PETA SASTRA TAMADUN MELAYU

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Edi Sedyawati, dkk., Sastra Melayu Lintas Daerah, Jakarta: Pusat Bahasa, 2006, xii + 419 halaman.
?Tak kenal maka tak sayang.? Itulah yang terjadi pada dunia Melayu, khasnya yang menyangkut selok-belok ketamadunannya (peradaban). Dunia Melayu yang pernah dicitrakan para orientalis sebagai bangsa Timur ?pribumi?yang serbaterbelakang, sesungguhnya menyimpan kekayaan tamadun yang agung. Sejak lama ketamadunannya itu wujud dan mendapat apresiasi yang tinggi dari bangsa-bangsa yang sudah lebih dulu menjadi salah satu pusat kebudayaan dunia. Bangsa-bangsa besar Asia, seperti Mesir, Tiongkok, India, Parsi, dan bangsa Eropa, mengenal dunia Melayu melalui hubungan perdagangan, penyebaran agama, dan pertukaran kebudayaan. Bahkan, dilihat dari penyebarannya, jejaknya hingga kini masih tampak dalam wilayah yang begitu luas.

Kawasan Asia Tenggara adalah pusat kebudayaan Melayu. Dari sana gelombang pengaruhnya menyebar mungkin dibawa para gujarat India, pedagang Cina atau para penyebar agama melalui jalan darat lewat jalur sutra Tiongkok, India, Parsi, sampai ke Turki di Asia Barat dan berakhir di ujung Eropa Timur. Melalui pelayaran dari Laut Cina Selatan ke selat Malaka sampai Kepulauan Nikobar dan berakhir di Madagaskar sampai Afrika Selatan. Kita juga dapat menemukan jejaknya di pulau-pulau di sekitar laut Karibia terus ke timur sampai Suriname. Jejaknya di Selandia Baru dan Australia adalah perkembangan terakhir. Jadi, betapa luasnya penyebaran kebudayaan Melayu. Ia dapat ditelusuri melalui kosakata bahasa dan benda-benda budaya yang menunjukkan proses akulturasi kebudayaan Melayu dengan kebudayaan setempat atau sebaliknya.

Buku Sastra Melayu Lintas Daerah (editor Edi Sedyawati, dkk. Jakarta: Pusat Bahasa, 2006, xii + 419 halaman), tentu saja belum berpretensi hendak melakukan pemetaan tamadun Melayu sampai ke wilayah yang begitu luas. Ia baru mencoba mencungkil salah satu aspek yang sering dianggap representasi peradabannya, yaitu dunia sastra! Maka, konsep sastra dalam buku ini ditempatkan dalam konteks yang sangat luas, bahkan juga cenderung longgar. Hal yang sama diperlakukan pada konsep daerah. Meski secara dikotomi istilah itu mengisyaratkan adanya hubungan pusat?daerah yang berbau hegemonik, para penyusun buku ini menempatkannya sebagai lokalitas yang tidak dibatasi wilayah administrasi dan politik. Pengertian lintas daerah, di dalamnya termasuk khazanah sastra di wilayah Patani (Muangthai), Mindanao (Filipina), Semenanjung Melayu (Malaysia, Singapura, Brunei) dan kawasan yang masuk wilayah Indonesia.

Sebagai usaha membuat peta sastra Melayu, tentu saja itu merupakan langkah yang mustahak. Sebuah panorama terpampang dengan berbagai ulasannya yang dalam dan dangkal. Tak terhindarkan, problem kedalaman dan kedangkalan itu kerap mewarnai sebuah buku yang menghimpun setumpuk tulisan dari sejumlah sarjana. Termasuk juga perkara pembagian bab yang kurang proporsional. Meski begitu, cara pembabakannya yang sistematik menggiring kita memasuki dunia Melayu sampai ke pelosok-pelosok yang tak terduga. Maka, buku ini tidak hanya berhasil mencantelkan sastra ?lisan dan tulisan?dengan kebudayaan yang mempengaruhinya, tetapi juga dengan keberagaman masyarakat yang menghasilkannya. Dengan demikian, buku ini sekaligus juga mengisi banyak ruang kosong yang tak disentuh Liaw Yock Fang (Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik, 1975) dan T. Iskandar (Kesusasteraan Klasik Melayu Sepanjang Abad, 1995).

Periksa saja, misalnya, tulisan Susanto Zuhdi yang menempatkan dunia Melayu dalam perspektif sejarah dan pergulatan hegemoni kerajaan-kerajaan di Nusantara. Perebutan kekuasaan politik dan penguasaan wilayah perdagangan secara langsung ikut mempengaruhi perkembangan kebudayaan Melayu. ?Perkembangan kemelayuan kuno dimungkinkan oleh kehadiran Kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Palembang dan Jambi yang memainkan peranan penting di Asia Tenggara tidak kurang 500 tahun lamanya sejak abad ke-7? (hlm. 34).

Dalam perkembangannya, masuknya bangsa asing, terutama Portugis, di satu pihak, terjadi akulturasi, dan di pihak lain, ikut melancarkan atau bahkan menghambat peranan penyebaran kebudayaan Melayu. Pada saat kekuasaan kesultanan Aceh mencapai puncaknya, misalnya, ?penyebaran kebudayaan Islam mempengaruhi dan mewarnai kehidupan kesusastraan Melayu.? (hlm. 392). Tetapi, ketika Malaka jatuh ke tangan Portugis, perluasan kebudayaan Melayu yang dikembangkan kesultanan Aceh, menghadapi kendala. ?Untuk menghindari pedagang Portugis di Selat Malaka, para pedagang Muslim menggunakan pantai barat Sumatera untuk berlayar ke Kepulauan Maluku. Jalur pelayaran ini justru yang menyebabkan Kesultanan Banten maju pesat, di samping tumbuhnya kota-kota pesisir di utara Jawa. (hlm. 393).

Lihat juga tulisan Abdul Hadi WM yang begitu banyak menyentuh dunia Melayu dalam hubungannya dengan sufisme. Menurutnya, ?Kepeloporan para cendekiawan sufi dalam sejarah kebangkitan sastra Islam di Melayu dimungkinkan oleh dua faktor utama. Pertama, perhatian yang besar para cendekiawan itu terhadap estetika dan seni ?termasuk juga di dalamnya kesusastraan. Kedua, keinginan mereka untuk mengembangkan tafsir sendiri atas teks keagamaan yang menggunakan bahasa puitik.? (hlm. 346). Dari sanalah berlahiran kekayaan khazanah sastra tasawuf dalam bahasa Melayu.
***

Secara keseluruhan, buku yang disusun ke dalam delapan bab ini, menghimpun setumpuk tulisan tentang berbagai aspek kesusastraan Melayu. Sistematikanya disusun secara tematik, sehingga memudahkan kita memasuki pelosok dunia Melayu sampai ke segala ceruknya. Perbincangannya diawali dengan menelisik lebih jauh dan mendalam perkara latar belakang (: cikal-bakal) sejarah penyebaran bahasa, aksara yang digunakan sampai hubungan antarbangsa yang memungkinkan sastra ?dan secara keseluruhan kebudayaan?Melayu begitu kaya akan unsur asing dan kultur kedaerahan. Inklusivitas bangsa Melayu yang gampang menerima apa pun yang datang dari luar dunianya, tidak serta-merta membuang kultur lokal yang sudah mendarah-daging. Akibatnya, akulturasi terjadi di hampir semua aspek kehidupan.

Dari sana, pembicaraan merembet ke berbagai wilayah yang memperlihatkan adanya jejak Melayu. Inilah yang tak terduga. Jejak Melayu nyaris dapat ditemukan di hampir seluruh pelosok Nusantara, bahkan penyebaran pengaruhnya jauh lebih luas. Bahasa Melayu tidak hanya berfungsi sebagai lingua franca, tetapi juga sebagai alat yang efektif untuk menyebarkan agama, kebudayaan, bahkan ideologi kekuasaan. Dari situlah ekspresi kreatif melahirkan beraneka ragam karya sastra. Sebuah peta tentang wilayah sastra Melayu, jejak langkah dan penetrasi kemelayuan terpampang begitu lengkap, beraneka ragam dengan kelak-kelok aliran sungai dan jalan-jalannya, tonjolan pegunungan dan lembah-lembahnya, dan warna-warnanya yang menunjukkan jalur penyebarluasan pengaruhnya yang wujud dalam karya sastra dengan kearifan lokalnya.

Jika pengelompokan dalam sejumlah buku pelajaran (sastra) sebagian besar disajikan tanpa konsep dan argumen, maka buku ini coba memberi penjelasan panjang lebar mengenai jenis dan ragam sastra (Melayu), disertai contoh kasus dan sejumlah pembahasannya. Maka, ketidaklengkapan buku-buku M.G. Emeis (Bunga Rampai Melaju Kuno, 1949), Hooykaas (Perintis Sastera, 1951, Penjedar Sastera, 1952, dan Literatuur in Maleis en Indonesisch, 1952 ), Sutan Takdir Alisjahbana (Puisi Lama, 1961) telah dijawab secara komprehensif oleh buku Sastra Melayu Lintas Daerah, sekaligus dengan pelurusan konsep-konsepnya.

Inklusivisme, toleransi, apresiasi, dan kreativitas bangsa ini dalam menyikapi perbedaan etnisitas, kultur lokal dan masuknya budaya asing seperti direpresentasikan dalam khazanah sastra Melayu. Di sana, selain mengeram kultur lokal, selalu akan kita jumpai napas Hindu?Buddha (India), Jawa, Parsi, Cina, dan Islam yang akomodatif, terbuka, dan toleran. Dan segala bahan itu, diterima tanpa membuang yang lama, lalu diolah secara kreatif, jadilah ia sebuah karya yang khas yang dalam banyak kasus, justru lebih kaya dan memukau. Itulah khazanah sastra Melayu yang kaya dengan kearifan lokal dan sekaligus sarat pengaruh kebudayaan Timur, bahkan juga Barat, yang justru sering diluputkan oleh pengamatan para orientalis.
***

Inilah buku tentang sastra Melayu yang komprehensif dan mumpuni. Inilah pintu masuk untuk mengenal lebih jauh tentang kekayaan kebudayaan dan tamadun Melayu. Dari sana terbuka jalan lempang memahami dunia Melayu.

*) Pengajar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Depok.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *