Siti Zaenab

Andriansyah
http://www.lampungpost.com/

SEHABIS salat subuh tadi, ia langsung membereskan rumah, mencuci piring bekas makan malam, kemudian mencuci baju, lalu menyapu halaman. Ya, rutinitas yang biasa dilakukannya. Entahlah, semuanya sudah teratur seperti itu. Ingin rasanya ia mengubah rutinitas itu, tapi ia tak bisa. Setiap kali sehabis salat subuh ia ingin tidur kembali, setiap kali itu pula matanya tak mau mengatup lagi. Matanya terus terjaga, tak bisa melanjutkan tidur lagi setelah dibasuh dengan air wudu.

Sudah dua tahun suaminya pergi. Konon katanya, ia pergi mencari kerja di seberang sana. Mungkin melamar kerja menjadi TKI di Brunei atau Malaysia. Ia tak tahu pasti. Yang jelas, setelah ia dan suaminya bersusah payah mencari pinjaman uang untuk keberangkatan suaminya, suaminya tak pernah mengirim kabar. Ia sangat percaya kepada suaminya.

Setelah suaminya pergi itu, otomatis ia menjadi kepala keluarga. Ia yang mencari kerja untuk menghidupi dirinya dan anak perempuan satu-satunya.

Ia hanya memiliki seorang anak perempuan yang kira-kira umurnya lima tahun. Sewaktu suaminya pergi, anaknya baru berumur tiga tahun. Sekarang, anaknya sering menanyakan keberadaan suaminya.

“Umi, Abi ke mana sih, kok nggak pulang-pulang?” Pertanyaan semacam itu sering dilontarkan anak perempuannya kepadanya. Ia bingung harus menjawab apa. Ia sendiri tak tahu kapan suaminya pulang. Kalau sudah begitu, ia langsung mengalihkan pembicaraan ke hal lain. Terkadang pula, ia meneteskan air mata. Entahlah, air matanya seolah-olah menetes dengan sendirinya.

Dulu ketika pertama kali suaminya pergi ia tak punya pekerjaan tetap. Terkadang ia ikut Bu Broto dengan usaha kateringnya. Ia memang pandai memasak, tak heran Bu Broto memercayakannya meracik makanan yang dipesan pelanggan.

Tapi, bekerja di katering Bu Broto sangat melelahkan baginya. Ia harus sudah siap bekerja sehabis subuh. Atau bahkan terkadang ia harus bekerja sampai larut malam dan tidak menutup keinginan harus menginap di rumah Bu Broto. Ia tak tega jika harus meninggalkan anak perempuan satu-satunya sendirian di rumah.

Kadangkala ia membantu Bu Seno mengelola usaha penatunya. Sungguh sebuah pekerjaan yang melelahkan. Walau menggunakan mesin cuci, tenaganya benar-benar terkuras ketika bekerja di situ. Kalau dipikir-pikir memang lebih enak bekerja di katering Bu Broto. Sepulang dari sana ia bisa membawa sedikit makanan untuk makan anaknya.

Untunglah sekarang ia mempunyai pekerjaan tetap. Sekarang ia mengajar di sebuah pondok pesantren putri yang baru didirikan sekitar satu setengah tahun yang lalu. Walau gaji yang ia terima sebagai pengajar di situ tak seberapa, tapi baginya sudah lebih dari cukup untuk membiayai hidupnya dan anak perempuannya serta sedikit menabung jika ada keperluan mendadak.

Menjadi pengajar di pondok pesantren itu bukan berarti tak ada godaan yang menghampirinya. Beberapa kali ada laki-laki yang mengajaknya menikah dan bersedia menerima keadaannya yang sekarang. Tetapi cinta perempuan itu masih teramat besar pada suaminya. Ia tak mau mengkhianati kepercayaan yang diberikan suaminya. Ia ingin selalu setia menunggu suaminya hingga saatnya nanti kembali.

Ia masih percaya bahwa suatu saat suaminya akan kembali, walau entah kapan itu akan terjadi. Ia telah menolak segala macam bentuk percintaan yang mencoba menghampirinya. Segala cinta dan kesetiaan telah ia percayakan kepada suaminya. Ia hanya bisa berserah diri kepada Allah swt.

Tak jarang ia merasa tergoda. Ketika godaan itu datang, cepat-cepat ia membasuh wajahnya dengan air wudu. Ia percaya segala godaan yang datang adalah godaan yang dilancarkan setan sebagai upaya untuk menghancurkan keteguhan hatinya. “Baiknya, kau terima saja pinangan Ustaz Jaka. Orangnya kan baik dan bertanggung jawab, aku yakin ia akan mengerti keadaanmu.”

Kalimat itu yang pernah diungkapkan Ustazah Aminah kepadanya suatu hari. Ia hanya tersenyum mendengar perkataan tersebut. Baginya kesetiaan kepada suami adalah segala-galanya, tak ada yang bisa menandingi. Ucapan-ucapan seperti sudah sering dilontarkan orang-orang terhadapnya. Baik itu sesama pengajar maupun orang tuanya.

Ia tak pernah menggubris semua perkataan yang ditujukan kepadanya. Mengapa pula Ustaz Jaka itu ingin mengawiniku? Bukankah ia tahu bahwa aku telah bersuami? Perempuan itu membatin. Ia tak habis pikir dengan keinginan Ustaz Jaka serta orang-orang yang menyuruhnya menerima pinangan Ustaz itu. Apa seorang perempuan yang ditinggal pergi oleh suaminya, serta-merta bisa dilamar orang lain? Ia belum memahami hal itu. Yang ia tahu, ia hanya perlu mempertahankan kesetiaannya kepada sang suami. Ya, itu saja. Sambil senantiasa mendoakan suaminya agar selalu dilindungi Yang Kuasa, dan tentunya pula selalu mengharapkan kepulangan sang suami. Salahkah itu? Batin perempuan itu selalu bertanya-tanya.

Sekarang ia hanya mempertahankan cintanya kepada suaminya. Walau suaminya tak kunjung berkirim kabar, namun kekuatan cinta memberinya sabar yang mendalam. Ia tahu bahwa suaminya akan pulang walau entah kapan. Menyibukkan diri dengan mengajar, dirasanya lebih dari cukup untuk mengisi waktu sambil menunggu kepulangan suaminya. Ia juga harus tetap meyakinkan putri satu-satunya bahwa ayah tercintanya masih hidup dan akan segera kembali bermain bersamanya kelak.

Entahlah, lama-kelamaan hatinya yang kokoh mulai gundah. Perasaan-perasaan yang mengatakan bahwa suaminya mungkin saja menikah lagi di negeri sana, selalu membayanginya. Mulanya ia mampu mengatasinya. Tapi, belakangan ini perasaan itu makin kuat. Semakin mencengkeram hatinya. Ia jadi linglung, sedikit bingung. Naluri seorang perempuan memang kadangkala sangat kuat. Tapi, akankah ia menyerah begitu saja?

“Umi, abi ke mana sih, kok nggak pulang-pulang?” pertanyaan itu selalu dilontarkan anaknya. Ah, entahlah.

Perempuan itu tak pernah menjawab pertanyaan sederhana seperti itu. Baginya, sulit sekali menerangkan bahwa ayah anaknya memang tak tahu di mana keberadaannya. Entahlah, apa yang harus dijawabnya ketika ia terus diberondong dengan pertanyaan sederhana, namun sungguh sulit dijawab. Lagi-lagi ia harus berbohong kepada anaknya.

Ia selalu bilang, bahwa ayahnya akan segera kembali dari bekerja, membawa oleh-oleh yang banyak untuknya dan anaknya. Cuma jawaban itu yang selalu berulang-ulang dikatakannya. Lalu untuk mengalihkan pembicaraan itu terus berlanjut, ia selalu menceritakan kisah para nabi yang selalu menjadi bacaan wajib untuk anaknya. Setelah itu, anaknya pun dengan sendirinya akan melupakan kepulangan ayahnya.

Begitu terus hal yang dilakukan untuk menghadapi pertanyaan anaknya. Ia tahu, berbohong itu bukan hal yang baik. Tetapi bagaimana lagi? Ia benar-benar tak punya jawaban untuk pertanyaan sesederhana itu.

Waktu terus berjalan. Tak ada yang bisa menghalanginya untuk terus berjalan. Dua tahu telah menjadi tiga tahun. Kabar yang dinanti tak kunjung datang. Sabar di hati tersisa sedikit. Perempuan itu mulai khawatir, takut terjadi apa-apa dengan suaminya di seberang sana. Sekarang ia sungguh-sungguh bimbang. Sebagai perempuan, rasa khawatir dan bimbang itu selalu muncul setiap kali menghadapi kenyataan seperti ini.

Perempuan itu duduk termenung di sebuah sofa. Masih jam enam pagi, masih ada waktu sebentar sebelum mengajar di pesantren putri. Sambil memandangi foto perkawinannya. Ia terus berharap dalam hati untuk dapat bertemu dengan suaminya, walau sudah menjadi jasad sekalipun. Tiba-tiba telepon berdering. Bunyi dering itu mengagetkan lamunannya. Ia angkat telepon itu, “Assalamu’alaikum!” ucapnya. “Waalaikum salam!” suara di seberang menyahut. Suara perempuan yang menyahut di seberang sana. Ia tak mengenali suara itu. Suara itu belum pernah didengarnya. Kemudian ia bertanya, “Maaf, ini siapa, ya?”

“Begini Mbak Zainab, nama saya Zahra,” jawab perempuan di seberang sana.

“Zahra? Zahra siapa ya? Lalu dari mana kamu tahu nama saya?” perempuan itu langsung meluncurkan beberapa pertanyaan.

“Saya istri dari Mas Hamid, suami Mbak. Kami menikah di Malaysia sekitar setahun yang lalu. Maaf, sebelumnya saya atau Mas Hamid tak memberitahu Mbak terlebih dahulu. Tapi, kami menikah secara resmi kok, Mbak! Mas Hamid menikahi saya dengan niat menolong.”

Belum habis perempuan bernama Zahra itu selesai bercerita, ia sudah tak sanggup lagi memegang gagang telepon itu. Tiba-tiba saja gagang telepon itu menjadi berat, seberat batu kali. Kemudian segalanya menjadi gelap dan kabur. “Astagfirullah!” pekik perempuan itu sebelum terjatuh pingsan.

Bandar Lampung, 2004–2005

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *