Meratapi Pesantren “Pincang”

Judul Buku : Mata Air Inspirasi; Mengenang Pemikiran dan Tindakan KH. Zainal Arifin Thoha – Pendiri dan Pelopor Pesantren Mandiri.

Penulis : Joni Aridinata dkk.
Penerbit : Kutub, Yogyakarta
Cetakan : I Maret 2009
Tebal : xiii + 110 halaman
Peresensi : Muhammad Ghannoe*)
http://cawanaksara.blogspot.com/

Jauh sebelum pesantren meniti sejarah panjang di bumi Nusantara, Imam Ghozali telah lahir dan masyhur di kalangan umat Islam, bahkan bangsa Arab. Salah satu penopang kemasyhurannya adalah keputusan untuk istiqamah dan tekun merakit daya spiritualitas, intelektualitas dan profesionalitasnya dalam kehidupan sehari-hari. Triple power yang terintegrasi dan digerakkan secara seimbang (tawazun) oleh Al Ghozali itulah yang hingga kini membawanya terbang melintasi ruang dan waktu.

Meski jasad dan ruhnya telah berpulang kepada Tuhan, nama dan pemikiran Al Ghozali tetap menggelitik umat manusia, tidak terkecuali para santri.Meski demikian, seberapa banyaknya umat Islam maupun non-Islam yang mengenang dan meniru paradigma Al Ghozali, tidak lepas dari triple power-nya yang tertuang dalam sejumlah kitab. Dari kedalaman karya-karya itulah umat manusia mengais informasi dan pemikiran tokoh muslim fenomenal ini. Bahkan, ada juga beberapa karya Al Ghozali yang hingga kini seakan menjadi buku wajib bagi para santri di pesantren-pesantren ketika mengkaji disiplin ilmu tertentu. Hanya saja, tidak sedikit kyai dan santri yang balik mereduksi ajaran Al Ghozali. Saking asyik-masyuknya mempelajari tulisan-tulisannya, mereka lupa terhadap salah satu ajaran yang hingga kini masih banyak yang belum menerap-praktikkan.

Adapun ajaran itu, tampak jelas dalam wasiat Al Ghozali terhadap murid-muridnya. Yakni,”Jikalau Anda bukan putera penguasa (mulk) dan bukan pula putera ulama’ ternama (masyhur atau besar), jadilah penulis”. Meski teks ini tampak mengelak dari putera-puteri (Jawa Timur: gus-ning) para ulama’ dan para raja atau presiden, namun tidak dimaksudkan untuk mendikotomi mereka. Ini dapat dipahami ketika membaca konteks wasiat tadi. Dengan kata lain, ketika Al Ghozali menganjurkan murid-muridnya menjadi penulis (mushonif), diantara mereka tidak ada yang berstatus sebagai anak raja maupun ulama’ besar. Sehingga, ketika wasiat disampaikan dengan wujud bahasa yang ada, tidak lain hanya sebagai penguat untuk diindahkannya wasiat itu. Jadi, wasiat itu sama artinya ditujukan kepada semua umat Islam, termasuk para Kyai dan Santri.

Tak pelak, dari wasiat itu, Al Ghozali tidak menginginkan adanya kemandegan ilmu yang dicecap umat Islam. Ilmu akan mengalami kevakuman manakala para penikmatnya enggan menyalurkan ilmu yang telah didapatkan. Sementara, mereka hanya merealisasikan kepasifannya dengan cara membaca lantas –mungkin- mempraktikkannya. Apakah nantinya keberadaan ilmu yang orisinal dari kitab-kitab itu mampu diwarisi anak cucu atau tidak, mereka tampak tak berfikir jauh. Padahal, hingga kini hanya Al Qur’anlah yang mendapat jaminan terselamatkan dari tangan-tangan jahil.

Sehingga, wasiat Al Ghozali untuk melanjutkan budaya menulis yang selama ini ditekuni oleh umat Islam perlu segera realisasikan. Dengan munculnya penulis-penulis baru yang bernafas Islami, muslimin-muslimat tidak akan mudah rapuh dalam menghadapi gemerlap perubahan zaman. Selagi tulisan-tulisan itu menjadi wakaf pendidikan untuk generasi Islam, dialog ilmu dengan zaman tidak akan njomplang (berat sebelah). Umat Islam akan melangkah secara sinergis-strategis. Selain itu juga berupaya memperbaiki kekurangan-kekurangan masa lalu demi terciptanya hablum minallah dan hablum minalmakhluq yang lebih baik.

Spirit Al Ghozali mengajak umat Islam untuk mengantisipasi adanya kemandegan ilmu itulah yang pernah diaktualisasikan KH. Zainal Arifin Thoha semasa hidup. Selain mengabdikan diri sebagai penulis, putera yang lahir di Kediri dan menetap di Yogyakarta ini juga mendorong santri dan kawan-kawannya untuk tidak mengabaikan budaya baca-tulis. Meskipun memiliki profesi atau keahlian yang lain, budaya menulis sebagai salah satu wujud kepedulian terhadap orang lain atau generasi masa depan (rijalul ghod) perlu digalakkan. Seorang pembaca tidak seharusnya mengedepankan egoisme terhadap apa yang diperoleh dari bacaan dan pengalaman. Sifat “picik” dan enggan mempedulikan orang lain itulah yang perlu kita gerus dari budaya umat Islam.

Dalam buku ini, sejumlah penulis tampak memberi kesaksian terhadap pemikiran dan tindakan Gus Zainal –sebutan akrab- selama hidup. Para penulis yang selama ini pernah mengaku sebagai guru, kawan, sekaligus murid dari Gus Zainal ini menyajikan kajiannya terhadap sosok pendiri PPM. Hasyim Asy’ari yang wafat pada 14 Maret 2007 ini. Menurut para penulis, Gus Zainal kadang terasa wajib untuk disebut guru atau kyai. Ini terasa betul ketika penulis ditunjukkan dan diajari cara untuk membaca, menulis, dan menyikapi kehidupan yang lebih baik. Namun, Gus Zainal kadang juga pantas untuk sebut sebagai kawan, ketika bersama-sama dengan para penulis terjadi guyonan, sharing, dialog, debat dan lainnya. Tidak kalah menarik, kadang juga pantas disebut sebagai murid ketika ia menyebut dirinya sendiri sebagai “murid” dari para penulis karena belajar hal-hal lain dari penulis. Jadi, hubungan antara para penulis dan Gus Zainal seakan sulit untuk disebutkan; apakah berstatus sebagai murid (santri), kawan, guru, atau lawan dalam tataran gagasan?.

Meski demikian, keharmonisan hubungan mereka dengan Gus Zainal tampak tidak mengurangi kualitas kesaksian mereka. Salah satu kenangan menonjol dari mereka terhadap sosok Kyai yang meninggalkan satu istri dan lima anak ini adalah kiprah Gus Zainal dalam dunia kepesantrenan. Menurut para penulis, Kyai yang salah satu karyanya tertuang dalam buku Runtuhnya Singgasana Kyai ini, merupakan sosok yang unik. Selain sebagai pendiri dan pelopor berdirinya pesantren mandiri (PPM. Hasyim Asy’ari) di Yogyakarta, Gus Zainal memiliki gerakan yang luar biasa. Ia memiliki impian untuk mengembalikan kejayaan Islam melalui gerakan seni, budaya, politik dan ekonomi yang dimanifestasikan melalui budaya baca, tulis, retorika, dan kerja. Meskipun terlahir dari keluarga yang tergolong kecukupan dalam hal ekonomi, menurut Ny. Maya Veri Oktavia –istri beliau, Gus Zainal sama sekali enggan untuk meminta-minta orang tua. Begitu juga ketika menerima santri untuk dididik di Pondok, menurut Jamal Ma’mur Asmani, kyai sekaligus budayawan dan penyair ini sama sekali tidak memungut biaya dari santri. Semua orang yang ingin nyantri di pondoknya bebas dari biaya pendaftaran dan semacamnya. Menurut Muhammadun AS, selain para santri diajari pendidikan agama dan kemandirian, Gus Zainal tidak jarang membantu biaya hidup santri dan pendidikan mereka di perguruan tinggi.

Kesaksian semacam itu, juga diakui para penulis yang lain. Budayawan D. Zawawi Imron, misalnya, menulis bahwa Zainal adalah seorang anak muda yang hidupnya tidak hanya bermanfaat bagi dirinya sendiri. Lebih dari itu, ia ingin bermanfaat bagi banyak orang. Sementara, cerpenis dan redaktur majalah Horison Joni Ariadinata menulis, kecintaan Gus Zainal untuk ziarah ke kuburan (maqam) dapat diwariskan dan dijelaskan kepada santri dan kawan-kawannya. Uniknya, dalam menjelaskan, Gus Zainal cukup sederhana namun mengena. Sering, ketika dalam ziarah, Gus Zainal melakukan refleksi terhadap kehidupan orang yang diziarahi. Lantas, ia menutup refleksi dengan peringatan bahwa orang yang menziarahi pasti akan mati. Untuk itu, masih menurut Joni, Gus Zainal selalu mengajak kita untuk peduli dan meninggalkan sejarah yang paling baik.

Pesan Gus Zainal untuk peduli terhadap orang lain dan meninggalkan nama baik itulah yang selama ini menjadi mata air inspirasi para kawan dan santrinya hingga sekarang. Generasi bangsa harus memiliki kepedulian terhadap sesama manusia dan alam. Salah satu jalan untuk mewujudkan hal itu dapat melalui jalur pendidikan yang bersinar dari tulisan-tulisan.

PPM. Hasyim Asy’ari adalah salah satu media Gus Zainal yang digunakan untuk berjuang. Metode pendidikan yang ditekankan dalam pesantren yang pernah dikunjungi Gus Solah (pengasuh Pesantren Tebuireng) ini, adalah budaya membaca sekaligus menulis baik di media massa maupun buku. Menurut Gus Zainal -semasa hidup, budaya belajar (melalui membaca) tidak akan seimbang jika mengabaikan budaya menulis. Sehinga, antara budaya membaca dan menulis dapat dianalogikan dengan dua buah kaki manusia. Jika yang kaki satu hilang atau patah, jalannya kaki yang lain akan pincang (tertatih-tatih). Padahal, tidak semestinya pesantren sebagai institusi yang bergerak dijalur pendidikan itu berjalan pincang. Pesantren harus berjalan normal demi masa depan generasi Islam yang lebih baik.

Berbagai gagasan-gagasan unik Gus Zainal untuk mempraktikkan wasiat Al Ghozali itulah yang banyak disoroti para penulis dalam buku ini. Meski demikian, tidak sedikit diantara penulis yang menyoroti dari sudut pandang yang lain. Semisal kiprah Gus Zainal dalam dunia kebudayaan, kepenyairan, musik, perbukuan dan kehidupan sehari-hari lainnya.

Selain tergolong jenis buku yang langka, gagasan-gagasan yang terdapat dalam buku ini terasa baru dan masih segar. Ini sangat cocok untuk menjadi wacana baru dalam dunia kepesantrenan, kepenulisan, perbukuan, kesusastraan, dan masih banyak lagi yang lainnya. Terlebih, latar belakang para penulis yang berangkat dari berbagai profesi, daerah, dan negara, semakin memantapkan pembaca untuk mereguk ide-ide di dalamnya.

*) Peresensi adalah Santri dan Kawan Gus Zainal serta Pendiri Perpustakaan Cawan Aksara Daerah Pati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *