Mendobrak Kebuntuan Sastra

Risang Anom Pujayanto
http://www.surabayapost.co.id/

Mereka yang sedang tumbuh, muncul dari kampus dan komunitas-komunitas sastra. Gerakan mereka memang tidak seagresif para penggiat sastra Jawa Timur era tahun 1980-1990-an yang getol ?melancarkan serangan? ke daerah-daerah di Jawa Timur dan luar Jawa Timur.

Komunikasi antar penyair antar kota dan provinsipun tergolong cukup intensif dilakukan oleh penggiat sastra 1990-an. Bahkan isu revitalisasi sastra pun lahir akibat dari komunikasi intensif antar penyair dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dan isu itu sempat menggetarkan wacana sastra di Indonesia. Continue reading “Mendobrak Kebuntuan Sastra”

HERO DALAM SASTRA KITA

Tjahjono Widijanto *
surabayapost.co.id

Dalam sebuah buku klasik yang berwibawa The March of Literature: From Confucius to Modern Time karya Ford Madox Fox, dapat ditemukan sebuah adigum yang mahsyur; “the quality of literreture, in short, is the quality of humanity”, teks sastra yang berkualitas tidak saja merupakan dokumentasi sastrawi semata-mata tetapi juga merupakan dokemtasi sejarah yang di dalamnya penuh dengan luka-luka manusia. Demikian pula yang dapat dicatat dari awal tumbuh dan perkembangan sastra Indonesia modern tak lepas dari persolan luka kemanusiaan dan luka bangsa. Continue reading “HERO DALAM SASTRA KITA”

MEMBACA JARAN GOYANG, HATI PUN BERGOYANG;

Catatan Kecil Sajak Samsudin Adlawi

Imamuddin SA

Waktu itu, kira-kira sehabis Isya?, saya menguhubungi kawan saya. Saya bermaksud mau ngobrol-ngobrol denganya. Seketika itu saya lansung mengambil motor dan memacunya ke rumah kawanku tadi. Bukan sekedar kawan, tapi lebih dari itu. Entah apalah, yang jelas dia istimewa bagi saya. Namanya Nurel Javissyarqi.

Sesampainya di rumahnya, saya langsung bertemu dengannya. Seperti biasa, saya menemukannya sedang khusyuk dengan leptopnya. Membuat esai dan berkutat dengan facebook. Continue reading “MEMBACA JARAN GOYANG, HATI PUN BERGOYANG;”

Angkatan Baru Penyair Surabaya

Umar Fauzi *
surabayapost.co.id

Estetika gelap itu mungkin akan atau sudah berlalu, dirasakan atau tidak, beberapa penyairnya mulai sedikit “jenuh” dan membelot meski tidak secara terang-terangan dan malu-malu pada pola pengungkapan baru, tengoklah misalnya puisi Mashuri, setelah Pengantin Lumpur “setidaknya yang terbit di media-media nasional dan lokal beberapa tahun belakang” seperti dua puisinya yang termuat antologi Pena Kencana 2008, misalnya. Continue reading “Angkatan Baru Penyair Surabaya”

Mantra Banjar: Bukti Orang Banjar Mahir Bersastra Sejak Dahulu

Mahmud Jauhari Ali

“Pur sinupur/ Bapupur di piring karang/ Bismillah aku bapupur/ Manyambut cahaya si bulan tarang/ Pur sinupur/ Kaladi tampuyangan/ Bismillah aku bapupur/ Banyak urang karindangan?.” Demikianlah penggalan salah satu mantra Banjar yang sudah ada sejak zaman dahulu. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa orang Banjar sejak dahulu hingga sekarang menggunakan mantra Banjar untuk berbagai keperluan, seperti untuk mempermudah melahirkan, menjadikan tubuh kebal terhadap senjata tajam, dan untuk membuat anak berhenti menangis. Continue reading “Mantra Banjar: Bukti Orang Banjar Mahir Bersastra Sejak Dahulu”

Bahasa ยป