Dialog tentang Pendidikan bersama Sastrawan Prof. Dr. Abdul Hadi WM

dengan Arif Gumantia di facebook

Semboyan negara kita Bhinneka Tunggal Ika. Hanya saja sekarang ini Bhinneka Tanggal Ika. Kemana Ika?

Arif Gumantia
April 13 at 10:45pm
Ika telah tanggal… nggih pak…
karena tidak pernah ada yang peduli dan yang merawat…
semua hanya mencari materialisme dan pragmatisme dalam sebuah
ke-Bhinneka-an…

Abdul Hadi Wm
April 17 at 9:47pm
Kita — orang Indonesia yang beragam etnik, budaya, bahasa dan aliran agama — ini kan satu rumpun Melayu Mongolid, bahasanya satu rumpun pula Austronesia. Karena yanng mengikat kita ialah keserumpunan etnik dan geografi kenapam pelajaran aanthropologi budaya dan geofrafi diabaikan di sekolah menengah. Juga pelajaran sejarah kebudayaan, sejarah kesenian, kesusastraan, bahasa, dan lain-lain. Orang Kristen tak mau tahu orang Islam, dan tak mau mengetahui agama Islam, begiu pula orang Islam tak mau tahu agama Kristen, karena tak merasa perlu. Begitu seterusnya dengan orang Hindu, dan merea yang percaya pada agama. Mengapa semua itu terjadi? Kesalahan terbesar adalah politik penngajaran di sekolah yang hanya berorientasi kepada ilmu-ilmu positivistik. Apa yang ada dan merupakan kekayaan budaya bangsanya tidak dipelajari. Termasuk khazanah intelektual arisan zaman Hindu, Buddha dan Islam. Bukankah itu suatu kebodohan. Bangsa kita sering membohongi sejarah dan kini sebagai imbalannya ternyata dibohongi oleh sejarah.

Arif Gumantia
April 17 at 9:58pm
terus menurut pak abdul Hadi…bagaimana sebuah kurikulum dalam sekolah-sekolah bisa mengakomodasi tentang Keragaman ini. adakah contoh konkretnya?
agar fanatisme yg destruktif tidak selalu di kedepankan dalam kehidupan kebangsaan ini pak.

Abdul Hadi Wm
April 18 at 8:31pm
Kalau anda kenal paman, kakak atau siapa saja lulusan SMA antara 1955 – 1966, lihat saja kurikulum yang diajarkan di SMP dan SMA ketika itu. Begitu kelas III SMP sudah dibedakan antara jurusan Sosial Budaya (A) dan jurusan Ilmu Pasti Alam (B). SMA dibagi jadi tiga jurusan A (Sastra dan Kebudayaan), B (Ilmu Pasti dan Alam) dan C (Sosial Ekonomi). Di SMP diajarkan kesusastraan Indonesia dan Daerah (di Jabar Sunda, di Jawa Tengah dan Timur sastra Jawa, di Bali sastra Bali, di Madura sastra Madura dst). SMA Bg A diajarkan bahasa Indonesia, Daerah, Jawa Kuna, Arab Melayu, Inggris, Jerman,dan Perancis. Juga Anthropologi Budaya, Sejarajh Kebudayaan, Sejarah Kesenian, Tata Negara, Ekonomi, Sosiologi, Geografi Sosial, dll. Dalam sejarah kebudayaan diajar tentang agama Hindu, Buddha, Islam dan lain-lain, beserta hasil-hasil kebudayaannya. Kenapa sastra Jawa Kuna dan Melayu? Karena dalam dua bahasa inilah khazanah intelektual Nusantara banyak dihasilkan. Murid Bagian A tak perlu belajar fisika, matematika (kecuali Aljabar), biologi (kecuali ilmu kesehatan). Dan seterusnya. Pelajaran sarat dengan teori dan analisis, tidak sekadar hafalan. Jika anda lulusan SMA Bg C (Sosial Ekonomi) maka anda telah mengetahui banyak teori ekonomi dan pembangunan, sehingga tidak kagok begitu masuk Fakultas Ekonomi. Begitu seterusnya. Di SMA bg C dipelajari bahasa Inggeris dan Perancis, di bagian B bahasa Inggeris dan Jerman.

Arif Gumantia
April 18 at 8:38pm
wah..sebuah kurikulum di tahun 1955 sampai 1966 yang sangat hebat. kenapa justru di hilangkan. kebetulan bapak saya guru bahasa dan sastra indonesia SMA pak, saya tanya kemarin..beliau bercerita bahwa waktu SMP sudah di minta sama gurunya untuk menerangkan larik-larik dalam puisi aku-nya chairil anwar. sebuah analisa terhadap puisi..padahal masih SMP.
kenapa justru sekarang malah nggak seperti jaman itu ya pak?
haruskah ada revolusi terhadap dunia pendidikan?

Abdul Hadi Wm
April 18 at 10:48pm
Yang harus dirubah adalah: Politik pengajaran Sastra, politik pengajaran science, politik pengajaran kebudayaan, politik pengajaran ilmu sosia, politik pengajaran ilmu ekonomi, pengajaran ilmu tehnik, politik pengajaran agama. Artinya semua itu diajarkan untuk tujuan apa, dengan metode dan sistem bagaimana, harus diselaraskan pertama-tama dengan upaya meningkatkan kecerdasan rakyat. Orang yang cerdas punya wawasan luas, pengetahuan yang mendalam dalam bidangnya. Geografi misalnya diajarkan supaya rakyat Indonesia tahu keadaa anah airnya, hasil buminya, hutannya. Ilmu kebudayaan diajarkan agar tahu kebudayaan bangsanya, termasuk kesenian dan kesusastraannya.

Arif Gumantia
April 19 at 5:51am
berarti Politik pengajaran dalam pengertian Metode, sistem, dan tujuan pengajaran sebuah ilmu ya pak. wah betul juga ya. selama ini yang saya rasakan di sekolah dulu hanya menghafal aja..tanpa tahu tujuannya untuk apa.
jadi dengan sistem yang benar akan bisa mengakomodasi semua kecardasan anak yang di ajar. yang menurut howard gardner ada Multi inteligent..
ada yang cerdas Bahasa, cerdas Logika, Cerdas seni, Dll.
betul demikian pak Abdul Hadi?

Abdul Hadi Wm
April 19 at 10:50pm
Politik di sini dapat diartikan sebagai kebijakan atau siasat. Politik pengajaran sastra ialah bagaimana kebijakan pengajaran sastra, untuk apa sastra diajarkan, materi pelajaran apa yang harus diberikan. Politik pengajaran sastra berada di bawah politik pendidikan dan pengajaran, sekaligus bagian dari politik kebudayaan. Kalau politik pengajaran kita hanya untuk memberikan dasar pengetahuan berkaitan dengan ketrampilan bekerja (menjadi pegawai), maka politik pengajaran akan terpengaruh. Dulu yang disebut Dep Pendidikan Nasional ialah Departemen Pendidikan dan Pengajaran. Pendidikan budi pekerti, keruhanian, dan lain-lain termasuk cakupannya. Begitu pula pendidikan kewarganegaraan, nasionalisme dll. Agar berhasil ia harus ditunjang materi pelajaran tertentu seperti agama, sejarah, kebudayaan, kesusastraan, bahasa, anthropologi, sosiologi, geografi, dll. Melalui pelajaran anthropologi misalnya kita diajari bahwa bangsa kita terdiri dari berbagai etnik (Sunda, Batak, Jawa, Bali, Bugis, Madura, Minangkabau dll). Dijelaskan pula sejarah munculnya etnik tersebut, geografinya, ciri-cirinya, sistem kepercayaan, sistem kekerabatan, organisasi sosialnya, budayanya dll. Misalnya egini: Orang Minang itu beragama Islam, tetapi corak pendekatannya terhadap berbeda dengan orang Mdura yang beragma Islam. Kenapa? Karena pengaruh ajaran pembaruan di Minangkabau cukup besar, sehingga organisasi yang dominan di sana adalah Muhammadiyah. Orang Madura tidak begitu terpengaruh gerakan pembaru, karena NU sangat dominan di sana. Dst.

(Prof. Dr. Abdul hadi Wm, salah satu sastrawan besar milik negeri ini, Guru Besar yang sekarang mengajar di Fakultas Falsafah dan peradaban Universitas Paramadina Jakarta)

Dialog terjadi antara saya dan beliau di ruang Message Facebook.

Madiun, 02/05/2008
Arif Gumantia

We don’t need no education
we don’t need no thought control
No dark sarcasm in the classroom
Teachers leave the kids alone
Hey teacher leaves the kids alone
All in all its just another brick in the wall
All in all you’re just another brick in the wall

“Another Brick in the wall?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *