Membaca Kelembutan Sajak-Sajak Ai Ali

http://id-id.facebook.com/nurelj
Nurel Javissyarqi*

Saya menemukan sajak-sajaknya semacam perasan getah nalar yang terejawantah naluri sanubari. Kejernihan cermin memantulkan wajah-wajah para penyimaknya, suatu tuntunan dari belahan kaidah-kaidah agama yang sudah diperas saripatinya. Dan menjelma syair-syair perjuangan yang tampak lebih indah dari norma-norma kehidupan.

Saya yakin, semuanya berasal dari jerih payah yang sungguh luar biasa menjaga keuletan, ketulusan yang ditempa hikayat hayatnya. Sehingga ketabahannya menjadikan maklumat begitu sungguh luar biasa, yang sanggup dipetik anak-anak muda, dapat diambil para pujangga.

Ada lantunan suara gaib melebihi mantra dalam menelusupi sukma pembaca, demikian perasaan pertama saya pada gugusan kelebutan bathin manusia dari negeri Brunei itu, yang saya sendiri tiada mengetahui kesehariannya. Saya hanya membayangkan Ai Ali senantiasa memakai pakaian lembut yang menghantarkan jiwanya pada kebeningan pencarian. Atau ia menutup segala keindahan itu dengan lelaku biasa-biasa saja, maka marilah kita simak sajak-sajaknya:

ADUH

aduh kaucantik
ada anjing di rinduku

aduh kauseksi
ada babi di birahiku

aduh kucinta
adakah basah di anumu?

Kalau boleh memaknai Ai Ali, ia sekelok keris Jawa Tengah dengan pamornya yang lembut seolah tumpul namun berbisa. Jika ia seorang penyair, jiwanya begitu kejam terhadap kesucian samadi. Jika ia seorang pujangga, bathinnya telah menyerap ribuan cahaya kapujanggaan. Lebih lembut dari tetes-tetes embun, lebih santun dari angin sepoi.

Ada percik-percik api yang selalu siap membakar keyakinannya. Sungguh dibuat gemetar berkali-kali membaca sajaknya yang aduhai. Antara kesantunan, kesahajaan, kepanditaan, suara-suara agung dititiskan tengah malam, dan perasaan siang keberjamanan.

Ada melodi yang kelembutannya melebihi jalannya putri-putri keraton atau para bidadari. Serupa itulah maut kehendak sajak-sajaknya menikam urat syaraf para penikmatnya. Seolah dirinya tak menyia-nyiakan waktu meski pun sedetik saja dalam lalu. Sebab timbangannya menyerupai sayap-sayap Malaikat Ruhaniyyun mengepakkan cahaya.

SADAR

hidup ini punya makna
untuk disempurna

padaNya
cahaya
makna

padaku
takwa
percaya

alpa
ternoda

lupa
binasa

Tuhanku,
padaMu
aku

tanpaMu
apa dayaku

kuasa di Mu
tak di ku

Saya teringat makolah hadits qudsi akan dunia kewalian. Kehendak suci ibarat mayat tiada memiliki dinaya, semuanya atas fitroh-Nya, kefitriannya melebihi kelahiran anak-anak manusia. Ada yang tak dapat diraih namun tergapai dalam hati muklisun. Ada yang tak terucap, tapi kedipan mata sanggup meruntuhkan daun-daun selisih pendapat.

Di mana keseluruhan hak-Nya tiada sebanding debu-debu keabadian purna. Kejahiliaan sunggulah tampak oleh Cahaya, ketika manusia mampu bersuci sepenuh pasrah. Bukan maut ia takuti, tetapi perpisahan dengan Kekasih.

Ada yang tak boleh diraba di saat ketentuan telah menujah hikayat-hikayat kenabian, dan kesilapan itu hanya pada insan-insan terlena. Ada bertumpuk-tumpuk hasrat suci melebihi keindahan candi Borobudur, ilmu manfaat bukan berhala manusia di alam dunia.

GADIS DI JENDELA

duhai gadis yang di jendela
apa sedang rindu?
aku yang lalu di depan jendelamu
tak tampankah untuk rindumu itu?

duhai gadis yang di jendela
siapa kautunggu?
aku yang ada di depan jendelamu
juga pandai mencumbu
mensyahdu rindumu itu
dengan ayu

duhai gadis yang di jendela
apa kaubuta tak melihatku?

duhai gadis yang di jendela
apa kautuli tak mendengarku?

aduh hampa

betapa cinta
perlu mata tak buta
perlu telinga tak tuli

aduh kecewanya
tak terkata

Aduh Ai Ali, kau lantarkan rayuan muda-mudi untuk mencintai Kekasih Abadi. Kau lontarkan bentuk fisikal demi penghampiran makna lebih terbuka, jasad sebagai kendaraan sukma merajalelanya cinta. Tubuh yang tak berkata-kata pun merasakan juga, betapa dalamnya siksa kerinduan purna, ketika Sang Kekasih tak merelakan pandangan-Nya.

Kau hantarkan kami dari kefahaman insan menuju drajad paling tinggi melebihi para malaikat, lantas sebagai rahmatan lil alamain. Dan penolakan itu pandangan terpisah dari cahaya-Cahaya.

*) Surabaya 23 Juni 2009. Pengelana asal Lamongan, Jawa Timur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *