Sepotong Bali di Tanah Belgi

Wita Lestari
http://jurnalnasional.com/

Keberadaan Taman Indonesia di Belgia akan memicu bangsa Eropa berkunjung ke sini untuk menikmati Indonesia yang sebenarnya.

KITA bersyukur punya Bali. Sampai saat ini ia bermagnet besar bagi orang asing. Utamanya bagi orang Eropa yang umumnya sangat pandai menghormati dan menghargai suatu budaya dan keindahan alam. Bukti ini dapat kita jumpai di tanah seluas 6 hektare yang dinamakan the Kingdom of Ganesha atau Taman Indonesia. Taman tersebut berada dalam kawasan Parc Paradisio yang punya luas 60 hektare. Parc Paradisio sendiri adalah kawasan kebun binatang yang dibangun oleh pengusaha asal Belgia, Eric Domb. Lokasinya di pinggiran kota Cambron. Tepatnya di kota Mons, sekitar 80 km dari kota Brussel, ibu kota Kerajaan Belgia. Belgia sendiri adalah negeri yang terletak di bagian barat benua Eropa, yang termasuk negara pendiri Uni Eropa. Negeri yang berluas wilayah 30.528 kilometer persegi dan berpenduduk sekitar 10,5 juta jiwa ini merupakan ibu kota Uni Eropa, juga pusat organisasi internasional lainnya termasuk NATO.

Pada sore (Senin, 18 Mei 2009, waktu setempat) berintik hujan, sejumlah orang sedang tekun mempersiapkan upacara pembukaan dan peresmian Taman Indonesia tersebut. Ada kelompok pemain gamelan Bali yang beberapa di antaranya adalah orang bule. Ada perempuan-perempuan asli Bali lengkap dengan busana tradisonalnya yang sedang menghidupkan dupa dan mempersiapkan sesajen di sudut-sudut persembahan di lokasi itu. Di antara para bule dan orang Indonesia yang berbaur tersebut, terlihat sesosok pria bule dengan postur tubuh tinggi langsing mengenakan busana tradisional Bali lengkap berwarna putih. Ia berjalan ke sana ke sini, dan agak sibuk melayani wawancara dari beberapa media lokal dan Indonesia. Dialah Eric Domb (38), sang pemilik dan pembangun Taman Indonesia.

Menurut Domb, tempat ini ia bangun karena kecintaannya pada Bali dan Indonesia. Disebutnya Indonesia sebagai “The most diversity country in the world” yang membuatnya tergerak untuk membangun “Indonesian Project” ini. Pandangan mata kita di taman ini akan berlabuh pada Pura Agung Shanti Buwana, seukuran bangunan aslinya di Bali, yang berdiri di atas sawah bertingkat ala sawah di Ubud. Ada juga bangunan replika besar Candi Prambanan yang menjulang tinggi, serta bongkahan batu besar berderet ala Gunung Kawi di balik tembok candi. Di depan gerbang tampak Rumah Toraja yang akan dijadikan kafetaria, juga ada miniatur Candi Borobudur. Di bagian belakang, tampak rumah tradisional Nusa Tenggara Timur, berderet melingkari ujung Taman Indonesia ini. Belum lagi taman ini masih dilengkapi dengan beragam patung, akar pohon tua, dan batang kayu pohon besar yang telah menjadi fosil asal Banten.

“Diperlukan 8.000 batu yang diangkut dengan 300 kontainer dari Gunung Agung di Bali dan Gunung Merapi di Jawa. Seribu tukang bangunan dari Muntilan dan sekitar 150 seniman dari Bali, sedangkan beberapa orang China mengerjakan fondasinya,” kata Domb sore itu. Proyek ini, menurut Domb, mulai dibangun tahun 2006. “Saya persembahkan tempat ini untuk orang Indonesia sebagai tanda terima kasih saya bisa menikmati budayanya yang indah. Saya dedikasikan taman ini untuk orang Bali, orang Indonesia, dan semua pengunjung yang menghargai bangunan ini,” kata Domb yang sejak berusia 7 tahun (tahun 1978) sering berlibur di Bali. “Semua orang Bali atau yang mereka yang beragama Hindu Bali di Eropa bisa datang ke tempat ini, untuk bersembahyang, berekreasi, atau apa pun yang mereka inginkan,” kata sang pengusaha yang merupakan Presiden dari L’Union Wallone des Entreprisis (UWE), semacam Ketua KADIN kalau di Indonesia.

Meski bisa dikunjungi untuk rekreasi, Domb tetap memasang papan peraturan yang mesti dipatuhi para pengunjung. “Kami tetap menghormati aturan-aturan suci pura, maka kami memberlakukan aturan-aturan itu di sini,” katanya. Salah satu aturan yang terpampang di papan pengumuman adalah perempuan yang sedang datang bulan tak diperkenankan memasuki pura, dan untuk memasuki pura harus berpakaian adat Bali.

Di tengah suasana beratmosfer Bali sore itu, suara gamelan Bali yang kontinu mengudara membuat orang tak bisa melepaskan pikiran dari pesona Pulau Dewata. Ada ?Made’ pria bule asal Jerman yang khusus datang dari Jerman untuk acara pembukaan dan peresmian Taman Indonesia dan penyucian pura di tempat ini. “Saya baru diberi tahu kemarin, jadi tergopog-gopoh datang ke sini,” katanya yang tak menyebutkan nama aslinya. Made menikah dengan gadis Bali yang kini memberinya dua anak berusia 18 dan 14 tahun. Mereka menetap di Jerman. Karena kesibukan menyiapkan acara, istri Made tak sempat diwawancarai. “Itu dia! Perempuan yang di sana itu adalah istri saya,” katanya sambil menunjuk dengan rasa bangga pada perempuan yang berpakaian tradisonal Bali, kebaya dan kain dilengkap selendang yang melingkari pinggangnya.

Ada juga Erika Van Geyte, orang Belgia yang sore itu juga berpakaian ala Bali. Ia menikah dengan pria asli Bali, Made Astawan. Mereka dikaruniai satu anak laki-laki yang kini berusia 9 tahun yang diberi nama Gede Karya. Gede ikut main gamelan Bali sore itu. Penampilannya tak dilewatkan oleh Oma dan Opanya yakni kedua orang tua Erika yang asli Belgia.

Jembatan Eropa-Indonesia
Peresmian dan penyucian pura sore itu diawali dengan sambutan-sambutan dari Eric Domb, Dubes RI untuk Belgia Nadjib Riphat Kesoema, dan Menteri Budaya dan Pariwisata RI Jero Wacik, didampingi oleh Dirjen Pemasaran Pariwisata Sapta Nirwandar. Dari pihak Belgia antara lain Menteri Ekonomi, Tenaga Kerja dan Warisan Budaya Wilayah Wallonia, Jean Claude Marcourt dan tentunya CEO Parc Paradisio sendiri, Eric Domb.

Inti dari pidato mereka adalah menginformasikan betapa beragam dan indahnya negeri Indonesia termasuk Bali. Domb yang sangat mencintai Bali yakin dengan membangun kompleks bangunan Indonesia ini, maka akan banyak orang Eropa yang akan jatuh cinta pada Indonesia. Keyakinan Domb akan hal ini didukung oleh Dubes RI dan Menbudpar. “Taman Indonesia di Belgia ini tidak hanya pintu dan jendela untuk mengenal Indonesia, tapi juga sebuah penghargaan dan kehormatan bagi bangsa Indonesia di Eropa,” kata Menbudpar Jero Wacik dalam sambutannya. “Pendeknya, taman ini merupakan jembatan antara Eropa dan Indonesia,” ujar Dubes Nadjib menambahkan.

Udara dingin dan hujan yang turun-berhenti-turun di sore itu tak membuat para pengunjung dan tamu undangan yang berjumlah sekitar 800 orang itu terkesan bosan mendengarkan sambutan-sambutan yang cukup lama itu. Di kiri-kanan jalan masuk ke Taman Indonesia, tempat para undangan berdiri dengan payung putih yang dibagikan Panitia, ada danau yang mempertunjukkan tingkah burung-burung ibis yang ceria. Kadang mereka terbang melintasi para undangan. Keindahan sore itu dilengkapi munculnya pelangi di langit danau sebelah kiri. Kemuculan pelangi ini disebut-sebut pula dalam pidato Menbudpar Jero Wacik sore itu.

Seusai pengguntingan pita dan penyerahan sepasang gajah Sumatera secara simbolik untuk Taman Indonesia ini, Menbudpar Jero Wacik mengatakan,” Taman Indonesia di Belgia ini merupakan celah bagi kita untuk mempromosikan Indonesia di forum dunia. Di mana ada kesempatan, ada celah, kita melakukan promosi. Setelah kita resmikan hari ini, maka akan banyak orang Eropa yang datang ke sini melihat miniatur Indonesia ini. Pada akhirnya mereka ingin melihat yang aslinya di Indonesia. Jadi, tempat ini hanya sekadar appetizer-nya saja.” Menurut Menbudpar, yang dimaksudkannya dengan Eropa termasuk Rusia, selain empat negara yang mengelilingi Belgia yakni Belanda, Luxembourg, Perancis, dan Jerman. Menurut Dubes RI untuk Belgia, Parc Paradisio memang dikunjungi oleh negara-negara tersebut.

Sungguhkah orang-orang Eropa melalui sepotong Bali di tanah Belgi ini akan menikmati the main cours-nya di Indonesia? Tentu saja kita harapkan demikian. Di tengah krisis finansial global sekarang ini, pariwisata adalah salah satu sektor yang paling menjanjikan pemasukan devisa negara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *