Dalam dinamika politik seperti itu, sebagian aktivis partai atau caleg tidak lagi berjuang mengumpulkan suara untuk partainya, tetapi berjuang keras untuk memperoleh dukungan suara terbanyak untuk dirinya sendiri. Dalam pergumulan politik seperti itu, kadangkala terjadi kasus yang kurang pantas dipandang. Misalnya, rebutan pendukung sebagian caleg tidak lagi antara satu partai dengan partai lain, tetapi rebutan antarcaleg dalam interen partai sendiri.

Akibatnya, sebagian caleg tidak lagi berjuang untuk partainya, tetapi untuk dirinya sendiri. Kalau dalam pemilu yang lalu semua caleg berjuang untuk komunitas partainya, dalam pemilu sekarang sebagian caleg berjuang untuk kemenangan ”individu”. Bisa dikatakan, dalam Pemilu 2009 kolektivitas dan kemenangan partai agak terganggu oleh sebagian caleg yang kehilangan rasa kebersamaan dan kesetiaan pada idealisme.

Lunturnya kesetiaan itu, misalnya, tergambar pada proses penyusunan calon legislatif. Seseorang yang oleh partainya diletakkan pada nomor bawah, khawatir dirinya tidak terpilih karena belum ada ketentuan suara terbanyak, langsung hengkang ke partai lain tanpa beban. Bagi orang seperti itu, partai bukan lagi organisasi politik yang mempunyai tujuan mulia memperjuangkan nasib rakyat, tetapi lebih dipandang sebagai ladang yang basah untuk meraih keuntungan pribadi.

Meraih keuntungan pribadi dan mengeruk uang negara ternyata telah dilakukan oleh sebagian anggota legislatif hasil Pemilu 2004. Sebagian mereka yang melakukan korupsi telah mendekam di dalam bui. Perbuatan seperti itu bukan hanya mengkhianati negara dan rakyat, tetapi juga telah memberi citra buruk pada partainya. Citra buruk itu akan membuat sebagian kontituen partai eksodus ke partai lain.

Sesudah pemilu ini, semua caleg terpilih harus siap untuk memperjuangkan nasib rakyat. Para petinggi partai seyogyanya membekali para kadernya yang akan duduk di kursi dewan dengan integritas moral dan idealisme sehingga korupsi yang dilakukan wakil rakyat tidak terjadi lagi.

Kita berharap, para petinggi partai mulai mengevaluasi sepak terjangnya selama ini, untuk membersihkan semua hal yang tidak menguntungkan rakyat dan secara otomatis tidak menguntungkan partai. Gairah politik membutuhkan suntikan segar ruh kebudayaan, agar langkah-langkah politik yang ditempuh tetap berada dalam kekuasaan cakrawala moral yang membuat kiprah politik terasa cantik dan menyegarkan.

Akal sehat akan memandu kita menyadari kekurangan kita di masa yang lalu, untuk kemudian mengemas masa depan dengan mengutamakan rasa tepa slira dan kebersamaan. Politik yang sejalan dengan kebudayaan akan menghasilkan persaudaraan dan persatuan yang ramah, bukan perpecahan dan saling menuding yang tidak bertanggung jawab. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *