Putu Wijaya di Mata Para Seniman

Stevani Elisabeth
http://www.sinarharapan.co.id/

Putu Wijaya meraih penghargaaan Akademi Jakarta di tahun 2009 ini. Penghargaan itu akan diberikan kepada Putu Wijaya di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.

I Gusti Ngurah Putu Wijaya atau yang biasa dikenal dengan Putu Wijaya (65) telah meng?abdikan hidupnya dalam dunia seni dan budaya. Pria yang lahir pada 11 April 1944 ini telah menghasilkan sedikitnya 30 novel, 40 naskah drama, dan ribuan cerpen. Bahkan beberapa naskah drama dia sutradarai sendiri untuk dipanggungkan di dalam dan di luar negeri.

Di mata para seniman, Putu merupakan sosok yang pantas untuk menerima penghargaan dari Akademi Jakarta tahun 2009. Menurut Ketua Dewan Juri Rizaldi Siagian, Putu telah menunjukkan totalitasnya sebagai seniman, pelopor, dan pekerja keras, dengan disertai produktivitas cetusan pemikiran pembaharuan dalam sastra, drama, dan sinema.

?Di bidang sastra, dia pelopor cerpen absurd dan surealis yang menjungkirbalikkan reali?tas. Kritikus dan akademisi sastra menyebut cerpen-cerpen absurd Putu sebagai cerpen teror mental karena menghadirkan adegan-adegan yang tidak masuk akal dan tak terduga yang menteror pembaca,? ujarnya kepada SH di Jakarta, Kamis (17/12).

Novel-novelnya seperti Telegram (1972) dinilai menampilkan corak baru dalam gaya novel Indonesia yang objektif dalam pusat pengisahannya dan gaya stream of consciousness dalam pengungkapannya.

?Gaya demikian juga nampak pada drama-drama yang dibuatnya yang menampilkan ornamen-ornamen seni tradisi untuk mengemas persoalan-persoalan manusia terkini dengan gaya bercerita yang baru,? lanjut Rizaldi.

Dia menambahkan, akademi Jakarta memberikan penghargaan kepada Putu agar apresiasi terhadap kesungguhannya dalam kesenian makin lengkap, kerja keras, dedikasi, dan etos kreatifnya dapat diteladani oleh generasi muda.

Perintis Teater Nonverbal

Musisi Dwiki Darmawan menilai, generasi muda saat ini memerlukan kehadiran sosok Putu. ?Saya
membayangkan jika ada program yang lebih dari apa yang telah dijalankan dengan pendidikan seni Nusantara yang lalu ke sekolah-sekolah dari napas, energi, dan sentuhan Putu Wijaya, Indonesia ke depan akan lebih baik,? ujarnya.

Sementara itu, seniman Adi Kurdi menilai, Putu Wijaya meski dilahirkan di Bali yang kuat dengan kesenian dia tidak terikat dengan tradisi. Menurut Adi, tradisi tetap menjadi inspirasinya.

Dosen Seni Tari Akademi Jakarta Julianti Parani menilai Putu sebagai perintis dalam menampilkan
teater nonverbal dengan simbol-simbol tradisi menjadi teater modern. ?Dia menabrak dikotomi dalam pendidikan seni. Pentas dia adalah pentas yang total. Dia verbalis yang kuat karena banyak buku yang ditulis. Teater Putu cukup menegangkan,? ujar Julianti.

Para seniman kawakan ini menilai sudah selayaknya Putu Wijaya memperoleh penghargaan dari Akademi Jakarta tahun 2009. Direncanakan, Akademi Jakarta akan memberikan penghargaan kepada Putu Wijaya pada Senin (21/12) mendatang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *