SURAT DALAM KHAZANAH SASTRA INDONESIA

Maman S. Mahayana *

(Bagian I)
Sesungguhnya, sudah sejak lama masyarakat Indonesia mengenal tradisi menulis surat. Para raja pada zaman kerajaan dahulu, wali-wali dan para penyebar aga-ma atau sultan-sultan ketika agama Islam menyebar dan berkembang di pelosok Nu-santara, sudah terbiasa melakukan korespondensi, baik dengan saudara atau sahabat-sahabat baiknya, maupun dengan pihak lain yang mungkin belum dikenalnya. Keda-tangan bangsa Eropa ke Nusantara, makin memperluas tradisi korespondensi mereka.

Sultan Aceh, Alauddin Syah tahun 1602, misalnya, pernah berkirim surat kepada Kapten Harry Middleton. Demikian juga Sultan Iskandar Muda tahun 1615 berkirim surat kepada Raja James I. Kemudian Sultan Tidore, Kaicil Nuku tahun 1785 juga melakukan hal yang sama kepada John Grisp yang waktu itu menjabat sebagai Gubernur Bengkulu, sementara Sultan Ternate, Muhammad Yasin XVIII tahun 1802, mengirimkan suratnya kepada pejabat Inggris, Kol. J. Oliver yang mungkin sebagai pengganti Robert Townsend Farquhar.

Beberapa contoh di atas, sekadar menunjukkan bahwa berkirim surat tidaklah sekadar menjalin hubungan pribadi dengan pribadi, melainkan juga menjalin hubungan perdagangan dan diplomatik. Dalam hal itu, hampir dapat dipastikan, bahwa para sul-tan atau raja di Nusantara ini, pernah melakukan korespondensi dengan orang-orang Eropa atau bangsa asing lainnya yang datang ke wilayah kerajaan atau kesultanan itu.

Tradisi tersebut tidak hanya memperlihatkan, betapa bangsa kita sebenarnya sudah sejak lama mengenal komunikasi tertulis “lewat surat” tetapi juga menunjukkan tingkat peradaban dan keterpelajaran mereka. Dengan demikian, sekaligus juga sebagai bukti bahwa masyarakat kita, sudah sejak lama terbiasa hidup dalam tradisi baca-tulis.

Satu hal yang tidak kalah pentingnya dari tradisi berkorespondensi para raja, sul-tan atau penguasa waktu itu, adalah ketelatenannya untuk menyimpan atau dalam istilah sekarang mengarsipkan, surat-surat hasil korespondensi tersebut. Kesadaran bahwa surat merupakan sebuah dokumen penting, baik yang bersifat pribadi, maupun kelembagaan, rupanya sudah menjadi bagian dari tradisi berkorespondensi waktu itu. Jadi, tradisi pengarsipan surat pun, sejak sejak lama dilakukan para leluhur kita. Oleh karena itu, tidak beralasan, bahkan tidak pada tempatnya bagi bangsa asing, terutama Belanda ketika itu, untuk menyebut dan melecehkan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang terbelakang.

Sebagai bukti, peninggalan berharga dari tradisi surat-menyurat ini, sampai se-karang masih terpelihara dan tersimpan dengan baik di keraton-keraton atau di kesul-tanan-kesultanan di tanah air. Usaha pemerintah menyelamatkan, memelihara, dan me-lestarikan peningggalan berharga itu dilakukan dengan menyimpannya di Perpustakaan Nasional atau di Arsip Nasional. Di luar negeri, terutama di Inggris dan Belanda atau di beberapa perpustakaan di Eropa, naskah-naskah lama dari tradisi tulis bangsa kita, juga masih terpelihara dengan baik, meskipun bukan lagi milik bangsa yang melahir-kannya. Naskah-naskah itu diboyong ke Eropa saat bangsa kita dijajah Belanda.

Sebuah buku berjudul Golden Letters (Surat Emas) (London: The British Li-brary; Jakarta: Yayasan Lontar, 1991) yang disusun Annabel Teh Gallop dan Bernard Arps, mengungkapkan betapa raja-raja di Nusantara dahulu, sangat memperhatikan adab dan tata krama berkorespondensi. Mereka menulis surat dengan tulisan yang sangat indah yang mencerminkan martabat dan derajat pengirimnya. Dengan demikian, sekaligus juga menunjukkan keterpelajaran dan tingkat peradaban masyarakatnya.

Para peneliti, terutama sejarawan, banyak yang kemudian memanfaatkan nas-kah-naskah yang berupa surat-menyurat itu untuk fakta historis. Mereka mencoba me-nguak jalinan hubungan sultan-sultan atau para penguasa kita di zaman dahulu dengan orang-orang asing (Eropa, terutama Belanda). Oleh karena itu, surat sebagai alat ko-munikasi tertulis, tidak hanya penting sebagai bukti otentik hubungan seseorang de-ngan orang atau pihak lain, tetapi juga penting sebagai dokumen, catatan tertulis yang suatu saat kelak akan menjadi bukti, atau bahkan dokumen sejarah sebagian perjalanan hidup seseorang.
***

Kenyataan bahwa masyarakat kita di zaman kerajaan atau kesultanan dahulu itu, sudah terbiasa berkirim surat, rupanya “sedikit-banyak” turut pula mengilhami para sastrawan kita. Terbukti kemudian, baik dalam kesusastraan Indonesia lama, maupun dalam kesusastraan Indonesia modern, gambaran dari kebiasaan masyarakat kita berkirim surat itu muncul pula sebagai bagian intrinsik karya yang bersangkutan. Dengan demikian, pernyataan bahwa sastra sering kali dianggap sebagai cermin masya-rakat dan potret zamannya, bukanlah sesuatu yang berlebihan. Marilah kita periksa!

Karya Raja Ali Haji yang berjudul Sjair Abdoel Moeloek, misalnya, kita ketahui proses penebitannya justru dari korespondensi Raja Ali Haji dengan seorang hakim Belanda bernama Philippus Pieter Roorda van Eijsinga. Dari sanalah kemudian kita tahu bahwa karya itu selesai ditulis tanggal 9 Safar 1262 H atau 3 Februari 1846. Berkat usaha orang Belanda itulah, Sjair Abdoel Moeloek diterbitkan pertama kali di Belanda dalam bentuk cetakan tahun 1847 dalam tulisan Arab-Melayu. Pada tahun 1892 karya itu diterbitkan lagi dalam tulisan Latin. Penerbit Balai Pustaka kemudian menerbitkan kembali dalam tulisan Latin pada tahun 1917.

Korespondensi Raja Ali Haji dengan Roorda van Eijsinga itu juga mengung-kapkan betapa akrabnya persahabatan mereka. Sikap saling menghormati, memuji ke-baikan, dan saling mendoakan keselamatan masing-masing, merupakan salah satu bagi-an penting yang disampaikan dalam korespondensi mereka. Selain itu, korespondensi keduanya yang dimuat di halaman depan buku itu, memberi keterangan cukup lengkap mengenai proses terbitnya karya itu; sebuah karya yang juga dianggap mengawali ke-pujanggaan Raja Ali Haji. Dalam hal ini, anggapan beberapa kalangan bahwa Raja Ali Haji kurang bersahabat dengan orang Eropa dibandingkan Abdullah bin Abdulkadir Munsyi, terbukti tidak beralasan. Dengan demikian, anggapan itu jelas keliru.

Dalam Hikajat Hang Toeah, kita juga akan menemukan begitu banyak peristiwa yang menggambarkan tradisi berkorespondensi ini. Ketika Raja Malaka hendak mengutus Laksamana untuk menghadap Seri Sultan Benua Keling, misalnya, Raja memerintahkan Bendahara untuk menulis surat. Dalam beberapa peristiwa lain yang memperlihatkan kebiasaan berkirim surat ini, terungkap pula bahwa adab sopan-santun, etika pergaulan, dan saling menghormati tradisi, budaya, dan kepercayaan yang berlainan, sangat dipentingkan dan menjadi bagian dari peri kehidupan waktu itu. Jadi, sungguh aneh jika generasi sekarang kurang begitu memperhatikan tata pergaulan yang luhur dan mulia itu.
***

Novel-novel Indonesia sebelum perang yang diterbitkan Balai Pustaka, sebagian besar ternyata menyertakan pula bentuk surat sebagai bagian penting dalam peristiwa yang membangun cerita bersangkutan. Dalam Azab dan Sengsara (1920) karya Merari Siregar, misalnya, hubungan percintaan tokoh utama Aminu?ddin dan Mariamin dikembangkan lewat korespondensi kedua tokoh itu. Lewat surat-menyurat pula, putusnya hubungan percintaan mereka digambarkan sebagai akibat adat kolot yang membelenggu.

Agak berbeda dengan pola surat dalam Azab dan Sengsara, dalam Sitti Nurbaya (1922) Marah Rusli memanfaatkan bentuk surat, tidak hanya untuk meng-ungkapkan hubungan percintaan Sitti Nurbaya dengan Samsulbahri, tetapi juga untuk mengungkapkan kegelisahan Samsul ketika ia hendak bunuh diri. Yang juga berbeda dengan bentuk surat dalam novel sebelumnya, dalam Sitti Nurbaya, surat Samsulbahri kepada Sitti Nurbaya disusun dalam bentuk syair yang menggambarkan cinta Samsulbahri kepada kekasihnya.

Pola jalinan percintaan yang dikembangkan lewat surat, agaknya menjadi sema-cam konvensi dalam novel-novel terbitan Balai Pustaka waktu itu. Bahkan, beberapa novel yang diterbitkan di luar Balai Pustaka pun hampir selalu memanfaatkan surat dalam mengembangkan ceritanya. Terlepas dari soal kecenderungan yang terjadi pada novel-novel Indonesia masa itu, pemanfaatan surat yang dilakukan para pengarang kita untuk mengembangkan ceritanya, menunjukkan bahwa tradisi berkomunikasi lewat surat, bukanlah sesuatu yang baru sama sekali.

Dalam novel karya Abdoel Moeis, Salah Asuhan (1928), Adinegoro, Asmara Jaya (1928), Sutan Takdir Alisjahbana, Dian yang Tak Kunjung Padam (1932) dan Layar Terkembang (1937), Paulus Supit, Kasih Ibu (1932), Fatimah Hasan Delais (Hamidah), Kehilangan Mestika (1935) dan beberapa novel yang terbit sezamannya sampai ke karya Hamka, Tenggelamnya Kapal van der Wijck (1939), tampak jelas bahwa pemanfaatan surat menjadi bagian penting dalam jalinan ceritanya. Jika dikatakan bahwa karya sastra merupakan cermin masyarakat dan menggambarkan semangat zamannya, maka makna surat dalam novel-novel itu, tidak sekadar sebagai bagian dari cerita, melainkan sebagai potret bahwa tokoh-tokoh di dalam novel itu, termasuk golongan masyarakat terpelajar. Setidak-tidaknya, tokoh-tokoh yang digam-barkan itu sudah terbiasa dengan budaya membaca dan menulis.
***

Dalam Salah Asuhan, surat-menyurat Hanafi dengan Corrie de Busee, Dokter Sukartono (Tono) dengan Sumartini (Tini) dalam Belenggu, atau Maria dengan Jusuf dalam Layar Terkembang, secara jelas mengungkapkan tingkat keterpelajaran tokoh-tokoh itu. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa mereka adalah tokoh-tokoh yang mewakili golongan terpelajar pada zamannya. Tetapi bagaimana surat-menyurat Hanafi dengan ibunya atau Yasin, pemuda udik dengan Molek, putri seorang bangsawan dalam Dian yang Tak Kunjung Padam? Apabila Hanafi menyurati ibunya di kampung, maka hal itu mengisyaratkan bahwa ibunya sudah terbiasa dengan budaya baca-tulis. Demikian juga Yasin, meskipun ia digambarkan sebagai pemuda udik dan miskin, kebiasaannya menulis surat mengisyaratkan bahwa ia juga seorang terpelajar, atau setidak-tidaknya pernah mengecap bangku pendidikan di sekolah.

(Bagian II)
Gambaran bahwa surat mengungkapkan keterpelajaran seseorang, terasa begitu kuat jika kita mencermati novel Hamka, Tenggelamnya Kapal van der Wijck. Surat-menyurat Zainuddin, Hayati, Khadijah, Aziz, Daeng Masiga, dan beberapa tokoh lainnya, tidak hanya berfungsi mengikat dan sekaligus mengembangkan jalinan cerita, melainkan juga memperkuat latar sosial tokoh-tokohnya. Kiranya jelas bagi kita, bahwa masyarakat Minangkabau pada masa itu, sudah terbiasa berkorespondensi. Caranya mengungkapkan gagasan, pikiran dan perasaan lewat surat, tertata begitu rapi yang mencerminkan tingkat keterpelajarannya. Dalam hal ini, surat benar-benar mewakili sosok pribadi seseorang. Di sini pula, surat dapat dijadikan sebagai salah satu alat untuk mengukur terpelajar-tidaknya dan dangkal-dalamnya wawasan seseorang.

Kepiawaian Hamka memanfaatkan surat ini, tampak pula dalam novelnya yang lain, Di Bawah Lindungan Kabah (1938). Begitu pentingnya jalinan cerita yang dibungkus dalam rangkaian surat tokoh-tokohnya (Hamid, Zainab, Rosna), sehingga rangkaian peristiwa dalam novel ini menyerupai cerita berbingkai. Untuk memberi gambaran lebih jelas mengenai teknik bercerita Hamka dalam novel ini, pembicara-annya akan dilakukan tersendiri dalam tulisan mendatang.

Pemanfaatan surat untuk menjalin dan mengembangkan cerita, sebagaimana yang dilakukan Hamka dalam Tenggelamnya Kapal van der Wijck, tampak pula dalam novel Soetomo Djauhar Arifin, Andang Teroena (1941). Dalam beberapa hal, terkesan kuat Soetomo mengambil novel Hamka itu sebagai modelnya. Oleh karena itu, dalam novel ini, kita juga akan menemukan surat-surat yang berisi pemutusan hubungan cinta, perhatian seorang ibu, kerinduan sepasang kekasih, sampai ke surat lamaran.

Meski tidak sekental yang dilakukan Hamka, Soetomo cukup berhasil menempatkan surat lamaran tokoh utamanya, Goenadi, sebagai klimaks cerita. Perhatikan bagian akhir surat itu yang dikutip berikut ini: “Poetoesan itu hanjalah: setoedjoe atau tidak. Atau lebih tegas, memperkenankan atau melarang Hartini, ananda jadikan isteri ananda!” Surat lamaran yang ditulis Goenadi untuk orang tua Hartini, kekasihnya itu, terasa lugas, meski sebelumnya dikemukakan alasan-alasan yang melatarbelakanginya. Dalam novel Hamka, surat lamaran yang ditulis Zainuddin untuk orang tua Hayati, justru menjadi puncak berakhirnya percintaan Zainuddin dengan Hayati. Sebagai perbandingan, perhatikan surat lamaran Zainuddin itu yang dikutip beberapa penggal, berikut ini:

“Engku yang mulia! Saya seorang anak muda yang setia. Jika sekiranya engku sudi menerima saya untuk kemenakan engku, engku akan beroleh kemenakan yang penyantun, yang suka berjuang dalam hidup dengan tiada mengenal bosan dan jemu? Tak usah engku takut Hayati akan kecewa bersuami saya. Percayalah engku bahwa dia akan beroleh seorang suami yang kenal kewajibannya, menempuh kesenangan dan kesusahan dengan hati yang tetap. Kabulkanlah surat saya, engku. Saya tak pandai mencari jalan yang saya rasa lebih aman dan tidak mengecilkan hati, lain dari mengirim surat ini.”

Demikianlah, jika fungsi surat dalam novel-novel yang telah disebutkan tadi, dimanfaatkan untuk menjalin dan mengembangkan cerita, maka dalam novel Huluba-lang Raja (1934) karya Nur Sutan Iskandar, surat sekaligus juga untuk mengungkap-kan fakta historis. Hulubalang Raja yang mengambil sumber ceritanya berdasarkan disertasi H. Kroeskamp (Utrecht, 1931), memang mengangkat peristiwa sejarah Mi-nangkabau yang terjadi antara tahun 1665-1668. Oleh karena itu, surat yang menjadi bagian dalam cerita ini, bukanlah berupa surat pribadi, melainkan surat-surat perjanjian antara raja setempat dengan pihak Kompeni. Dalam hal itulah, surat dalam novel ini penting sebagai fakta sejarah yang menggambarkan sepak terjang orang-orang Belanda (Kompeni) dalam menjalin hubungan dagang dengan penguasa pribumi.
***

Selepas perang, para pengarang kita masih memanfaatkan surat dalam rangkaian cerita yang hendak dikembangkannya. Mengingat surat ditempatkan sebagai bagian intrinsik novel yang bersangkutan, maka fungsinya bergantung pada maksud pengarang menyertakan surat itu sendiri sebagai bagian dari cerita. Surat yang terdapat dalam novel Surapati (1950) karya Abdoel Moeis, misalnya, tampak sengaja dihadirkan untuk menegaskan sikap tokoh utamanya, Surapati dan tidak mengungkap-kan fakta sejarah, meskipun novel itu berlatar sejarah.

Surat yang ditulis Suzane Moor, istri Surapati, bagian akhirnya tertulis begini: “Jika engkau telah mendapat ampun, carilah pekerjaan yang berpatutan, tulis surat kepadaku. Alamatku ada pada nyonya Kramer. Bila engkau telah menjadi orang baik-baik, patut beristrikan nyonya Belanda, ada kemungkinan aku kembali ke Batavia. Jika tidak: selamat tinggal. Tapi yang kuharap-harap: sampai bertemu kembali”.

Surat dari Suzane Moor itu sesungguhnya menempatkan Surapati pada sebuah dilema. Jika ia mementingkan istri dan anaknya, maka ia harus mengikuti apa yang dipesankan istrinya, dan itu berarti ia mengkhianati perjuangannya membela tanah air. Sebaliknya, jika ia mementingkan bangsa dan tanah airnya, maka ia harus merelakan kepergian istri dan anaknya ke negeri asalnya, Belanda. Ternyata, Surapati memilih membela bangsa dan tanah airnya. Dengan begitu, ia terus melanjutkan perjuangannya melawan Belanda. Kelak, dalam novel Robert Anak Surapati (1953), Surapati terpaksa berhadapan dengan anaknya sendiri, Robert yang membela bangsa ibunya, Belanda.

Dalam novel-novel yang terbit selepas tahun 1950-an, para pengarang kita sudah jarang menghadirkan surat sebagai bagian penting di dalam membangun cerita. Dalam novel Jalan Tak Ada Ujung (1952) karya Mochtar Lubis, misalnya, surat Hazil kepada Guru Isa, disajikan dalam bentuk tidak langsung. Fungsinya lebih dimaksudkan untuk mengganggu pikiran dan perasaan Guru Isa. Dengan demikian, kegelisahan tokoh utama itu, terus berkelanjutan.

Tampaknya, jika tidak terlalu penting benar, para pengarang kita selepas mer-deka, tidak merasa perlu menghadirkan surat. Meskipun begitu, dalam sejumlah novel, kita masih menjumpai adanya surat yang kehadirannya lebih diarahkan untuk memper-kuat karakterisasi tokoh, menciptakan atau menambah konflik yang dihadapi tokoh-tokohnya atau menjadikan persoalannya lebih rumit. Pemanfaatan surat benar-benar sesuai dengan tuntutan cerita itu sendiri, dan bukan sekadar tempelan. Dengan begitu, kehadiran surat jadi terasa lebih fungsional dan efektif dalam membangun cerita.

Namun, dalam novel Gairah untuk Hidup dan untuk Mati (1968) karya Nasyah Djamin, kehadiran surat justru sangat penting. Ia tidak hanya menjadi bagian cerita, tetapi juga untuk membangun cerita itu sendiri secara keseluruhan. Dalam hal ini, surat-surat dalam novel itu, juga berfungsi sebagai catatan biografis tokoh-tokoh-nya. Dengan demikian, perkembangan cerita, kerumitan masalah, karakterisasi tokoh, latar sosial dan latar material, serta berbagai peristiwa, justru dimungkinkan karena adanya surat-surat itu. Oleh karena itulah, novel ini menyerupai cerita berbingkai. Riwayat Fuyuko dalam rangkaian suratnya yang dibacakan adiknya, Shimada kepada tokoh Talib. Tokoh Talib inilah yang seolah-olah membingkai surat-surat Fuyuko.

Dalam bentuk yang agak berbeda, Ajip Rosidi dalam Anak Tanah Air (1985) secara sengaja menempatkan surat-surat di bagian ketiga novelnya. Dengan tajuk “Surat-Surat Dinihari” yang ditulis tokoh Hasan, surat-surat itu jutsru melengkapi dan sekaligus terkesan melanjutkan perjalanan hidup tokoh Ardi yang terdapat dalam bagian pertama dan kedua novel itu. Yang terasa penting dalam surat-surat itu adalah catatan-catatan historis yang terjadi di seputar peristiwa pemberontakan PKI, 30 September 1965 dan beberapa tahun sesudahnya. Dengan demikian, kehadiran surat-surat itu benar-benar menjadi bagian integral bagi cerita novel itu secara keseluruhan.

Sesungguhnya, masih banyak novel lain, termasuk juga cerpen, drama, dan puisi, yang menyertakan surat sebagai bagian penting dalam jalinan peristiwa yang terdapat dalam karya yang bersangkutan. Sesuai dengan perkembangan zaman, bentuk surat yang dihadirkan para pengarang dalam karyanya, sejak novel-novel awal zaman Balai Pustaka sampai sekarang, tampak semakin problematik dan canggih. Kadangkala menyerupai tempelan yang merekatkan peristiwa yang satu dengan peristiwa yang lain. Namun, sering juga berupa informasi penting, baik yang menyangkut fakta sejarah, peristiwa politik, maupun pemikiran filosofis. Dalam hal ini, para pengarang sengaja menghadirkan surat dalam karyanya sebagai usaha mengembangkan ceritanya, dan sekaligus juga untuk menyiasati tema yang hendak disampaikannya.

Sesungguhnya masih banyak novel (atau cerpen) Indonesia yang memanfaatkan bentuk surat sebagai bagian intrinsik dari keseluruhan ceritanya. Novel Trisnoyuwono yang berjudul Surat-Surat Cinta (1968), misalnya, malah cerirtanya itu sendiri dikem-bangkan melalui surat-menyurat para tokohnya. Jadi, surat sebagai bagian cerita dalam khazanah kesusastraan Indonesia, sudah bukan merupakan sesuatu yang asing.

Lebih daripada itu, surat-surat yang terdapat dalam khazanah kesusastraan Indonesia itu, tidak hanya memperlihatkan tradisi berkorespondensi yang sudah sejak lama berkembang, tetapi juga mencerminkan tingkat keterpelajaran tokoh-tokoh yang ditampilkannya. Semakin meyakinkan dan berkesan surat-surat itu, semakin tampak kepiawaian pengarangnya. Sayang sekali, sejauh ini, belum ada penelitian atau skripsi yang mencoba menelaah bentuk atau makna surat-surat yang terdapat dalam karya sastra (novel atau cerpen).
***

Sebagai usaha melatih para siswa atau mereka yang ingin belajar mengarang, menulis surat, khususnya surat pribadi, sesungguhnya merupakan salah satu cara yang paling mudah dan efektif. Bagaimana kita menyampaikan sebuah pesan pribadi dengan bahasa yang lancar dan enak dibaca dapat dilakukan melalui latihan penulisan surat. Benarlah kata pepatah bahwa: “Surat adalah wakil diri. Dangkal-dalamnya wawasan seseorang, piawai tidaknya seseorang mengungkapkan gagasan, menangkap persoalan, dan menyampaikan pesan dengan lancar, runtut, jelas, dan enak dibaca, tercermin dari surat yang dibuatnya.”

*) Pengajar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Depok, 16424.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *