Revitalisasi Makna Pahlawan

Abdul Gaffar*
http://www.surabayapost.co.id/

Barang siapa sungguh menghendaki kemerdekaan buat umum, segenap waktu ia hari siap sedia dan ikhlas buat menderita ?kehilangan kemerdekaan diri sendiri?(Dari Bilik Penjara ke Penjara, Tan Malaka)

Setiap Tanggal 10 November kita selalu menundukkan kepala guna mengenang jasa-jasa para pejuang bangsa yang telah gugur mempertahankan kemeredekaan. Sangat besar pengurbanan para pahlawan bangsa yang telah bersedia mengorbankan harta dan nyawa demi untuk mimikirkan para penerusnya.

Secara historis, kita memilih 10 November sebagai Hari Pahlawan karena pada tanggal tersebut, sudah 64 tahun silam merupakan Keberanian rakyat Surabaya membuat gemetar nyali tentara sekutu. Kegagalan sekutu di Surabaya memberi sinyal kuat pada rakyat dan para pemimpin Indonesia bahwa sikap pantang mundur adalah modal utama dalam mempertahankan kemerdekaan.

Para legendaris pelaku sejarah yang tak pernah gentar untuk melawan penjajah, sebut saja Bung Tomo dan Ruslan Abdul Gani yang mampu menyalakan api semangat perjuangan rakyat lewat siaran-siarannya radionya. Peristiwa 10 November adalah bukti kecintaan rakyat pada negara proklamasi. Rakyat rela berkorban segalanya demi kemerdekaan.

Bermodalkan senjata seadanya, rakyat Surabaya menyongsong dengan gagah berani mesin perang modern milik tentara sekutu yang sebelumnya berhasil meluluh-lantakkan tentara Jepang, Italia, dan Jerman.

Bung Tomo, salah satu tokoh cikal bakal peristiwa 10 November, adalah agitator ulung yang berhasil membakar semangat rakyat lewat pidato radionya yang inspiratif dan provokatif. Wajar jika kemudian Bung Karno dan para generasi ’45 mengabadikanperistiwa 10 November itu sebagai The Hero’s Day-nya bangsa Indonesia.

Peristiwa Surabaya adalah kombinasi semangat merdeka, rasa cinta Tanah Air, serta manunggalnya pemimpin dan rakyat. Itulah khitah dasar nasionalisme Indonesia, yang spiritnya bersemayam dalam frasa persatuan, solidaritas, kejujuran, dan kerelaan berkorban yang tertanam kuat di lubuk hati pemimpin dan rakyatnya.

Pembukaan UUD 1945 secara eksplisit mengamanatkan bahwa republik ini didirikan untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut serta melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Dalam konteks ekonomi, Bung Karno menegaskan: (1) tidak boleh ada kemiskinan di bumi Indonesia; (2) ekonomi nasional tidak boleh dikuasai asing; dan (3) kesejahteraan harus merata dan dinikmati oleh seluruh rakyat.

Dari Tahun ke Tahun semakin terasa, mutu peringatan Hari Pahlawan semakin menurun tanpa mempunyai arti apapun. Terbukti, peringatan yang kita lakukan sekarang cenderung bersifat seremonial belaka. Maka, tugas kita saat ini adalah memberi makna sesuai dengan kontek pada zaman kehidupan bangsa yang sedang berlangsung, yakni kepahlawanan yang mampu mengisi kemerdekaan sesuai dengan perkembangan zaman.

Menghadapi situasi seperti sekarang kita berharap muncul banyak pahlawan dalam segala bidang kehidupan bangsa sedang membutuhkan banyak pahlawan, pahlawan untuk mewujudkan Indonesia yang damai, Indonesia yang adil dan demokratis, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Negeri kita sedang dililit kanker korupsi yang sudah mencapai stadium terakhir. Kita membutuhkan orang-orang berani untuk memberantasnya. Seorang ilmuwan pun bisa menjadi pahlawan dalam bidangnya berkat penemuannya yang dapat menyejahterahkan orang banyak. Perlu kita ingat, saat memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan, para pahlawan bangsa telah mengorbankan nyawa akibat musuh utamanya adalah orang-orang bersenjata lengkap.

Saat ini, bukan lagi orang-orang bersenjata lengkap sebagai musuh utama melainkan para pembangkang Negara yang selalu menggunakan lidahnya untuk megeruk kekayaan Negara demi kebutuhan peribadi. Ironisnya, tindakan itu dilakukan di saat kondisi bangsa sedang melarat, sesuai jumlah orang miskin semakin hari semakin meningkat seperti tak ada habis-habisnya, akibat ketidak beresan dalam proses pembangunan kita dan salah dalam tataran perencanaan serta implementasi.

Akibat dari itu semua, bangsa mengalami problem amat serius yang berkepanjangan, yakni ketidakpercayaan diri alias kerdil. Sebuah bangsa tanpa kepercayaan diri tidak mungkin bisa menghasilkan produk-produk manusia unggul. Keunggulan hanya bisa diraih jika kita mempunyai kebanggaan akan bangsa dan negerinya sendiri.

Saat ini yang sangat dicari adalah seorang pahlawan yang mampu memberantas korupsi yang sepertinya sudah berurat-berakar di negara ini. Korupsi tidak akan pernah ada habis kalau masih banyak orang masih sangat berkeinginan untuk tetap mencari kekayaan semata dalam kehidupannya. Korupsi tidak ubahnya penyakit kronis yang sangat sulit disembuhkan. Semakin parah penyakit tersebut, maka justru semakin alergi dan para pejabat negara justru berlomba-lomba mengeruk uang negara.

Dicari seorang yang berani menolak segala sesuatu pemberian hanya untuk kepentingan pribadinya. Orang yang berani memangkas birokrasi yang semuanya berujung kepada perilaku korupsi. Inilah makna heroisme baru yang harus dibangun terus-menerus. Kita tidak ingin jasa para pahlawan dan nilai-nilai luhurnya hanya ada dalam ingatan, tapi terlupakan dalam tindakan.

Pahlawan anti korupsi itu tentunya adalah bagaimana hati nurani semua kita mampu berkata tidak pada saat kita melihat ada sesuatu yang sebenarnya tidak beres. Sesuatu yang sebenarnya bukan menjadi hak kita. Tidak peduli dengan keadaan lingkungan sekitar yang memiliki harta berlimpah namun diperoleh dari hasil yang kurang sehat. Dan yang paling penting adalah bagaimana dia setiap saat takut dengan Tuhannya terhadap apa yang dilakukannya di muka bumi ini.

Para pahlawan yang berjuang pada zaman revolusi dahulu jelas punya cita-cita mulia agar negara ini dapat berdiri dengan kukuh dan sejajar dengan bangsa-bangsa lain. Para pahlawan rela berkorban agar anak cucunya tidak dicemoohkan oleh bangsa lain. Itulah yang seharusnya direnungkan semua kita bahwa kita memang harus bisa bangkit bukan sebagai negara juara satu koruptor namun menjadi negara yang nomor satu dalam kebersihannya dan kejujurannya dengan tanpa lelah. *

*) Penulis adalah Kepala Riset Kajian sosial pada The Banyuanyar Institute.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *