In Memoriam “Si Burung Merak” Pemberontakan Seru Sepanjang Waktu

Triyanto Triwikromo
http://suaramerdeka.com/

SEPANJANG 1989-1990 wartawan Suara Merdeka, Triyanto Triwikromo tinggal di rumah milik WS Rendra dan mengintip latihan Bengkel Teater. Setahun terakhir Rendra bekerja sama dengannya untuk menerbitkan Maestro Sastra dalam Seni Rupa dan mengajak menjadi ?pemberontak?. Berikut kisah-kisah pertemuan-pertemuan terakhir mereka sebelum Si Burung Merak wafat.

?Sungguh, kita harus menyelamatkan Mas Willy. Bagaimana pun caranya kita harus ke Singapura. Saya tak bicara sebagai istri…saya bicara sebagai orang Indonesia yang harus menjaga makna Mas Willy bagi bangsa ini,? kata Ken Zuraida, istri Rendra dalam percakapan lewat telepon, 30 Juni lalu.

Saya terhenyak menerima berondongan kata-kata Mbak Ida yang kedengaran panik itu. ?Ke Singapura?? tanya saya sambil membayangkan kerepotan-kerepotan yang bakal terjadi jika pria bernama lengkap Willibrodus Surendra Broto Rendra itu harus tinggal dalam waktu lama di negeri yang memang memiliki banyak rumah sakit bermutu itu. ?Ya, ke Singapura. Tolonglah ikut mengatur penyelamatan ini. Jika bisa harus berangkat hari ini. Kita tak mungkin menunda lagi.?

Sekali lagi saya bengong mendengar rentetan permintaan Mbak Ida. Namun meskipun demikian, saya segera meyakinkan Mbak Ida bahwa tokoh sebesar Mas Willy akan ditolong oleh siapa pun. ?Jangan khawatir…segera saya hubungi siapa pun yang bisa kita ajak untuk terlibat dalam penyelamatan Mas Willy.?

Tak lama kemudian, saya pun mencoba menelepon beberapa teman. Syukurlah dalam situasi yang tidak menentu itu, pengusaha-Nugroho Suksmanto dan Slamet Widodo, sahabat-sahabat Mas Willy bereaksi. ?Okelah. Segera saja dilakukan pengurusan ke Singapura. Soal biaya bisa kita tanggung bersama.?

Mendapat respons semacam itu, lewat percakapan telepon, saya meminta Mbak Ida agar segera mengatur keberangkatan ke Singapura. Setelah itu, saya mencoba menelepon teman-teman dekat Mas Willy agar segera bergerak berbuat apa pun untuk kesembuhan penyair yang antara lain moncer dengan antologi puisi Balada Orang-orang Tercinta itu.

Mendadak Mbak Ida menelepon. ?Alhamdulillah, Mas Willy tidak harus dibawa ke Singapura. Kami akan membawa dia berobat ke Rumah Sakit Harapan Kita. Di sini pun dokter-dokternya hebat-hebat…?

Karena pada siang hari masih ada beberapa urusan penerbitan buku saya, Pertempuran Rahasia, dengan Penerbit Gramedia Pustaka Utama di Jakarta, saya tidak segera membezuk budayawan yang pada 1995 memperoleh SEA Write Award dari Kerajaan Thailand itu. Baru pada pukul 19.00 meluncur ke tempat penerima Anugerah Federasi Teater Indonesia Award pada 2006 tersebut.

?Saya akan sembuh…saya akan sembuh,? kata dia sambil mengelap sisa makanan yang disuapkan oleh Clara Shinta, salah satu putri yang lahir dari rahim Sunarti Suwandi, istri pertama Rendra.

Beberapa pembezuk terbungkam. Saya yang sebelum masuk ke kamar Mas Willy sudah mendapatkan informasi tingkat keparahan sakit jantung koroner dan kemungkinan gagal ginjal dari Mbak Ida, tak berani menatap mata Si Burung Merak yang dalam sakit masih tampak ingin menjadi aktor yang berusaha melawan sakit dengan bercerita, bercanda, dan banyak gerak itu.

Yang tak terduga, Mas Willy dengan sangat detail menceritakan penyakit yang diderita sebagaimana dengan cermat di telepon ia membahas segala biaya yang harus ditanggung. Semua tak ada yang ditutup-tutupi. Semua dibeberkan tanpa tedheng aling-aling.

Sungguh menyesal saya tak banyak bercakap-cakap dengan Mas Willy hari itu. Sungguh menyesal saya tak bisa mendapatkan ungkapan-ungkapan penting berkait dengan ?proyek? yang sedang kami kerjakan bersama.
***

APAKAH ?proyek? yang sedang kami rancang? Semula Mas Willy dan kawan-kawan dari Anugerah Sastra Pena Kencana hanya ingin membuat sebuah gawe besar berupa respons perupa terhadap para sastrawan bertajuk Maestro Sastra dalam Seni Rupa. Namun belakang, ia menawari saya menjadi pemberontak.

?Kalau Dik Tri ingin jadi pemberontak, temui saya di Yogya,? kata penulis Blues untuk Bonnie itu.

?Pemberontak?? kata saya sambil mengenang keinginan saya menjadi murid Rendra pada 1990-an.

?Ya, temui saya segera..nanti saya jelaskan detailnya…?
Tertarik dengan istilah ?pemberontak? dan didorong oleh kenangan saat tinggal di rumah Mas Willy bersama penyair Sitok Srengenge di Mangga Raya Depok dan mengintip latihan Bengkel Teater Rendra di Cipayung Jaya, sepanjang 1989-1990, dari Semarang saya meluncur ke Yogyakarta. Saya membayangkan pemeroleh Bakrie Award (2006) ini akan mengajak saya terlibat dalam urusan-urusan yang berkait dengan perlawanan terhadap pemerintahan. Anggapan saya sangat beralasan karena dalam berbagai kesempatan Mas Willy menyatakan sikap mendukung Prabowo Subianto.

Kecurigaan saya semakin memuncak karena dia juga mengundang perupa S Teddy D dan Ugo Untoro, para perupa underground itu, bertandang ke hotel tempat Si Burung Merak menginap.

?Apa pun harus kita berontaki sekarang ini. Pemerintahan kita harus diguncang pemimpin muda yang bisa membawa setiap manusia yang tinggal di negeri ini memiliki harga diri. Kesenian kita juga makin ?dikotori? modal asing. Modal asing itu kelak akan mengatur arah kesenian dan peradaban kita. Kita harus melawan para seniman pemuja modal asing. Kita tentang mereka. Sebaliknya kita harus membantu anak-anak muda yang dengan modal sendiri mampu menggerakkan daya kesenian. Nah, Dik Tri siap bergabung dalam gerakan penyadaran ini bukan? Mari kita mulai gerakan ini dari pinggiran…dari Magelang…Salatiga, Semarang.?

?Tentu…tapi….?
?Ya…tak perlu harus masuk partai politik untuk menjadi pemberontak. Dengan menentang kezaliman kebudayaan yang dilakukan lembaga-lembaga kesenian yang dibantu oleh luar negeri, Anda sudah jadi pemberontak.?

Olala…ini to yang dimaksud dengan ?gerakan pemberontakan? itu. Andai tahu sejak awal, saya tak perlu membayangkan bakal menjadi sosok yang akrab dengan kosa kata jihad, pistol, dan penculikan aktivis. Pemberontakan ala Rendra pada akhirnya adalah pemberontakan kreatif.

Tentu saja Rendra tak membaiat saya untuk menjadi kawan seiring untuk melakukan pemberontakan. Meskipun demikian, berkali-kali dalam berbagai kesempatan dia bilang, ?Kalau kita diam saja, negeri ini akan tambah remuk. Kalau kita tak melawan kelaliman dan kezaliman, kita lebih baik tak jadi seniman. Kita sekarang butuh surga baru. Tanpa tangan kita kotor kita tidak bisa ciptakan kembali itu firdaus…..?

Ya, Tuhan, pertemuan malam itu, ternyata merupakan perjumpaan panjang terakhir. Saya menyesal menolak keinginan Mas Willy agar saya menginap di hotel itu. Saya menyesal tidak memberi kesempatan Mas Willy mewedarkan gagasan-gagasan pemberontakannya lebih lama. Kini ia telah pergi. Ia tak mungkin mengajak saya bercakap-cakap tentang rakyat yang tertindas dan pemerintah yang masa bodoh lagi. Kini setiap ingat Mas Willy, terngiang-ngiang sajak ?Kupanggili Namamu? yang seakan-akan menujum situasi macam apa yang akan dihadapi Mas Willy pada saat ia lelah bertempur dan melakukan pemberontakan tak kunjung habis itu.

Keheningan sesudah itu sebagai telaga besar yang beku dan aku pun beku di tepinya. Wajahku. Lihatlah, wajahku. Terkaca di keheningan. Berdarah dan luka-luka dicakar masa silamku.

Hmm, apakah kepergian Mas Willy akibat dicakar oleh masa lalu yang penuh pemberontakan? Saya yakin masa silam justru menjadi humus indah bagi kehidupan dan perjuangan penulis ?Suto Mencari Bapa? ini. Selamat jalan ke keheningan dan keabadian. Tidak dengan berdarah dan luka-luka. Tidak dengan kehancuran di telaga yang beku dan besar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*