Sastra & Lokalitas, ‘So What Gitu Loh’…!

Ari Pahala Hutabarat *
lampungpost.com

DI Lampung perbincangan mengenai lokalitas sering menjebak kita untuk membawa kembali tradisi dari masa lalu ke masa sekarang. Kita takut sekali dianggap sebagai anak tiri atau anak haram dari tradisi.

Pertanyaannya, apakah kita mempunyai ayah dan ibu kandung tradisi ini? Apakah pernah ada orisinalitas itu, sesuatu yang murni, dari tradisi Lampung? Jawabnya, tidak ada.

Ini bukan hanya berlaku bagi tradisi Lampung. Ini juga berlaku bagi seluruh tradisi di muka bumi ini. Tidak ada yang dapat mengaku tradisinya asli, orisinal. Cultural studies secara ilmiah mampu membuktikan hal tersebut–klaim orisinalitas merupakan sebentuk imajinasi buatan kaum modernis.

Secara genealogi tradisi Lampung merupakan anak dari tradisi Islam dan Hindu. Kita dapat menyatakan tradisi Islam sama dengan Arab, Hindu sama dengan India. Jadi, mana tradisi Lampung yang orisinal gitu loh…!

Jangankan tradisi, agama saja tidak ada yang orisinal. Setiap agama selalu menyerap unsur dari agama sebelumnya. Jadi, dapat saya katakan keinginan kita teguh terhadap tradisi adalah mimpi di siang bolong.
***

Seluruh seniman besar di dunia adalah orang yang mampu berpikir secara global dan bertindak secara lokal. Sebut saja Derek Walcott, Isaac Bashevis Singer, Naguib Mahfouz, Yasunari Kawabata, Yukio Mishima, Gao Xing Jian, Rabindranath Tagore, Octavio Paz, Gabriel Garcia Marquez, Salman Rusdhie, V.S. Naipaul, dan Toni Morrison.

Dramawan Ong Keng Sen, Peter Brook, Grotowsky, Barba, Tatsumi Hijikata, Sardono W. Kusumo, Rendra, Arifin C. Noer, Putu Wijaya, Yudi Ahmad Tajudin, contoh-contoh yang lain. Mereka mempunyai satu kesamaan, memberikan tafsir baru terhadap tradisi yang ada di muka bumi ini melalui sudut pandang universal atau global.

Yasunari Kawabata sosok manusia Jepang yang paham tradisinya, hidup sungguh-sungguh dalam tradisi itu. Tetapi, di lain sisi ia mempertanyakan tradisinya. Dengan tekun Kawabata menyadap daya ucap dan cara ucap tradisi bushido Jepang.

Dengan cerdik pula ia kawinkan daya ucap dan cara ucap itu dengan global–dalam hal ini cerpen dan novel modern. Dia dan banyak sastrawan lainnya tidak berkukuh dengan tradisi-tradisi yang beku. Karena mereka tahu kekukuhan yang konyol itu akan membawa kesumukan laiknya anak-anak ABG yang baru merambah dunia seni.

Di lain pihak, Peter Brook dan Ong Keng Seng dengan sangat cerdik mengangkat langsung tradisi yang hidup di berbagai negara. Ong Keng Seng dalam setiap produksi teaternya secara eksplisit membiarkan tradisi tersebut bermain di panggung. Tetapi, tradisi-tradisi tersebut tidak memainkan diri sendiri.

Mereka asyik bersenda-gurau dengan bentuk-bentuk tradisi lain, lalu bersama-sama membicarakan hal-hal yang universal. Ada tema universal yang dibicarakan di panggung itu karena kalau tidak, mereka sama saja mengangkat museum-museum ke panggung.

Kenyataan seperti di ataslah yang membedakan karya seni dengan benda-benda yang dipajang di museum. Di museum, tradisi masa lalu dibiarkan atau diawetkan apa adanya. Romantisme menjadi kekal. Waktu berhenti karena ruangnya pun berhenti. Sedangkan dalam karya seni, tradisi bisa saja menjadi spirit sudut pandang tertentu dengan mempertimbangkan kenyataan sekarang.

Atau, bisa juga tradisi digunakan bentuknya sebagai oposan terhadap bentuk-bentuk yang hidup dalam kenyataan sekarang. Dalam karya seni, kata “tradisi” menjadi kata kerja bukan kata benda.

Tradisi tidak perlu dilestarikan, karena memang dia belum mati. Tradisi tidak perlu diangkat karena dia memang selalu berdiri sejajar dalam kenyataan hidup.

Tetapi, kita dapat melakukan hal-hal seperti itu hanya jika kita mampu membaca peta secara universal. Tanpa wawasan universal, kita pasti akan mengatakan tradisi kitalah yang paling unggul atau tradisi kitalah yang paling orisinal. Tanpa wawasan universal kita akan terjebak romantisme, yang sama saja dengan menyepelekan tradisi tersebut.

Berarti di satu pihak kita harus berdiam dalam tradisi, tetapi di lain pihak harus bisa mengambil jarak secara dingin terhadap tradisi. Untuk Indonesia dan Lampung, sastrawan yang berpikir global dan bertindak secara lokal adalah kewajiban karena kita akan rugi kalau kita berkukuh kepada hal-hal yang global itu padahal kita sudah tahu pemetaannya.

Sesudah tinggal di New York selama sekian bulan Sardono W. Kusumo kembali ke Solo dan menggarap “Sagmita Pancasona” yang sangat lokal. Sesudah kuliah sekian bulan di New York barulah Rendra sadar realisme ala Stanilavsky bukanlah segalanya. Setelah melanglang buana ke Eropa dan Jepang barulah Putu Wijaya mendayagunakan tradisi Bali-nya. Sesudah lelah bertahun-tahun memainkan karya Shakespeare secara standar barulah Peter Brook menengok kembali tradisi bentuk-bentuk teater lokal yang ada di Asia.

Apa kesamaan yang ada pada diri mereka? Semuanya mempunyai wawasan seni yang kosmopolit, tetapi juga mampu mendayaucapkan tradisi asal untuk berdiri sejajar dengan kemapanan konvensi Eropa dan Amerika. Bahkan, mereka menciptakan mainstream baru yang turut memperkaya khazanah kebudayaan dunia. Bentuk baru yang sudah lolos berkelit dari klasifikasi lokal-global, tradisi-modern.

Peter Brook, Jerzy Grotowski, Rendra, dan sebagainya adalah contoh orang-orang yang seperti Nabi Muhammad saw. telah memproses mikraj untuk kemudian kembali mendayagunakan lokalitas masing-masing. Dengan cara seperti itu kita tidak menjadi sumuk dan mengatakan karya kita penuh muatan-muatan lokal.

Pertarungan karya selanjutnya adalah pertarungan strategi, sehingga kita mampu berargumentasi secara luas dan ilmiah dengan mengedepankan tradisi di pentas-pentas global dengan cara ucap yang universal.

Sebagaimana yang dilakukan sastrawan Amerika Latin yang cerdik menggunakan bahasa Inggris dan Spanyol–notabene merupakan bahasa asli Eropa–untuk menyampaikan visi dan misi tradisi Amerika Latin mereka. Modernisme yang tadinya sangat jumawa berperan sebagai tuan, ditarik dari tahtanya, dan hanya dijadikan sebagai alat untuk menyampaikan spirit pemberontakan mereka.

Bahasa Inggris dan Spanyol menjadi senjata makan tuan bagi Eropa. Karya-karya mereka ditulis dalam bahasa Spanyol dan Inggris terjual jutaan eksemplar, tetapi isi karya-karya mereka secara eksplisit menggugat tradisi ke-Eropa-an.

Tak salah jika pernah seorang sastrawan Inggris berkata novel-novel terbaik yang berbahasa Inggris sekarang ini bukan diciptakan orang-orang Eropa tetapi ciptaan orang India, Amerika Latin, dan Cina peranakan, yang notabene merupakan anak tiri dari tradisi Eropa.

Eropa kecolongan. Bahasa yang tadinya merupakan alat imperialisme dan kolonialisme yang begitu penting sekarang ini berbalik menyerang mereka. Pengertian novel dan puisi modern disisipi, dipengaruhi, kemudian dijungkirbalikkan sastrawan-sastrawan Amerika Latin tersebut.

Via realisme mereka menciptakan realisme magis. Dan via realisme magis itulah sastrawan-sastrawan amerika latin menguasai dunia. Surealisme direbut dan diberdayakan mereka. Andre Breton dan Sigmund Freud menjadi seperti macan ompong jika dibandingkan kenyataan sehari-hari yang sangat surealistik di Amerika Latin.

Di Indonesia Danarto pun melakukan hal yang sama. Tanpa pernah berkoar ia mengangkat tradisi, ia langsung mendayagunakan tradisi dalam karya-karyanya yang universal dan kosmopolit itu. Dengan sangat piawai Danarto menggunakan tradisi Jawa yang tidak orisinal, langsung menukik pada inti tradisi yang ada di seluruh dunia, yang dengan sangat brilian diwakili tradisi Islam, yaitu wahdat al wujud atau manunggaling kawula gusti. Sebuah konsep yang universal yang ada pada setiap agama dan peradaban di dunia.

Sosok Danarto seharusnya kita tiru karena tidak berkoar dan tidak ge-er mengatakan tradisi harus diangkat dan lain sebagainya. Danarto secara praktis bermain menembus batas-batas semu ruang profan-profetik, ruang modern-tradisi, ruang ukhrawi-duniawi. Dengan sangat lincah Danarto “membadankan” visi-visi universalnya dalam tokoh-tokoh yang sangat Jawa dan Indonesia.

Batas-batas geografis menjadi panggung yang nisbi bagi tokoh-tokoh Danarto. Hamlet yang hidup di masa lalu dengan asyik saja masuk dan bermain di tanah Jawa. Ruang penciptaan adalah ruang yang netral. Kita seharusnya seperti anak-anak yang bermain, yang mudah saja beralih peran dari agama yang satu ke agama yang lain, dari ruang yang satu ke ruang yang lain tanpa rasa bersalah. Seorang sastrawan adalah seperti anak kecil dengan tubuh yang dewasa atau seperti para nabi dan waliullah yang dengan lincah bergerak menembus batas ruang dan waktu.
***

Saya sependapat dengan Oyos Saroso H.N. yang mengatakan seharusnya seorang sastrawan memberikan tafsir baru terus-menerus terhadap nilai atau bentuk dari lokalitas. Seorang sastrawan mestinya menjadikan nilai-nilai tersebut inheren, intrinsik dalam pikiran dan tubuhnya.

Dengan begitu, kata lokal, tradisi, etnisitas, dan lain sebagainya tak sekadar tempelan artistik dalam karya seni. Nilai lokal yang inheren itu akan ia olah dengan wawasan universal, buah pergaulannya terhadap dunia.

Ada persilangan, persetubuhan yang menarik di sini. Bertemunya dua arus besar yang membangun peradaban lokal/global. Hasilnya? Tentu akan sangat menarik.

*) Spiritualis di Komunitas Berkat Yakin (KoBER) Lampung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *