Intimasi Puisi Penyair Metro

Binhad Nurrohmat*
http://www.lampungpost.com/

Metro merupakan kota dengan kompleksitas kultural. Kota ini dibangun 1930-an dalam rangka Politik Etis Pemerintah Kolonial Belanda di Hindia-Belanda.

Masyarakat dari beragam suku besar di Pulau Jawa dan Pulau Bali dengan bekal cangkul, bajak, sapi, kerbau, palu, dan paku diseberangkan kapal Kolonial Belanda ke wilayah ini untuk membangun kota multikultur. Pendatang membawa tradisi agama, bahasa, niaga, bersawah, dan berladang. Pribumi tetap berkebun lada, cengkih, dan merica. Continue reading “Intimasi Puisi Penyair Metro”

Teks, Pembaca, Interpretasi

Bandung Mawardi*
http://www.lampungpost.com/

Pemikiran Roland Barthes dalam The Death of the Author (1968) mengandung implikasi bahwa pembaca menemukan otoritas besar memainkan interpretasi dalam membaca atau mencari-merumuskan otonomi pembaca tanpa beban hantu pengarang. Otoritas pembaca dengan kematian pengarang itu memberi risiko atas mekanisme dan parameter kesahihan interpretasi. Risiko membaca terkadang menentukan nasib teks sastra dalam konteks eksistensi dan esensi. Continue reading “Teks, Pembaca, Interpretasi”

Tabung Oksigen Ketiga dari Pidi Baiq

Judul buku: Drunken Mama, Keluarga Besar Kisah-Kisah Nonteladan
Penulis: Pidi Baiq
Pengantar: Prof. Bambang Sugiharto
Penerbit: DAR! Mizan, Februari 2009
Tebal: 216 halaman
Peresensi: Denny Ardiansyah*
http://www.lampungpost.com/

Untuk ketahuilah bersama alangkah hidup ini menakjubkan, sungguh menakjubkan. Sayang sekali kalau hidup bagimu hanya sekadar untuk menghirup oksigen. (Pidi Baiq, Drunken Mama; hlm. 116–117) Continue reading “Tabung Oksigen Ketiga dari Pidi Baiq”

Kandungan ‘Gizi’ Puisi Jimmy

Choirul Muslim*
http://www.lampungpost.com/

SETIAP membaca buku puisi, terkadang saya menikmatinya sebagai proses mencerna makanan. Ada laku fisik sebagai awal untuk memenuhi kebutuhan dalam diri, “kebutuhan metafisik” kalau boleh menyebutnya. Puisi adalah bongkahan gizi, yang hanya berguna ketika kita mampu mencerna dan menyerapnya ke dalam tubuh menjadi konstituen kesadaran batin pembaca. Jika tidak dicerna, puisi hanya lewat utuh di dalam tubuh, seperti musang memakan buah kopi. Dalam hal ini puisi dianggap bukan gizi, dibuang bersama feses diri. Continue reading “Kandungan ‘Gizi’ Puisi Jimmy”

Melacak Asal Usul Orang Lampung

Febrie Hastiyanto*
http://www.lampungpost.com/

SEBAGIAN (besar) masyarakat Lampung percaya bila mereka berasal dari Sekala Brak, Lampung Barat. Sekala Brak pertama kali dihuni suku bangsa Tumi. Setelah kedatangan empat umpu dari Pagaruyung sekitar abad XV atau XVI, yakni Inder Gajar bergelar Umpu Lapah di Way, Pak Lang bergelar Umpu Pernong, Sikin bergelar Umpu Nyerupa, Belunguh yang bergelar Umpu Belunguh, dan seorang putri Indarwati bergelar Puteri Bulan terjadi migrasi Sukubangsa Tumi ke berbagai penjuru. Yakni hampir seluruh wilayah Lampung, hingga ke Sumatera Selatan bagian selatan dan pantai utara Banten. Dari Sekala Brak ini kemudian lahir sembilan keturunan (kebuayan) besar yang berkembang menjadi puluhan marga. Continue reading “Melacak Asal Usul Orang Lampung”

Bahasa ยป