CITRAAN DAN PENCITRAAN

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Citra (image) itu gambaran yang dihasilkan kesan mental. Citraan (imagery) adalah bayangan visual yang hadir lantaran ada sesuatu yang menyentuh saklar memori untuk mengaitkannya pada sesuatu yang lain. Sebuah kata, simbol, atau benda tertentu yang merangsang memori membayangkan atau memisualisasikan sesuatu atau peristiwa, termasuk kategori pencitraan. Ia dihadirkan memori yang di dalamnya bersemayam berbagai pengalaman. Maka ketika kata atau simbol itu mencitrakan sesuatu, memori seketika menghidupkannya sesuai dengan pengalaman masa lalu dan pengenalan pada sesuatu.

Sebutlah patung Ganesha. Ia bisa menjadi ikon, bisa juga citra. Sejarawan atau arkeolog akan mencantelkan Ganesha pada pengetahuannya tentang sejarah. Sivitas akademika ITB akan mengaitkannya pada almamater, pada berbagai peristiwa di belakangnya. Mungkin ia menyerupai slide yang menghadirkan heroisme, duka-cita, kebanggaan, kebahagiaan, atau bahkan tragedi. Setiap orang punya peralatan sendiri untuk menghidupkan berbagai peristiwa itu. Seperti sebuah folder yang menyimpan berbagai file, ketika folder itu diklik, keluarlah deretan file. File mana yang akan dibuka, bergantung pada pencitraannya.

Dalam puisi, citraan merupakan unsur penting. Para penyair sadar betul pada potensi citraan. Maka berlombalah mereka memanfaatkan dan mengeksploitasi bahasa untuk menghasilkan citraan secara maksimal. Lihatlah puisi Haiku Jepang berikut: Katak melompat/ Plung! Kata Plung di sana seketika akan memunculkan visualisasi tentang kolam, sungai, sawah atau segala yang berurusan dengan air. Hadir pula visualisasi tentang gerak kaki katak, cipratan air, dan lingkaran gelombang pada kolam yang diciptakan plung tadi. Kata plung bisa juga memisualisasikan hal lain jika di depannya ada kalimat: Nongkrong di kloset/Plung!
Begitulah, kata yang sama bisa menciptakan citraan yang berbeda, bergantung pada saklar mana yang ditekan untuk merangsang memori. Itulah kekayaan terpendam bahasa. Setiap kata memiliki potensi menciptakan citra. Potensi itu nemplok begitu saja pada memori setiap orang. Kualitas potensinya bergantung pada kekayaan pengalaman masing-masing.
***

Pada zaman kerajaan, pencitraan dimanfaatkan untuk melegitimasi kekuasaan raja. Sejumlah naskah yang berkisah tentang raja sebagai keturunan penguasa jagat raya atau dewa pencipta alam semesta, tidak lain dimaksudkan untuk membangun citra raja yang sakti mandraguna. Dengan begitu, kekuasaan raja mendapat legitimasi sebagai keturunan Sang Pencipta. Sabdanya dipercaya sebagai kebenaran yang tak terbantahkan. Rakyat menerima begitu saja sebagai fatwa. Barang siapa menolak, ia akan mendapat bala?malapetaka.

Pada zaman Belanda, pribumi (inlander) dicitrakan sebagai golongan masyarakat yang berada setingkat di atas lumpur. Di atasnya lagi, ada golongan bangsawan, bangsa Asia Barat, Asia Timur (Cina dan Jepang), Indo Eropa, Kulit Putih, dan paling atas bertengger Belanda. Stratifikasi sosial itu, di satu pihak menempatkan bangsa Belanda begitu superior dan agung, dan di pihak lain, menyurukkan posisi pribumi berada dalam kasta paling nista. Pencitraan ini efektif, karena ia berpengaruh secara psikologis. Sikap inferior, minder, takut, gamang, tidak percaya diri, bekerja setengah hati, nrimo, cepat puas diri, cari selamat, berlindung atas nama kekuasaan, langkah jalan pintas adalah beberapa pengaruh psikologis peninggalan stratifikasi sosial bentukan Belanda. Sikap semacam itu seolah-olah hadir begitu saja, tanpa sadar. Ia telah mengeram sekian lama dalam memori dan nyaris menjadi sikap hidup bangsa ini.

Ketika pemerintahan pendudukan Jepang coba membalikkan pencitraan itu, awalnya relatif berhasil. Kehancuran ekonomi dan kekalahan Jepang dalam perang, memusnahkan segala pencitraan yang dibangunnya. Bukankah sampai kini pun, kita tak merasa punya saudara tua yang bernama Dai Nippon? Jika saja Jepang cukup lama bercokol dan datang tak membawa kehancuran ekonomi, boleh jadi citranya akan lain. Itulah kekuatan pencitraan.

Pembalikan citra yang dilakukan Jepang, dalam bentuk yang lain, dijalankan efektif pemerintah Orde Baru (Orba) atas PKI dengan segala akar?rantingnya. Kata keramat revolusi dan kontrarevolusi yang dimanfaatkan PKI untuk membangun tali barut dan menghancurkan lawan politiknya, digantikan rezim Orba dengan Pancasila dan anti-Pancasila. PKI dicitrakan sebagai virus, penyebar berbagai macam penyakit. Ia anti-Pancasila dan akan mengganti falsafah negara dengan komunis. Ia bahaya laten, serigala berbulu domba. Maka, tindakan apa pun yang merongrong penguasa Orba, dicitrakan, pasti di belakangnya ada permainan PKI. Citra PKI secara meyakinkan membentuk stigma.

Pemerintahan SBY, juga bisa melakukan pencitraan untuk memperkuat legitimasi kekuasaannya. Sebutlah kasus aktual yang menimpa Menseskab. Boleh jadi pamor SBY akan melejit dan melahirkan citra positif atas usahanya memberantas KKN, jika itu diselesaikan secara elegan. Banyak kasus lain yang sebenarnya potensial membangun citra. Dengan begitu, SBY tidak hanya akan makin kuat memperoleh legitimasi politik, tetapi juga legitimasi sosial yang akan membangun reputasi dan prestise dalam menumpas tegas segala bentuk KKN.
***

Lembaga lain atau bahkan masyarakat bisa menciptakan berbagai pencitraan untuk kepentingan masyarakat sendiri. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bisa menciptakan citra tertentu bagi para koruptor. Misalnya dengan membuat ribuan atau bahkan jutaan poster yang menggambarkan betapa nistanya jadi koruptor. Para koruptor itu bisa saja digambarkan dengan wajah buruk berupa tikus, monyet, babi atau binatang lain yang menjijikkan. Juga dicitrakan bahwa koruptor itu identik dengan penyakit menular yang lebih nista dari kusta.

Beberapa waktu lalu di stasiun-stasiun jalur Bogor?Jakarta, terpampang poster yang menggambarkan seseorang berdiri di atas gerbong kereta. Di atas gambar itu tertulis: ?Superman sudah mati!? Apa maknanya? Dengan mengidentikkan orang yang berdiri di atas gerbong kereta dengan Superman, maka tentu saja ia akan merasa bangga jika nongkrong di atas gerbong. Bukankah orang itu diidentikkan dengan Superman: gagah, heroik, pemberani, meski setiap detik bahaya akan mencabut nyawanya. Poster itu tidak memberi pengaruh psikologis untuk menumbuhkan ketakutan atau efek jera, melainkan justru sebaliknya.

Akan lain halnya jika poster itu menciptakan citra buruk. Misalnya, yang nongkrong di atas gerbong itu adalah gerombolan orang berkepala kambing dan monyet. Lalu di atasnya tertulis: ?Hanya monyet dan orang berotak kambing yang naik di atas gerbong.? Bisa juga dengan kalimat: ?Inilah orang-orang hutan, tidak beradab dan liar.? Atau dengan kalimat sarkasme: ?Hanya orang dungu, idiot, dan goblok yang nekad naik di atas gerbong.?

Pencitraan buruk seperti itu perlu juga dikenakan pada para pelajar yang tawuran, polisi yang suka ?salam tempel?, dokter yang bekerja karena uang, hakim dan aparat pengadilan yang gampang disuap, masyarakat yang suka membuang sampah sembarangan, mahasiswa yang malas membaca, pegawai negeri yang kerap bolos kerja, dan sederetan profesi lain yang diselewengkan. Citraan dan pencitraan semacam itu harus terus-menerus didengungkan, digambarkan dalam berbagai poster, ditempel di tempat-tempat umum dan dipublikasikan di berbagai media massa, sampai akhirnya terbentuk stigma. Harus ada gerakan bersama untuk menciptakan citra nista pada para pelaku penyelewengan, apa pun profesinya, di mana pun dan kapan pun juga.

Melalui usaha membangun citraan dan pencitraan, akan terbentuk pandangan, tata nilai, bahkan juga stigma. Itulah salah satu fungsi citraan dan pencitraan. Tidak percaya? Coba sajalah!

*) Pengajar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *