TANAH-INGATAN, KEKAYAAN BATHIN BAGI ANAK-ANAKNYA

Persembahan kepada Muhammad Iqbal,
Rabindranath Tagore & R.Ng. Ronggowarsito

Nurel Javissyarqi*
http://www.forum-sastra-lamongan.blogspot.com/

Bagi siapa pun bisa merayakan keheningan dalam percakapan.
ADA yang tergerak saat ingatan diluncurkan. Ingatan itu tangan panjang yang menelisik ceruk dalam. Jika dikelola akan mendapati kesemangatan jiwa. Saat dipersatukan lewat penjabaran, atas lelangkah pengembaraan bathin dalam masa-masa silam bersimpan rindu.

Ketika ingatan dirawat, terwujudlah samudra bersama deretan gelombang gagasannya. Yang selalu bermunculan, manakala angin inspirasi terus dihembuskan kepada yang dahaga menuntut perjumpaan, hingga tercapailah nyanyian jiwa seimbang.

Saat waktu berkelanjutan, ingatan berjalin menjadi gugusan terindah esok hari. Penantian bukan saat-saat membosan, jika yang tertikam mau menterjemah wewaktu luang, sebagai lahan subur kreatifitas (meski) di tikar pesakitan.

Diri yang hendak menyempurna, menggali kedalaman berpijak; mata kaki tangga kemungkinan mendekati realitas yang terharapkan. Dan ingatan yang tertangkap oleh menyoal kepahitan. Namun, usah gusar di kemakanan beban sedih jawaban.

Segalanya mengalir, kita ciptakan tanggul kokoh demi maksud yang tercitakan. Sungguh yang susah payah menuju keberhasilan. Ini jalannya merawat ingatan, agar bertambah menggairahkan di dalam menggugah pengalaman.

Yang terjatuh di lubang serupa, sebab tak menghargai kemarin sebagai bahan pelajaran. Sia-sia jika tak menghadirkan ingatan silam demi tanjakan, padahal perubahan masa mengajaknya menuai makna. Yakni ingatan yang tertumpuk akan melemah, jikalau tak dipelihara lewat mawas diri senantiasa.

Inilah jiwa berkembang, kesadaran mengaca pada sesamanya, esok bakal bercahaya pandangan seorang. Ingatan itu memetik bebuahan yang tertanam, maka mustahil memanen ladang kosong; inilah proses pendewasaan yang kudu dilakukan, kalau berharap limpahan berkah makna.

SEBAGAIMANA tanah sumber kehidupan, anak manusia yang berjalan itu nyala api hayati, menghimpun dinaya yang beredar dari perubahan musim, sebagi tanda kasih langit, tanpa bayang-bayang mega selain kerinduan.

Saat insan terlahir, ia telah bersalam ruh nenek moyang; kejadian bathinnya menjelma bentukan takdir, oleh lelaku kehendak berkuasa di atas kaki-kaki kesadaran dunia.

Inilah pulung memancari malam benderang, pengharapan fajar menyeruak pekabutan, menggulirkan bulir-bulir embun. Lalu makna hayat berbicara, saat bayu meniup pada telinga rindu akan ayunan yang mendewasaan.

Meski merantau ke sebrang, insan tetap merindu-ingat-tanah muasal, kejadian gelombang mengarungi parasaannya yang dalam. Suatu saat dapat mengancam, jika keinginan jahat penunggui di balik badan.

Dalam balutan tubuhnya, denyutan darah perjanjian moyang, nilai-nilai yang diwarisi sejak dalam kandungan. Maka meski jauh merantau, hakikat tanah-kelahiran-ingatan itu tetap terbawa, sampai ajal membaringkannya.

Pengharapan masa baik pada setiap tikungan pergolakan, membuatnya bertahan sebagai lemah-lempung mematangkan jiwa, memaknai dirinya yang dierami tanah-ingatan. Barang siapa bersanggup mengolah keuletannya mencapai kilau cahaya, sebiji jarak bagi minyak lampu di pedusunan jiwa.

Senyum bulan ibunda tetap menyetiai anak-anaknya, memberinya nyenyak selepas merebahkan badan perjuangan. Jikalau teriknya siang, matahari menyengat kulit memberi kesadaran; ia diawasi ayahanda kehidupan dalam setingkap langkah perbuatan, sebagai ejawantah tanah kelahiran ingatan.

Dan jiwa-jiwa tradisi permenungan menjadi daya ketenangan, saat di awang-awang kemungkinan menerbangkan jasad yang keropos. Mimpi sebagai kesucian, ketika tempat melepaskannya menuju ruang kedamaian.

Langit menaungi gemintang saat memanjat ingatan, mununtun kepada kepulangan abadi, membuka pepintu rahasia wengi, kelambu halus tersentuh makna hayati. Tanah tumbuh bebunga beserta duri-durinya, menterjemah perubahan waktu dalam kelopaknya yang menawan.

Bagaimana kembang berbicara kepada manusia, bebatuan kerikil memberi pengajaran. Insan terus mengembara dalam batiniahnya, sebelum menemukan telempap labuhan jiwa.

Menuntunnya membaca tanda di jalan kembara, merawat ruang-waktu yang berkelebatan, sebagian dianggapnya musim tak kekalkan makna. Ia mengabdi pada tumpah darahnya; menyungguhi terjadinya sejarah.

Ketentuan terbentuk setelah berlatih permenungan, menumbuhkan bebulu sayap hasrat menaiki tangga-tangga awan, mengikuti tiupan angin bathiniah.

Seruling jiwanya mengumandangkan hidup menuju tlatah tanpa warna, wilayah yang belum memasuki berita. Lalu mengikuti dengan kehati-hatian membaca, menjabarkan hasrat serta kekinian;

?Air menumbuhkan pohon pada tanah,
menyegarkan lipatan rasa yang terkira.?

Keahlian dapat dipelajari atas penampakan hingga yang terjadi. Di mana yang berselimut kudu dirabah dengan jemari perasaan masa, agar tak lama memaknai usia.

Ini penggalian tanah leluhur, menempa spiritualitas, menggayuh perahu hayat sambil berkidungan, agar fajar terlaksana di kaki-kaki pesisir realita. Sebagaimana seruan ini;

?Wahai tanah kelahiran ingatan
daku tengah membicarakanmu
maka berikan petuah-petuahmu,
lalu lemah-lempung itu menggeliat
selepas terpanasi matahari?

Sebuah kemungkinan, di mana menarik kabut membayang, meyakinkan diri sebagai yang terjadi. Terpana atas kemabukan rahasia, bagi yang tidak sanggup mendegarkannya.

Ini percakapan hening, menterjemah tanah-ingatan manusia, mengembangkan unsur senyawa memercikkan cahaya, merespon sekitar demi teguhnya pendirian. Bukan menujum pembaca melampaui pagar rumah, namun membuka jejaring kemungkinan bagi luasanya jiwa bercakrawala.

*) Pengelana dari desa Kendal, Karanggeneng, Lamongan, Jawa Jimur, Indonesia.
7 Mei 2006, 09 Lampung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *