Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin Sepi Pengunjung

http://oase.kompas.com/

Gedung Pusat Dokumen Sastra HB Jassin (PDSHBJ), yang berada di kawasan Pusat Kesenian Taman Ismail Marzuki Jakarta, setiap hari terlihat sepi pengunjung.

“Dari dulu hingga sekarang orang yang datang ke sini biasa-biasa saja dalam sehari antara 15-20 orang,” kata Petugas Pengelola Dokumen PDSHBJ, Agung Trianggono, di Jakarta, Jumat (8/5).

Menurut dia, lembaga satu-satunya yang menyimpan data dan pustaka terlengkap khususnya kesusastraan Indonesia itu kebanyakan dikunjungi kalangan mahasiswa, seperti dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, serta pelajar sekolah dari SLTA di Jakarta.

Adapun pengunjung dari luar antara lain dosen dan mahasiswa dari Malaysia yang akan membuat resensi sastra melayu serta seorang peneliti dari Perancis yang melakukan penelitian tentang perkembangan kesusastraan Indonesia.

“Dokumen yang diminati pengunjung terutama naskah drama, novel, puisi, dan kritik esai yang biasanya berkaitan dengan mata kuliah atau pelajaran sekolah, bahkan sering dijadikan bahan tesis oleh mahasiswa,” ujarnya.

Dia mengakui, meski keberadaan pusat sastra ini sudah lama ada, namun tempat tersebut dinilai masih belum dikenal secara luas karena kurangnya sarana promosi, misalnya melalui dunia maya.

Lebih dari itu, jalan masuk menuju lokasi gedung perpustakaan berlantai dua itu berada di jalan sempit yang tidak bisa dijangkau kendaraan bermotor sehingga hanya orang tertentu yang tahu keberadaan lembaga tersebut.

“Kami akui selama ini operasional lembaga yang kami kelola sangat terbatas karena minimnya dana,” katanya.

Menurutnya, selama ini biaya operasional diusahakan pihak yayasan dengan melalui bantuan para donatur yang peduli terhadap seni dan budaya, meski diakui ada juga bantuan dari Pemerintah Daerah DKI Jakarta.

Bantuan dana dari pemerintah untuk lembaga satu-satunya yang menyimpan data dan pustaka terlengkap khususnya kesusastraan Indonesia itu hanya Rp 250 juta per tahun, sedangkan anggaran operasional yang dibutuhkan untuk membiayai 18 orang karyawan, perawatan buku, dan pembelian buku setahunnya mencapai Rp 2 miliar.

“Kami sangat prihatin karena minimnya perhatian pemerintah terhadap lembaga penyimpan catatan sejarah yang menggambarkan kayanya khazanah budaya Indonesia ini,” katanya.

Bahkan, dia mengakui, keberadaan gedung sastra itu masih belum jelas di masa mendatang karena persoalan dana operasional yang masih ditangani pihak yayasan dengan keuangan sangat minim.

Yayasan HB Jassin yang dibentuk tahun 1977 itu mendapat bantuan gedung dari Pemerintah di kawasan TIM. Dan saat ini yayasan itu telah mampu mengoleksi ribuan informasi dan foto mengenai tokoh sastra dan budaya, hasil perjuangan HB Jassin yang mulai mengoleksi sejak tahun 1930-an.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *