Menjaga Tranformasi Keilmuan

Judul Buku : Aku Menulis Maka Aku Ada
Penulis : KH. Zainal Arifin Thoha
Penerbit : Kutub, Yogyakarta
Edisi : Maret 2009
Tebal : xviii + 182 Halaman
Peresensi : MG. Sungatno *
cawanaksara.blogspot.com

Hingga kini, rakyat Indonesia masih mendapat klaim dari berbagai penyelenggara penelitian sebagai bangsa yang minat bacanya rendah. Tak pelak, dari berbagai pihak yang -konon terlanjur- cinta baca, selalu menghimbau dan mengajak bangsa ini untuk berlatih dan membudayakan aktivitas membaca.

Sayangnya, himbauan itu menjadi sia-sia ketika bangsa yang masih malas-malasan untuk membaca ini berkilah. Kilah itu pun tampak logis ketika mereka berdalih bahwa anggaran untuk beli buku lebih baik dialihkan untuk kepentingan yang lebih mendesak kegunaannya. Terlebih ketika harga buku menjadi mahal akibat harga kertas yang melambung. Sementara, perpustakaan yang ada di tengah masyarakat tidak mampu menarik minat baca mereka. Mulai dari koleksi buku yang minim, tidak sesuai dengan perkembangan keilmuan dan informasi, ruangan sempit, panas, banyak aturan dan sejumlah kendala lain yang menghilangkan selera baca.

Namun, menurut KH. Zainal Arifin Thoha ?penulis buku ini, tidak seharusnya bangsa ini apatis dengan fasilitas dan sarana bacaan yang realitanya memang masih demikian. Bangsa ini perlu selalu dan selalu membaca. Selain itu, pihak pemerintah hendaknya segera memperhatikan kebutuhan bangsa ini terkait dengan bahan bacaan dan fasilitas lainnya. Bukankah dalam sejarah kemajuan suatu bangsa di dunia ini tidak luput dari kegiatan dan ketekuan membaca?

Selain itu kyai yang menekuni dunia jurnalistik ini mengajak pembaca untuk merenungi aktivitas membaca itu sendiri. Jika kita selalu membaca dan membaca tanpa merenungkan hari esok, aktivitas itu akan menjadi sia-sia pula. Informasi dan keilmuan dalam suatu bacaan akan berhenti pada si pembaca saja. Maksimal isi dari suatu bacaan akan dikonsumsi sendiri dan orang lain yang kebetulan diberi tahu tentang isi tersebut. Akibatnya, konsekuensi logis pun akan menimpa generasi berikutnya. Mereka akan kehilangan kesempatan untuk mengetahui dan menikmati bacaan itu ketika si pembaca dan atau pendengar isi bacaan telah meninggal dunia. Terlebih ketika literatur itu telah musnah atau hilang di telan usia.

Sehingga, selain membaca, bangsa ini hendaknya turut menjaga transformasi ilmu pengetahuan dan informasi yang diperoleh mereka. Tentunya, dengan mendokumentasikan keilmuan dan informasi itu dalam suatu media; baik dalam buku, media massa maupun lainnya. Sayangnya, hal itu masih belum tampak menggairahkan pula. Seiring dengan rendahnya minat baca, bangsa ini masih malas dan kurang peduli terhadap generasi yang akan datang. Maka, bangsa ini perlu segera membudayakan membaca, lantas mengolah informasi dan keilmuan yang didapatkannya guna didokumentasikan untuk dikonsumsi orang lain dan generasi berikutnya.

Budaya Menulis

Meski budaya membaca di negara ini masih dikatakan rendah, tidak semestinya bagi mereka yang telah suka membaca menjadi egois. Egosisme itu perlu diganti dengan kepedulian untuk menyalurkan pengetahuannya kepada orang lain. Adapun salah satu cara untuk mewujudkan kepedulian itu adalah membudayakan menulis. Dengan menulis dan menyebarluaskan pengetahuannya itu orang lain akan mendapat manfaat dan transformasi pengetahuan tidak akan berhenti pada salah satu orang saja. Walhasil, dengan informasi dan ilmu pengetahuan itu, bangsa ini akan lebih maju daripada bangsa terdahulu atau bangsa yang tidak membudayakan membaca dan menulis.

Untuk melengkapi gagasan itu, kyai yang akrab dipanggil Gus Zainal ini menuliskan panduan dan berbagai contoh tulisan-tulisan pribadinya dan orang lain. Mulai dari jenis tulisan opini, resensi, esei, puisi, cerita pendek (cerpen), dan kolom. Dari semua jenis tulisan itu dibahas secara mendetail, santai, dan menggunakan bahasa yang sekiranya cocok untuk membahas jenis-jenis tulisan tersebut. Semisal, ketika membahas opini (gagasan), gaya bahasa yang digunakannya belum tentu sama dengan gaya bahasa ketika membahas esai, puisi, cerpen maupun karya sastra lainnya.

Meski bahasa yang digunakannya menyesuaikan setiap pembahasan yang ada, secara keseluruan gaya bahasa yang digunakannya tidak terlalu berat. Uniknya, susunan gaya bahasa yang digunakan beraroma sastra, lentur, tidak kering, dan tidak monoton pada pilihan kata-kata tertentu. Sehingga, selain mengajak pembaca untuk tetap menjaga gairah membaca dan menulis, buku ini mengenalkan kekayaan khazanah kata-kata bahasa Indonesia yang kemunculannya masih belum banyak diketahui. Selain itu, di akhir buku ini juga disertakan sejumlah email media massa cetak maupun elektronik. Sayangnya, penulis hanya menyertakan email media massa tanpa menginformasikan email penerbit buku yang juga berkaitan dengan budaya membaca dan menulis. Begitu juga, yang ada hanya email saja tanpa alamat media massa dan nomor telephon yang bisa dihubungi.

Terlepas dari itu semua, gagasan untuk menjaga transformasi keilmuan perlu direaliasikan bangsa ini. Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupan informasi dan ilmu pengetahuan serta peduli dengan generasi berikutnya. Selamat berkarya.***

*) Ketua Lembah Kajian Peradaban Bangsa (LKPB) Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *