Sastrawan Jawa Timur, Soal Cybersastra, dan Cybersastra Jawa

Viddy AD Daery
sinarharapan.co.id

Sebenarnya, sejak dulu sampai kini, sastrawan Jatim yang mempunyai nama di tingkat nasional cukup banyak, misalnya: D. Zawawi Imron, Budi Darma, Akhudiat, Suparto Broto, juga sastrawan mudanya yang berkibar di banyak media massa Jakarta hari-hari ini, seperti S. Yoga, M. Shoim Anwar, Viddy AD Daery, Sirikit Syah, Denny Tri Aryanti, Indra Tjahyadi, Mashuri dan banyak lagi. Belum lagi beberapa sastrawan dengan status aneh dan unik, misalnya Sihar Ramses Simatupang, yang berdarah Batak kelahiran Jakarta tetapi lama hidup dan berkarya di Jatim. Continue reading “Sastrawan Jawa Timur, Soal Cybersastra, dan Cybersastra Jawa”

Reuni Dua Sejoli

Damhuri Muhammad*
http://www.jawapos.com/

BAGAIMANA cara bersembunyi dari sahabat-sahabat masa lalu? Kedatangan mereka rasanya lebih pahit ketimbang perpisahan yang hanya menyisakan kepedihan sesaat, namun lekas terlupakan begitu datang sejawat-sejawat baru. Andai kau tahu betapa kenyinyiran yang mereka bawa sebagai oleh-oleh telah membuat aku merasa semakin tidak sempurna sebagai laki-laki. Nyaris pada setiap kedatangan yang tak terduga itu, mereka seakan tiada bakal puas sebelum tuntas bertanya-tanya; Kenapa kau belum juga punya keturunan, kawan? Continue reading “Reuni Dua Sejoli”

Demokrasi dan Partai Kartel

Yudistira Adnyana*
http://www.jawapos.com/

SETELAH tiga kali pemilu (1999, 2004 dan 2009) banyak dugaan Indonesia akan segera mengakhiri masa transisi menuju konsolidasi demokrasi. Boleh jadi –dalam derajat tertentu– Indonesia telah memenuhi beberapa syarat konsolidasi demokrasi seperti kriteria Juan Linz dan Alfred Stepan (1996). Salah satunya, tersedianya masyarakat politik di mana partai politik dan organisasi pendukung jadi fokus utamanya. Masalahnya, sistem kepartaian yang bagaimana agar demokrasi jadi lebih bermakna? Continue reading “Demokrasi dan Partai Kartel”

Empat Presiden Hadapi Teroris

Husnun N. Djuraid*
http://www.jawapos.com/

BEBERAPA jam sebelum bom meledak di Hotel JW Marriott, 5 Agustus 2003, pengunjung dan penghuni hotel berkebangsaan AS dievakuasi dari hotel tersebut. Setidaknya, mereka telah diberi peringatan dini akan terjadinya suatu peristiwa dahsyat yang bisa merenggut nyawa. Tak heran, dalam ledakan tersebut tidak ada warga AS yang menjadi korban. Hanya seorang warga negara Belanda yang nahas karena sedang berada di hotel tersebut. Selebihnya, korban ledakan itu, baik yang meninggal mapun luka-luka, adalah warga Indonesia. Padahal, hotel tersebut dikenal sebagai tempat berkumpulnya para ekspatriat dari berbagai negara. Continue reading “Empat Presiden Hadapi Teroris”

Bahasa ยป