Novel Sastra dan Pengisian Keintiman di Ruang Sunyi

Ragil Romly*
http://www.pikiran-rakyat.com/

BAIK Violet, Klaus, maupun Sunny mungkin tak pernah berpikir bahwa kebakaran rumah yang menewaskan orang tua mereka menjadi “mula malapetaka”. Tiga bersaudara ini kemudian menyandang gelar yatim piatu. Mereka berurusan dengan Pak Poe yang menangani harta warisan yang mereka terima. Juga dengan Count Olaf, seorang penjahat dengan alis separuh, yang memburu warisan mereka setelah peristiwa kebakaran rumah menewaskan orang tua mereka.

Mula Malapetaka benar-benar menjadi awal dari petualangan Baudelaire bersaudara yang terangkum dalam Novel A Series of Unfortunate Events. Novel seri karya Lemony Snicket ini bercerita tentang peristwa-peristiwa tidak menyenangkan yang dihadapi Baudelaire Bersaudara sepeninggal orang tua mereka.

Sembilan seri yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia adalah Mula Malapetaka (The Bad Beginning), Ruang Reptil (The Reptile Room), Jendela Janggal (The Wide Window), Gelondong Gila (The Miserable Mill), Akademi Angker (The Austere Academy), Elevator Eksentrik (The Ersatz Elevator), Desa Durjana (The Vile Village), Klinik Kemelut (The Hostile Hospital), dan Karnaval Karnivora (Carnivorous Carnival). Kesembilan novel tersebut membawa kita menyelami kesendirian yang ditakuti tiga anak yatim keluarga Baudelaire. Kesendirian yang juga kita alami saat kita berada di tengah-tengah keramaian.

Kisah-kisah anak yatim seperti yang tersaji dalam A Series of Unfortunate Events mungkin bisa menjadi obat bagi kita untuk memaknai keintiman. Meski kita seringkali berada di tengah keramaian, kita tetap memiliki ruang pribadi yang hanya dapat dihuni seorang diri. Ruang itu ada di dalam hati dan kepala kita.

Tidak hanya dalam A Series of Unfortunate Events, kisah anak yatim lainnya yang tertuang dalam Oliver Twist juga membawa pesan keintiman yang bersumber pada kesendirian. Karya Charles Dickens ini juga menampilkan kisah intim antara seorang yatim dan kelompok pencuri yang dipimpin Fagin.

Kesendirian, kerentanan, ketegangan, dan berbagai bahaya yang dihadapi oleh bocah yatim bernama Oliver ini menyiratkan bahwa keintiman adalah sebuah tujuan dari berbagai marabahaya yang ditempuh. Kesendirian, ketegangan, dan kerentanan seperti menjadi syarat-syarat untuk mendapatkan kehangatan.

Dari novel-novel yang bercerita tentang anak-anak yatim, maka kita bisa mencapai satu titik temu bahwa berbagai tokoh pada novel dan berbagai cerita yang tercipta ada untuk mengusir kesendirian. Bisa jadi, baik anak-anak Baudelaire maupun Oliver Twist merupakan refleksi jiwa manusia yang soliter (penyendiri).

Kesendirian menjadi alasan lahirnya sebuah cerita dan keintiman menjadi tujuan dari sebuah cerita. Awalnya Adam sendiri membutuhkan teman bercerita untuk mengusir kesendiriannya. Tuhan menciptakan hawa untuk mengusir kesendirian, dan Adam menjadikan Hawa sebagai teman intim yang akhirnya membuat ramai dunia dengan cerita, dengan kisah-kisah, dan legenda yang kemudian dituturkan dan diwariskan oleh “juru cerita” dengan berbagai bahasa. Tujuannya untuk mendapatkan keintiman saat merasa sendiri dan terasing di dunia ini.

Akhirnya, kesendirian seakan menjadi alasan bahwa sebuah novel dapat menjadi sobat bagi seseorang. Novel ada untuk mengusir kesendirian. Beberapa orang membaca novel sambil duduk di ruang tunggu atau sambil menikmati secangkir kopi saat duduk seorang diri.

Kita membaca novel sendiri, menyelaminya sendiri, dan larut dalam satu fantasi yang dapat kita pahami sendiri. Kita mengapresiasi novel secara berbeda sehingga mendapat interpretasi dan pengalaman yang berbeda satu sama lainnya. Semua bergantung pengalaman kita dalam membaca dan pengalaman hidup yang kita kunyah. Sebuah cerita dalam suatu karya sastra seperti novel akhirnya hanya mengambil sedikit peran untuk mengisi jiwa kita yang kosong dan yatim. Jiwa yang perlu diisi oleh cinta dan keintiman yang kini tergilas oleh aktivitas rutin yang monoton.

Isabella Ziegler mengatakan bahwa menulis adalah profesi sunyi. Bagi para penulis, cerita yang mereka buat mungkin menjadi teman intim yang mengisi kesunyian. Seperti anak yatim yang merasa sunyi dan merindukan kekasih atau orang tua yang memberikan keintiman.

*) Mahasiswa jurusan Jurnalistik Fikom Unpad.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *