Horison Sastra Indonesia

Joni Ariadinata *
infoanda.com/KoranTempo

Kalau Beni R. Budiman (Koran Tempo, 16/2) mengawali tulisannya dengan kalimat pembuka yang berisi pernyataan (pengakuan?) sebuah “kebingungan”, maka itu pantas baginya. Sebuah antologi besar semacam Horison Sastra Indonesia (HSI), memang tidak bisa disikapi secara serampangan, apalagi dengan nawaitu kecurigaan yang besar. Kapasitas Beni R. Budiman bisa diukur lewat tulisannya di harian ini, juga di Media Indonesia (10/2) yang kurang lebih sama. Continue reading “Horison Sastra Indonesia”

MENJENGUK HAZRAT BERTEMU RUMI, SHADRA DAN AL HALLAJ

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=78

?Tuhan kaum mistis adalah realitas?(Hazrat Inayat Khan)
Hidup memang pilihan, kata ayat yang tersirat dalam realitas kehidupan. Namun siapa yang sesungguhnya memilih, siapa pula penentu pilihan tersebut hingga langgeng?

Kehalusan akal kelembutan perasaan merupakan aura senantiasa berubah, sejenis timbangan takdir tak pernah berhenti menghitung gerak cahaya. Karnanya lelingkup kehidupan insan itu misteri yang naik ke puncak maya, menuju pijakan rasa terdalam menyodok niatan. Inilah kehendak berjuta penerimaan-penolakan, halus juga kasar. Continue reading “MENJENGUK HAZRAT BERTEMU RUMI, SHADRA DAN AL HALLAJ”

Elizabeth, Bawa Sastra Jawa ke Mancanegara

Mawar Kusuma
http://m.kompas.com/

Ketika tim dari Universitas Gadjah Mada masih berkutat untuk penyelesaian jilid terakhir dari 12 jilid karya sastra Jawa Serat Centhini yang telah digarap sejak tahun 1996, Elizabeth D Inandiak mampu merangkum serta mengkreasikan Serat Centhini menjadi buku dalam tiga tahun.

Maka, tak heran kalau Ketua Tim Penerjemah Serat Centhini dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Marsono, menyatakan kekagumannya terhadap Elizabeth D Inandiak, penyair asal Perancis ini. Sebab, menerjemahkan atau mengkreasi ulang Serat Centhini bukan pekerjaan mudah. Continue reading “Elizabeth, Bawa Sastra Jawa ke Mancanegara”

Adiluhung

Goenawan Mohamad
tempointeraktif.com, 02 Jan 1988

TUAN Adigang hidup di sebuah rumah ber-AC sentral yang sejuk, naik Mercy Tiger dan mengenakan arloji Rolex Ovster. Tapi ia, yang nama lengkapnya Drs. Adigang Adigung Adiguna, juga mengagumi Ronggowarsito.

Baginya, pujangga Jawa abad ke-19 itu adalah bagian yang tak terpisahkan dari hidupnva di tahun 1987 yang baru berakhir ini. Ronggowarsito, katanya suatu ketika, adalah satu puncak kebudayaan. Dia menunjukkan sesuatu yang adiluhung. Continue reading “Adiluhung”

Bahasa ยป