Rancage, Sastra, dan Budaya Lampung

Udo Z. Karzi*
http://www.lampungpost.com/

TAHUN yang lalu, Hadiah Sastra Rancage juga diberikan kepada sastrawan yang menerbitkan buku dalam bahasa Lampung. Ternyata seperti yang kami khawatirkan, usaha penerbitan dalam bahasa Lampung itu tidak dapat dilaksanakan secara kontinu. Dalam 2008, tak ada buku yang terbit dalam bahasa Lampung, sehingga untuk Hadiah Sastra Rancage 2009 hadiah untuk bahasa Lampung tidak dapat diberikan.

Kekhawatiran seperti itu sebenarnya wajar karena penerbitan buku bahasa ibu dalam bahasa Sunda, Jawa, dan Bali juga–walaupun ada saja yang terbit setiap tahun–bukanlah usaha yang menjanjikan hari depan secara bisnis. Karena itu ketika beberapa waktu yang lalu kami diberitahu bahwa ada buku yang terbit dalam bahasa Madura, kami tidak segera menyambutnya dengan menyediakan Hadiah Sastra Rancage buat pengarang dalam bahasa Madura. Kami khawatir terjadi lagi apa yang sudah terjadi dengan bahasa Lampung.

(Petikan Keputusan Hadiah Sastra Rancage 2009 yang ditandatangani Ketua Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancage Ajip Rosidi).

Dan, lonceng kematian (semoga sementara) itu berbunyi: Hadiah Sastra Rancage 2009 untuk Lampung tidak diberikan kepada pengarang Lampung. Saya sungguh terpukul dengan kabar buruk ini. Dalam bahasa Irfan Anshory, ulun Lampung yang kini tinggal di Bandung, “Malu kita!”

Untungnya Sekretaris Yayasan Kebudayaan Rancage sedikit memberikan hiburan dengan mengatakan, jika ada terbitan buku sastra berbahasa Lampung terbit 2008, bisa diikutkan Rancage 2010. Dia berharap kesalahan teknis ini tidak mengganggu kontinuitas penerbitan sastra Lampung.

Lalu, saya pun tenggelam dalam dunia idealisasi bagaimana seharusnya mengembangkan sastra berbahasa Lampung. Buku Mak Dawah Mak Dibingi (BE Press, 2007) dan Hadiah Sastra Rancage 2008 sebenarnya hanyalah pintu masuk saja bagi sebuah upaya memperjuangkan keberadaan bahasa dan sastra Lampung. Setelah ini, para seniman (sastrawan) Lampung dalam arti sastrawan yang menggunakan bahasa Lampung sebagai media kreativitasnya, harus tetap berupaya melahirkan karya-karya sastra berbahasa Lampung. Minimal dua dalam setahun.

Saya sangat berharap setelah Hadiah Sastra Rancage 2008 diberikan kepada sastra Lampung, kehidupan sastra berbahasa Lampung semakin bertambah dinamis. Paling tidak, ada semacam kebangkitan sastra berbahasa Lampung seiring dengan tumbuhnya “kepercayaan diri” penutur bahasa Lampung bahwa ternyata bahasa Lampung bisa bergaya, bahasa Lampung bisa berdaya, dan bahasa Lampung bisa modern. Bahwa bahasa Lampung bisa menjadi media ekspresi imajinatif-kreatif, sehingga bisa melahirkan karya sastra sebagaimana bahasa-sastra Sunda, Jawa, dan Bali.

Sejak awal–katakanlah semenjak terbitnya buku puisi dwibahasa Lampung-Indonesia, Momentum (2002)–sebenarnya saya mengajak orang Lampung untuk menulis sastra dalam bahasa ibunya: bahasa Lampung. Tapi, betapa sulitnya karena kebanyakan orang Lampung (bersuku Lampung), terutama kaum muda justru sulit berbicara bahasa Lampung. Berbicara saja susah, apalagi hendak menjadi penulis sastra berbahasa Lampung.

Yang terjadi kemudian adalah betapa orang Lampung semakin gencar mementaskan sastra (tradisi) lisan Lampung. Berbagai proyek pun digelar semacam pelatihan sastra lisan Lampung. Saya sih setuju saja, tetapi saya hanya menyayangkan para seniman Lampung lebih asyik-masyuk dengan tradisi kelisanan itu. Ada juga yang mendokumentasikan sastra tradisi lisan itu dalam bentuk rekaman atau buku.

Namun, tradisi kepenulisan sastra berbahasa Lampung tak bergerak-gerak juga. Dengan latar itulah, saya menulis dengan bahasa Lampung. Setidaknya, ini sebuah upaya saja agar bahasa Lampung tak benar-benar terkubur.

Sebenarnya tidak ada kendala dalam menulis karya sastra Lampung. Masalahnya lebih terkait dengan masalah komitmen untuk–sebenar-benarnya–mengembangkan bahasa-sastra-budaya Lampung. Mana bisa membangun bahasa-sastra-budaya Lampung dengan sikap yang kelewat pragmatis, materialistis, serta penuh dengan perhitungan untung-rugi atau dengan mental “saya harus mendapatkan sesuatu kerja ini”.

Wah, menerbitkan buku sastra berbahasa Lampung itu dijamin rugi. Tapi, dalam jangka panjang buku sastra Lampung itu mempunyai nilai strategis bagi perjalanan bahasa-budaya Lampung itu. Tapi, kebanyakan kita tidak mau berpikir ke arah sana.

Saya berharap bahasa Lampung tetap eksis, berkembang, dan mampu menjadi bahasa kreasi bagi penuturnya. Saya yakin bisa asal ada upaya yang sungguh-sungguh untuk menjaga, melestarikan, memberdayagunakan, dan membuat bahasa Lampung lebih bergengsi. Sebab, bahasa Lampung adalah penopang utama kebudayaan Lampung. Kalau bahasa Lampung punah jelas pula yang disebut kebudayaan Lampung kiamat.

Yayasan Kebudayaan Rancage memutuskan memberikan penghargaan kepada sastra Lampung tahun 2008 dengan harapan agar kehidupan sastra (berbahasa) Lampung menjadi lebih dinamis. Setelah Hadiah Sastra Rancage 2008 diberikan kepada Mak Dawah Mak Dibingi, tidak bisa tidak setiap tahun harus ada buku sastra Lampung yang masuk penilaian Rancage. Sebab, sejak 2008 Yayasan Kebudayaan Rancage akan rutin memberikan Hadiah Rancage untuk sastra empat bahasa Sunda, Jawa, Bali, dan Lampung. Dengan kata lain, tidak ada pilihan lain, Lampung harus menerbitkan buku sasta Lampung minimal dua buku satu tahun. Tidak boleh putus.

Karena itu, pemda, penerbit buku, perguruan tinggi, usahawan, sastrawan, dan masyarakat Lampung harus benar-benar mau menyisihkan waktu, tenaga, dan dana untuk membangun tradisi baru bahasa dan sastra Lampung: menulis dan menerbitkan sastra Lampung!

Saya masih berharap masih ada “orang gila” dalam arti mau menerbitkan buku sastra Lampung dengan segala risikonya. Saya tengah menanti!

*) Bukunya Mak Dawah Mak Dibingi (2007) menerima Hadiah Rancage 2008.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *