Koper Merah

Jenny Ang
http://www.jawapos.com/

”Ma, tunggu.”

Matahari meninggi di atas awan. Menebar panas dan menuai gerah. Langit kelabu bukan menjanjikan hujan melainkan tersaput debu polusi. Sebuah koper kosong berwarna merah melenggang gontai mengikuti langkahku di atas trotoar yang seolah tak berujung. Roda-roda mungilnya bergemeretak meriah menggerus conblok yang terpasang tak rata.

Mama semakin menjauh dan mengecil ditelan kerumunan orang-orang yang lalu lalang. Suaraku telah dipatahkan oleh bising keramaian orang-orang dan desing kendaraan yang berkelebat. Sia-sia aku berusaha menyamai langkah Mama. Koper merah semakin oleng kian kemari dalam usaha untuk terus melaju mengikutiku.

Matahari menyeringai. Kilaunya hampir menanarkan pandanganku. Sesaat kemudian aku memutuskan untuk menggendong koper itu saja demi mempercepat langkahku dan menghindari kerusakan yang mungkin saja menimpa rodanya. Aku tak mau bila terpaksa harus kembali menembus keramaian Pasar Baru untuk mencari gantinya. Sejak pagi tadi aku dan Mama berkeliling memasuki setiap toko koper di Pasar Baru hingga akhirnya berhasil menjatuhkan pilihan pada koper merah ini. ”Di mal gak bisa nawar. Kurang sreg,” begitu alasan Mama ketika aku protes kenapa tidak berbelanja di mal saja.

Begitulah koper merah telah kudekap di depan dada sambil berusaha setengah berlari. Kenyataannya aku tetap tak mampu mengejar Mama. Sosok Mama kian timbul tenggelam di antara orang-orang. Hidungku semakin giat memburu oksigen yang terasa makin menipis. Sebatang pohon tua yang kurus meranggas tertunduk malu.

Dari kejauhan kulihat Mama menoleh mencariku.

”Maaa!” Suaraku melengking tajam menerobos hingga ke tujuan.

Berhasil. Mama melihatku dan berhenti untuk menungguku menuju ke arahnya. Wajahnya menampakkan seraut wajah yang sulit kutebak artinya. Aku beringsut mendekat. Sudah tak kupedulikan tatapan orang-orang yang kusenggol dengan koper besar ini.

”Ma, tunggu dong. Jangan cepat-cepat. Aku kan bawa koper ini.” Mama menatapku dengan ekspresi tidak sabaran.

”Halah. Koper kosong begini kok repot. Ditarik saja kan beres.” Bulir keringat meluncur di belahan dadaku dan meninggalkan bercak noda gelap di bajuku.

”Ma, trotoarnya kan nggak rata. Banyak orang lagi. Ntar kalau rodanya rusak, gimana? Pasti aku lagi yang disalahin.”

Mama diam seolah tak mendengar. Kami turun dari trotoar dan berdiri di pinggir jalan raya. Hawa kendaraan yang melintas terasa panas menampar-nampar wajahku. Tak ada sejengkal pun bayangan di sekitar sini yang dapat kupinjam untuk mendinginkan kepala dan badan ini. Pohon tua tadi sungguh tak bisa diharapkan.

Aku menurunkan koper dari dekapanku dan menumpangkan sedikit bokongku di atasnya. Aku heran. Begitu banyaknya koper di rumah kenapa harus beli yang baru. Dan kenapa harus yang berwarna merah pula. Aku geleng-geleng kepala sambil menekuk wajah. Dan, apa salahnya sih beli di mal walau harganya tidak bisa ditawar? Kan kita sudah menikmati sejuknya suasana mal yang nyaman dan aku tak perlu mendekap-dekap koper ini seperti orang gila karena lantai mal yang licin mulus pasti takkan mencederai roda-roda mungilnya.

”Sekalian mau ke Petak Sembilan. Mama mau cari sesuatu di sana.” Seolah-olah bisa membaca pikiranku, tiba-tiba Mama menyahut.

”Hah?! Belum mau pulang? Aduh… Mama mau beli apa lagi, sih? Lain kali aja deh. Atau tunggu Eddy pulang kantor, ntar kubujuk dia untuk mengantar Mama.”

Matahari sungguh-sungguh sedang membakar lintasan pacunya.

”Kagak bisa. Nungguin si Eddy pulang kantor, Petak Sembilan udah pada bubar. Ngerti?”

Kata ”ngerti” di ujung kalimat Mama menandaskan bahwa kemauannya sudah tidak bisa ditawar. Sejak dulu watak Mama memang keras. Dan, kalau sudah kemauannya, saat itu juga harus terpenuhi.

Aku tercenung dan duduk terdiam di atas koperku. Kadang aku tak bisa mengerti jalan pikiran Mama. Senengan-nya kok cari repot, begitu biasanya yang terlontar dari mulutku bila sedang beradu mulut dengan Mama.

Sekian tahun tinggal di Jakarta, Mama tak bisa melupakan kopi kesayangannya yang bermerek ”Tjap Naga Sanghie” yang harus dibeli di Pasar Teluk Gong, sebuah tempat kumuh dan becek di daerah Jelambar yang membuat aku atau Eddy –adik lelakiku– mengomel-ngomel bila mendapat tugas mengantar Mama ke sana. Atau bila membeli kecap harus yang bermerek ”Cap Angsa No.1” yang hanya bisa didapatkan di toko tertentu di Pasar Muara Karang. Aku mengajukan protes, ”Ma, kopi di mal itu banyak. Kecap di mana-mana selalu nomor satu. Apa bedanya? Gak usah harus merek itu-itu lah. Lama-lama nanti juga biasa.”

Mama menggeleng. ”Tidak bisa. Aku tidak bisa kalau harus mengganti kopi atau kecap. Lebih baik aku pulang saja ke Bagan Siapiapi. Enak di sana. Ke mana-mana dekat. Gak usah nunggu diantar. Apa saja tersedia. Kawan-kawanku banyak.”

Kalau sudah demikian, aku biasanya langsung terdiam. Memang, semenjak Papa meninggal, kuusulkan agar Mama pindah ke Jakarta saja, supaya dia tidak kesepian karena semua anaknya telah menetap dan mencari nafkah di sini. Kami menempati sebuah rumah mungil di daerah Cengkareng yang diperoleh dari hasil penjualan rumah peninggalan almarhum Papa di Bagan Siapiapi. Tak kusangka, semenjak Mama tinggal di Jakarta, adatnya semakin keras. Tak seorang pun berani membantah dia. Sama seperti kondisiku sekarang ini. Berada di pinggir jalan raya berteman semburan hawa knalpot kendaraan yang melintas serta terduduk layu di atas koper kosong berwarna merah menyala di tengah siraman panas matahari musim kemarau dengan mulut terkunci.

Seekor burung biru tampak mendekat dari kejauhan. ”Taxi!” Tangan Mama melambai ke arahnya. Burung biru melambat dan menepi tanpa suara. Kami pun merayap naik dan burung biru kembali terbang melesat membelah kota.

”Ke Glodok Petak Sembilan ya, Pak. Cepetan.”

Matahari tak dapat menjangkauku untuk sementara. Pendingin udara yang berhembus sayup-sayup hampir menidurkanku.

***

Burung biru yang kami tumpangi melambatkan lajunya hingga akhirnya berhenti dengan sempurna. Mama sigap menjejak bumi beraspal sedangkan aku masih beringsut perlahan dengan koper dalam dekapanku.

”Ayo.” Wajah Mama terlihat ceria menatap keramaian tradisional yang terhampar di depannya. Matanya berbinar-binar. Kontras dengan wajahku yang kusut masai dan cemberut. Kusiapkan mentalku sembari berdoa dalam hati, semoga aku dan koperku diberi kekuatan untuk menembus ke dalam belantara pasar ini dan sanggup keluar lagi dengan selamat.

Kali ini Mama berjalan lebih perlahan sembari melihat-lihat segala sesuatu. Di kiri kanan terlihat para pedagang yang sibuk melayani transaksi jual beli. Yang sedang tidak terlibat transaksi kelihatan sibuk menata barang dagangannya dengan selera yang tidak kalah menarik dibandingkan etalase di mal-mal. Pokoknya harus kelihatan sibuk lah. Wajah mereka tampak begitu ramah dan bersemangat menyapa calon pembeli. Sebias dua bias cahaya matahari yang menerobos lembut melalui celah-celah di sela rangkaian tenda warna-warni para pedagang tak terasa menggangguku. Sesekali aku berhenti menunggu Mama yang membeli sesuatu sambil tawar-menawar dengan penjualnya.

”Goceng.”

”Siceng, lah.”

Aku tersenyum melihat Mama. Mama kelihatannya senang sekali berbelanja di sini. Mungkin dia senang karena bisa berinteraksi langsung dengan para penjualnya. Sedikit tawar-menawar, sedikit basa-basi menanyakan kabar si Aweng atau si Fulan untuk mengakrabkan diri sembari bertukar nomor telepon untuk kabar barang dagangan dan promosi gratis.

”Pokoknya kalau datang barang baru, nanti gua kabari.”

”Murahin lagi lah, nanti kalau ada temanku yang perlu, gua bisa suruh ke sini.”

Rampung dengan urusan belanja, Mama berkata, ”Ayo ke arah sini sebentar. Ada yang mau Mama tunjukkan ke kamu. Mumpung sudah di sini, jadi sekalian saja.”

Kuikuti langkah Mama memasuki gang-gang kecil yang menjauhi area pasar. Hiruk-pikuk berteriak tertinggal di belakang dan keteduhan datang menyapa kami. Seorang nenek berambut putih terlihat dengan sabar dan tekun menyapu halaman rumahnya yang sudah berubah menjadi jalanan umum. Seorang ibu muda mengempit anaknya dalam kain gendongan sambil memegang semangkuk bubur cair. Sembari mendekap koper merah di dadaku, aku terus mengingatkan diriku bahwa aku masih berada di tengah kota Jakarta dan bukan sedang berada dalam area syuting Kungfu Hustle-nya Stephen Chow.

Ujung gang yang kami lalui ternyata bermuara ke sebuah kelenteng tua. Dari jarak dua puluh langkah sebelum mencapainya, aku sudah berdiri tertegun dan terpana. Warna atap dan pilar-pilar penyangga bangunannya begitu sama persis dengan warna koperku. Sepasang naga yang meliuk di atas atap seolah tersihir membatu saat mereka sedang bermain-main. Ujung bumbungan atap mencuat ke atas dan terbelah dua. Sebuah Hio Lo raksasa tampak menghiasi halaman kelenteng dan seorang petugas kelenteng tampak sibuk mencabuti sisa-sisa bakaran hio.

Kakiku melayang mendekati bangunan tersebut. Pintu utamanya terlipat bertumpuk ke samping. Sejumlah aksara Cina yang terukir di atas pintu tak mampu kumengerti artinya. Mama menyentuh pundakku. ”Masuk dan sembahyanglah di dalam. Mama akan tunggu kamu di luar. Untung hari ini bukan hari perayaan, jadi tidak begitu ramai.”

Tanpa melepaskan pandangan dari bangunan tersebut pelahan aku meletakkan koperku. Seorang pengemis membuyarkan lamunanku dengan menyodorkan setangkai bunga lotus ke hadapanku sambil mengiba-iba. Mama menyerahkan selembar uang kepadanya dan bunga lotus segera berpindah ke tanganku. Bunganya masih segar dan agak menguncup. Warnanya yang putih bersih bersemu merah muda mengingatkanku pada warna bayi yang baru lahir.

”Sembahyang Kwan Im, ya. Taruh bunga ini di altarnya, supaya kelak kamu diberkahi keturunan yang banyak.”

Wangi dan asap hio yang dibakar segera menyambut hidung dan mataku ketika aku melangkah nasuk. Sayup-sayup telingaku menangkap alunan puji-pujian yang entah berasal dari mana. Sisa-sisa pembakaran lilin-lilin raksasa tampak berserakan di mana-mana. Jelaga hio yang kecokelatan lengket liat pada tembok dan langit-langit yang menjulang tinggi. Patung-patung dewa seukuran manusia tampak memenuhi ruangan ini. Mataku segera berkelebat mencari patung dewi Kwan Im. Nah, itu dia. Segera aku menghampiri dan meletakkan bunga di meja sembahyangnya. Tanganku terasa lemas tak bertenaga ketika aku mengambil tiga batang hio dan menyodorkannya ke tengah nyala api dari lilin terdekat. Api segera membakar hio dan dalam sekali kibasan, api padam dan berganti wujud menjadi asap ringan yang melenggang gemulai dan meliuk menjauh. Kupegang hio dengan kedua tanganku dan kukatupkan di depan dada sambil berlutut. Kubisikkan beberapa baris pengharapan sambil memejamkan mata.

Selesai berdoa aku melangkah keluar dan menancapkan hio di Hio Lo. Mama menyongsongku sambil tersenyum. Sesaat aku mengira Dewi Kwan Im kembali menjelma wujud manusia dan muncul di hadapanku.

”Mama gak sembahyang?”

”Tentu saja mau, dong. Mama mau berdoa agar semuanya berjalan dengan baik untukmu, Sayang.”

Aku menunggu Mama di luar sambil berkeliling menikmati bangunan ini. Kupegang tumpukan pintu utamanya dan terasa kayunya masih begitu kokoh. Kularikan ujung jari-jemariku menelusuri setiap lekuk bunga peony emas yang terukir indah di atas dasar hitam. Kuelus gambar ukiran sepasang naga dan burung phoenix –lambang raja dan ratu– yang melingkar serasi di kedua sisi pintu. Sepasang singa batu penjaga gerbang utama tampak begitu serius menjalankan tugasnya. Entah sejak kapan mereka berada di sini.

Matahari yang redup dan sayup oleh waktu telah kehilangan gairahnya untuk menggodaku. Mama sudah selesai dan kini kami berjalan bersisian. Koper merah tetap kupeluk di depan dada. Beberapa penduduk setempat mulai keluar untuk menikmati udara sore dan saling menyapa. Udara yang berhembus sepoi-sepoi terasa sejuk mengayomi jiwaku.

Mama tampak sangat menikmati suasana perkampungan di daerah ini. Mungkin dia sedang merindukan suasana kampung halamannya dan berjalan-jalan di sini adalah tujuan sebenarnya hari ini. Bibirnya menyunggingkan senyum kecil. Ternyata membahagiakan Mama tak sesulit yang kurasakan selama ini.

Kami kembali memasuki area pasar. Aku mengikuti Mama duduk di sebuah stan makanan dan memesan makanan. Capek di badan setelah seharian mengikuti langkah Mama sudah tak begitu terasa. Aku memandang koperku dan sepertinya dia juga baik-baik saja. Aku melempar pandanganku menjauh. Tak kusangka Jakarta memiliki tempat yang menakjubkan seperti ini. Semua tampak begitu akrab dan ramah menyapa dalam irama kerja yang cepat dan ringkas. Kopi Tiam di ujung gang menampilkan suasana yang meriah. Encik-encik pengunjung yang berpakaian seadanya tampak duduk santai sambil membaca koran atau mengobrol dengan suara keras.

Beberapa pedagang mulai meringkasi dagangannya. Tenda-tenda diturunkan dan digulung. Kait-kait dilepaskan dan baut-baut dikendurkan. Meja-meja dilipat dan kursi-kursi ditumpuk. Sesekali mereka masih menyempatkan diri menyapa orang-orang yang lalu lalang sambil menawarkan sisa barang dagangan dengan harga yang sudah dibanting keras.

Matahari telah mengerahkan sisa-sisa tenaganya yang terakhir untuk menyepuh langit hingga merona jingga membara. Di saat-saat terakhir, kulihat bundarnya begitu indah melengkung sempurna.

***

Senja masih menyisakan sedikit warna redup sebelum akhirnya sirna di balik atap-atap perumahan ketika kami sampai di rumah. Mama memanggilku agar mendekat dan menunjukkan isi sebuah bungkusan kecil dari sobekan kertas koran.

”Ini yang namanya yen ci. Tak ada lagi yang menjual selain di toko Petak Sembilan tadi,” ujarnya sambil matanya berbinar senang. Aku memandang tumpukan koin-koin kecil yang berkilauan di hadapanku sambil memainkannya dengan ujung telunjukku.

”Berapa harganya ini semua, Ma?”

”Murah kok. Semua ini cuma lima ribu. Lebih mahal ongkos taksinya. Hahaha…”

Malam harinya kulihat Mama sibuk menjahit yen ci tersebut di handuk baru, sapu tangan baru, baju baru, celana dalam baru, dan segala sesuatu yang masih baru dan terbuat dari kain. Benang yang digunakan untuk menjahit berwarna merah. Aku duduk di lantai dan mulai menyusun barang-barang yang sudah selesai dijahit ke dalam koper baruku.

”Zaman dulu, seorang pengantin perempuan yang hendak memasuki rumah calon mertua akan diteliti dari ujung rambut sampai ujung kaki beserta barang bawaannya. Banyak atau sedikit barang berwarna merah yang dibawanya akan dianggap sebagai takaran keberuntungan yang bakal menyertai masuknya si pengantin perempuan ke dalam rumah mertua. Semakin banyak semakin bagus.”

Aku terdiam sambil terus membetulkan letak barang-barang di dalam koperku.

”Andai Papa masih ada, tentu dia sangat senang kamu segera menikah.”

Aku bangkit dan mendekati Mama. Ah, Mama. Kucium dan kupeluk erat. * * *

Surabaya, 4 November 2008

*) Salah satu cerpen terbaik Jakarta International Literary Festival (JILFEST) 2008

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *