
Sitor Situmorang Continue reading “Sitor Situmorang, Karena Sastrawan Bukan Malaikat”
Mendulang Cerita dari Amsal dan Umpama
Judul : Parang Tak Berulu
Penulis : Raudal Tanjung Banua
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan : Pertama, Mei 2005
Tebal : 182 halaman
Peresensi: Damhuri Muhammad
ruangbaca.com Continue reading “Mendulang Cerita dari Amsal dan Umpama”
“Leontin Dewangga” dan Sastra Perlawanan
Asvi Warman Adam
http://www2.kompas.com/
JATUHNYA Soeharto membuka peluang munculnya karya sastra yang selama Orde Baru terlarang. Tiga dekade rezim otoriter itu identik dengan kematian sastra kiri, yaitu karya pengarang yang dianggap “terlibat G30S”. Demikian yang dialami Martin Aleida yang kiprahnya di dunia sastra tersumbat lebih dari 30 tahun. Baru sejak medio 1998 Martin bisa menerbitkan beberapa buku, yaitu Malam Kelabu, Ilyana dan Aku (kumpulan cerpen), Layang-Layang Tidak Lagi Mengepak Tinggi-tinggi (novelet), dan Perempuan Depan Kaca (kumpulan cerpen). Yang terakhir adalah Leontin Dewangga (kumpulan cerpen) yang terbit akhir Desember 2003. Continue reading ““Leontin Dewangga” dan Sastra Perlawanan”
Monginsidi, Chairil, Kartini
Goenawan Mohamad
http://www.tempointeraktif.com/
Shot? so quick, so clean an ending?
Oh that was right, lad, that was brave
Yours was not an ill for mending,
?Twas best to take it to the grave
? A.E. Housman (1859-1936).
Mereka menembak mati Monginsidi di Pacinang, Makassar, tanggal 5 September 1949. Continue reading “Monginsidi, Chairil, Kartini”
Hidup yang Terus Mengalir
AJ Susmana
http://cetak.kompas.com/
Sejarah seringkali dikonstruksi dalam bingkai ?sejarah negara?. Kadang, perjuangan yang dihidupi dengan jiwa dan raga tak membawa hasil seperti yang diharapkan. Kekecewaan dan rasa sesal pun melanda di hati. Akan tetapi, itu tampaknya tidak berlaku bagi wanita-wanita mantan prajurit gerilya yang telah menghabiskan sebagian hidupnya dalam perjuangan gerilya nan panjang di hutan tropik Semenanjung Melayu. Continue reading “Hidup yang Terus Mengalir”
