GENDERANG GENDER: Stereotipe Perempuan dalam Bahasa Indonesia

Meka Nitrit Kawasari*
http://suaramerdeka.com/

BAHASA merupakan komponen komunikasi yang paling utama dalam kehidupan. Ia merupakan sarana untuk mengungkapkan sesuatu yang ada dalam pikiran manusia. Keterkaitan antara bahasa, kehidupan, dan kelompok sosial menimbulkan bermacam cara dan bentuk pemakaian bahasa.

Pemakaian bahasa itu timbul berdasarkan jenis kelamin, status sosial, latar belakang budaya, dan sebagainya. Pemakaian bahasa berdasarkan jenis kelamin, yaitu perempuan dan laki-laki, akan mengarah kepada gender. Bahasa yang dipakai keduanya tentu akan berbeda, sehingga menimbulkan penstereotipan perempuan dalam bahasa.

Hal ini terjadi apabila dilihat dari aspek biologis, psikologis, dan metodologis perempuan yang selalu merupakan subordinat laki-laki. Ditambah adanya budaya Jawa yang menjadikan perempuan sebagai kanca wingking bagi laki-laki dengan tugas macak (dandan), masak (memasak), dan manak (melahirkan). Seolah-olah perempuan adalah seseorang yang harus memenuhi, memelihara, dan menyelesaikan urusan rumah tangga.

Pemakaian bahasa berdasarkan jenis kelamin tidak urung akan merembet ke penggunaan bahasa berdasarkan faktor sosial dan latar belakang budaya. Ini terjadi akibat individu perempuan dan laki-laki tidak dapat terlepas dari faktor sosial dan latar belakang budaya masing-masing. Mereka hidup dalam
masyarakat luas yang memiliki aneka keragaman status sosial, pekerjaan, agama, pendidikan, suku, dan budaya. Keragaman itu tentunya mempunyai andil besar untuk memengaruhi bagaimana sosok perempuan dan laki-laki itu dalam berbahasa.

Menurut Suyanto, dosen Sastra Indonesia Undip, citra dan stereotip yang melekat pada perempuan merupakan hal yang bersifat dual. Artinya, citra yang melekat pada diri perempuan saat ini akan memperkokoh adanya stereotip perempuan. Sedangkan stereotip yang sudah sedemikian mapan akan membentuk citra baru sesuai dengan perkembangan zaman.

Penggunaan bahasa laki-laki dan perempuan memiliki format berbeda. Sebab perempuan sebagai subordinasi laki-laki dalam bahasa diwujudkan dalam berbagai unsur seperti kosa kata, ungkapan, istilah, dan gramatikanya. Perbedaan wujud bahasa antara laki-laki dan perempuan menggejala dalam semua ranah, baik dalam pekerjaan formal, pekerjaan informal (memasak atau mencuci pakaian), kegiatan sehari-hari, peralatan yang menunjang kegiatan, mainan, maupun sifat.

Pelacur, PSK Sebagai contoh kata ??pelacur?? atau pekerja seks komersial (PSK). Kedua kata ini biasa dipakai untuk pelaku perempuan. Pelacur berasal dari kata dasar lacur, yang berafiks pe-. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pelacur bermakna malang, celaka, sial, dan buruk laku. Seharusnya kata pelacur tidak hanya digunakan untuk perempuan, sebab arti sebenarnya bersifat umum alias tidak mengarah pada jenis kelamin.

Begitu pula istilah PSK yang selama ini melekat pada diri perempuan. Padahal jika dikupas pengertian pekerja seks komersial, itu pun tidak mengarah pada jenis kelamin tertentu. Menurut KBBI, pekerja bermakna orang yang bekerja. Seks adalah hal yang berhubungan dengan kelamin, seperti senggama. Komersial berhubungan dengan perdagangan.

Jadi, pekerja seks komersial adalah orang yang bekerja dengan memperdagangkan seks. Tidak ada satu pun faktor yang mengarah pada perempuan.

Tetapi kebiasaan yang membentuk istilah ini, yang akhirnya diperuntukkan perempuan, sebab perempuanlah yang biasa ditemui berprofesi sebagai PSK. Namun tidak dapat dimungkiri, ada juga laki-laki yang berprofesi sebagai PSK.

Hal serupa juga dijumpai pada kata memasak, sekretaris, bersolek, seksi, dan sebagainya, yang selalu mengarah pada perempuan. Banyak profesi, peralatan dan perlengkapan rumah tangga, aksesoris, mainan, dan julukan yang digolongkan seperti jenis kelamin. Sehingga terdapat perbedaan mana yang diperuntukkan perempuan dan mana yang diperuntukkan laki-laki.

Sudah banyak penelitian tentang perempuan dan bahasa yang dilakukan di Indonesia. Misalnya penelitian Marida Gahara Siregar dkk (Pusat Bahasa, 2006), berjudul Bahasa Indonesia dalam Perspektif Gender, yang menyimpulkan bahwa gagasan atau pemikiran kaum perempuan lebih bertele-tele dibandingkan dengan laki-laki. Hal ini dapat dilihat dari segi penggunaan kosa kata yang ditemukan.

Dalam penelitiannya berjudul Stereotip Perempuan dalam Iklan, Sri Puji Astuti ?dosen Sastra Indonesia Undip? menjelaskan kosa kata dan frasa yang mencerminkan stereotip perempuan adalah adjektiva (kata sifat). Yaitu penampilan fisik, sifat perempuan, pekerjaan perempuan, dan keterampilan perempuan.

Sedangkan ungkapan yang mencerminkan stereotip perempuan adalah ratu rumah tangga, ratu kecantikan, jago masak. Ungkapan-ungkapan itu, jika dibaca sekilas, merupakan sanjungan bagi perempuan. Tetapi di baliknya terdapat proses domestifikasi perempuan untuk lebih beraktivitas dan menghabiskan waktu di ruang domestik (rumah tangga).

Terbuktilah bahwa kegenderan tidak hanya terdapat pada peristiwa-peristiwa di kehidupan sehari-hari, tetapi juga dalam bahasa yang dipakai masyarakat Indonesia. Tidak hanya bahasa Indonesia, tetapi juga bahasa Inggris, Jawa, Sunda, dan bahasa daerah lainnya.

*) Alumni Sastra Indonesia Undip.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *