Jangan Dibaca, Ngakak Saja

Doan Widhiandono*
http://www.jawapos.co.id/

BETUL, jangan baca buku ini! Sebab, isinya memang bukan tulisan, bukan rangkaian huruf dan jalinan kata yang harus dibaca. Materi utama buku karya Iwan Nurdianto alias Iwan Iwe ini adalah gambar kartun yang dinikmati dengan cara dilihat. Jumlahnya 139 buah. Dan, sesuai judul buku, penulis berharap bahwa buku tersebut bisa membuat pembacanya meledak dalam tawa alias ngakak.

Sejatinya, tugas Iwan Iwe dalam buku ini tak mudah: menertawakan (baca: menyebabkan tertawa) orang yang kian pelit dengan tertawa. Iwan Iwe harus menguraikan urat-urat tawa masyarakat sekarang yang begitu kusut sehingga tawa menjadi barang yang langka. Iwan Iwe yang desainer halaman Jawa Pos ini harus ”mencerahkan” hidup orang kini yang kian lama kian mencureng (mengerutkan dahi) lantaran dihajar problem-problem hidup. Mulai biaya kesehatan yang mahal, cita-cita yang tak tercapai, lapangan pekerjaan yang susah, utang yang menumpuk, cinta yang kandas, kekasih yang materialistis, hingga…ups…perselingkuhan.

Alih-alih mengajak orang lupa pada problem itu, kartunis cah Ponorogo ini malah mengajak orang menggumuli masalah hidup tersebut lewat kartunnya. Ya, Iwan Iwe meracik segala keluh-kesah, tingkah-polah, masalah, hingga gairah manusia ke dalam sebentuk kartun yang simpel, mengena, dan bikin ketawa. Benar-benar racikan yang cespleng.

Jadilah 139 kartun yang termuat dalam buku terbitan Jaring Pena ini menjadi semacam pengilon (cermin) yang membuat orang melihat wajahnya sendiri. Kartun-kartun Iwan Iwe adalah sebuah satire, komedi yang sejatinya mengajak orang menertawakan dirinya sendiri. Dalam bahasa jurnalistik (ilmu yang barangkali dipelajari Iwan Iwe di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas dr Soetomo), kartun dalam buku ini punya proximity alias kedekatan emosional dengan pembacanya. Sebab, yang diangkat dalam bahasa gambar itu memang sesuatu yang terjadi di sekitar kita, hal ”remeh-temeh” yang bermunculan di sekitar kita, hal ”nggak penting” yang kadang terjadi pada diri kita. Bahkan mungkin, yang digambar Iwan Iwe dalam buku ini sejatinya juga terjadi pada dirinya (hehehe). Kejadian-kejadian sederhana itu lantas dituangkan ke dalam bahasa kartun yang slapstik bahkan cenderung hiperbolik. Tak apa. Toh, itu memang salah satu ciri kartun.

Dengan jurus proximity itu, Iwan Iwe lantas berbicara tentang apa saja. Mulai soal caleg yang stres lantaran gagal dapat kursi, kampanye partai yang penuh janji-janji palsu, suami yang tak setia pada istri, sampai masalah-masalah di ranjang. Semua disajikan secara simpel layaknya orang bercakap-cakap ringan sambil bergurau di sebuah warung kopi. Tak perlu mengerutkan dahi untuk mencerna kartun Iwan Iwe. Seandainya makanan, perut tak sampai sakit ketika harus mencerna makanan itu. Seandainya film, ini adalah film komedi yang hanya meminta penontonnya duduk, menyiapkan mata, tanpa perlu berpikir apa-apa.

Meski begitu, buku ini tetap bukan karya ecek-ecek. Sebab, tak mudah menuangkan sebuah peristiwa menjadi sebuah gambar yang simpel. Perlu kecerdasan tersendiri untuk membuat komedi yang simpel dan ringan (bukankah orang cerdas selalu membuat hal rumit menjadi simpel dan orang bodoh selalu membuat hal simpel menjadi rumit?).

Fragmen-fragmen yang disajikan dalam buku ini memang variatif. Berwarna-warni. Meskipun, kisah itu disajikan secara hitam-putih. Ini barangkali bisa menjadi catatan khusus. Sebab, sejatinya karya-karya Iwan Iwe lebih asyik disajikan dalam bentuk gambar berwarna (seperti karya-karyanya yang dimuat di situs pribadinya: www.iwaniwe.com). Iwan Iwe punya ciri khas goresan yang tajam dan tegas. Bidang-bidang gambarnya dibatasi oleh garis-garis tegas dengan pewarnaan yang nge-blok. Nyaris tak ada pewarnaan dengan teknik arsir, misalnya, untuk menimbulkan efek tiga dimensional. Semua begitu tegas dan simpel. Garis-garis, blok-blok. Karena itu, kurang asyik rasanya ketika gambar-gambar tersebut disajikan tanpa warna.

Selain itu, beberapa tema terasa diulang-ulang dengan beberapa versi. Misalnya, soal cewek yang mendambakan mobil dari pacarnya. Setidaknya ada empat versi komedi cewek matre ini (Beda Pikiran, hlm. 4; Beda Ekspresi, hlm. 5; Yang Gede Lebih Kelihatan, hlm. 13; dan Pahamilah Bahasa Wanita, hlm. 132).

Terakhir, saya sepakat dengan Obed Bima Wicandra, dosen Desain Komunikasi Visual UK Petra Surabaya, dalam kata pengantar buku ini. Bahwa Iwan Iwe sendiri tak selucu kartunnya. Obed menulis, Iwan Iwe cenderung serius dan bertipe pemikir. Ini cocok dengan ungkapan soal dunia lawak, dunia lucu-melucu di Indonesia. Bahwa pelawak itu tak bisa melucu di luar panggung. Ada dua premis soal ini. Yang pertama, pelawak selalu mengamati kehidupan di sekitarnya secara serius dan teliti, untuk kemudian di-kulak sebagai bahan lawakan di panggung. Yang kedua, kehidupan pelawak itu umumnya muram dan menderita, sehingga apa yang disajikan penuh haha-hihi di panggung bertolak belakang dengan kehidupan nyata yang dialaminya.

Semoga salah satu premis itu cocok dengan Iwan Iwe. Semoga keseriusannya di luar ”panggung” kartun adalah bagian dari pengamatannya terhadap kehidupan sekitar untuk kemudian di-kulak dan dijadikan bahan ngakak pada kartun-kartunnya, pada buku selanjutnya. Terus ngakak! (*)


Judul Buku : Just for Ngakak; Kartun Keren Kartunis (gak) Keren
Penulis : Iwan Iwe
Penerbit : Jaring Pena Surabaya
Cetakan : Pertama, Mei 2009
Tebal : vi + 154 halaman

*) Wartawan Jawa Pos (dos@jawapos.co.id)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *