Tema Maut dalam Puisi

Indra Tjahyadi
http://www.sinarharapan.co.id/

Dalam lapangan perpuisian Indonesia, bahkan sampai dengan hari ini, maut adalah salah satu tema yang paling sering diangkat oleh para penyair dalam puisi-puisinya. Seperti yang diperlihatkan oleh Kriapur dalam puisi-puisinya yang terkumpul dalam kumpulan puisi ?Tiang Hitam Belukar Malam? (FSB, 1996). Dalam kumpulan puisinya tersebut, Kriapur seakan-akan ingin menempatkan tema maut sebagai motor utama bagi puisi-puisinya. Tengok saja puisinya yang berjudul ?Kupahat Mayatku di Air?:

kupahat mayatku di air
namaku mengalir
pada batu dasar kali kuberi wajahku
pucat dan beku
(1996: 9)

Atau juga pada puisinya yang berjudul ?Kisah Matahari untuk Korrie?:
?
aku akan melarikan diri
pada saat yang telah dinantikan
kubur-kubur berbaris
tapi langit terlalu dangkal
?
(1996: 15)

Banyak munculnya kata-kata semacam mayat, kubur, kuburan, arwah, kematian, sukma, tulang-belulang dalam rasio yang kerap sekali pada puisi-puisinya yang terkumpul dalam buku Tiang Hitam Belukar Malam tersebut, bisalah dikatakan bahwa ada semacam konsistensi yang ingin diangkat oleh Kriapur dalam puisi-puisi ciptaannya. Puisi-puisi yang berpusaran pada tema seputar maut.

Bukan hanya Kriapur di dalam lapangan perpuisian Indonesia yang berusaha untuk berkonsistensi dengan tema maut. Dalam lapangan perpuisian Indonesia terkini nama W. Haryanto adalah salah satu nama yang juga kerap kali berkonsistensi mengangkat tema maut dalam puisi ciptaannya. Seperti juga yang diperlihatkannya dalam puisinya yang berjudul ?Aku Lihat Bagaimana Tubuhmu Membeku?:

aku lihat bagaimana tubuhmu membeku
jalan-jalan kereta semakin deras
menemanimu dengan kecemasan
barangkali, aku memang sengaja
membunuhmu, karna senyummu telah
membiarkanku membakar malam
(2003: 7)

Atau juga pada puisinya yang berjudul ?Wuku Watugunung?:
?
biarkan rindu menyebut nama
karna mata penglihatanku
meminta nyawa di payudaramu
?
(2004: 16)

Meskipun sama-sama mengangkat tema seputar ?maut?, ada satu perbedaan mencolok yang muncul dari puisi-puisi karya W. Haryanto dengan pendahulunya, Kriapur, yaitu: sinisme. Apabila dalam puisi-puisi karya Kriapur dapatlah ditemui nada yang pesimistis, dalam puisi-puisi karya W. Haryanto yang muncul bukanlah rasa pesimisme melainkan sinisme.

Oleh W. Haryanto, perbincangan seputar tema ?maut?, dalam setiap puisi ciptaannya, dibalut dengan nada sinis. Tidak seperti hanya Kriapur, W. Haryanto melihat maut bukanlah solusi yang teramat cocok atas kebuntuan hidup. Keruwetan peradaban dan kompleksitas nilai-nilai sosial yang acapkali hanya membawa kekacauan pada kehidupan manusia, baik secara kolektif ataupun individu, tak ada obat penyembuhnya, bahkan oleh ?maut? dan kematian sekali pun. Seperti yang diperlihatkannya pada puisinya yang berjudul ?Ekstase Malam?:
?.
Tak ada dirimu, dari keberangkatan yang sia-sia ini,
kematian hanyalah sebab dari tidur setiap malam.
Dan kamu tak pernah kembali dari ziarah itu,
seolah dirimu telah bersatu menjadi pagi;
di dalam kamarku.
(2003: 13).

Virus tema maut di dalam lapangan perpuisian Indonesia tidak hanya diidap oleh para penyair prianya saja, akan tetapi juga para penyair perempuannya. Hal ini seperti yang diperlihatkan oleh Luska Vitri A.?perempuan penyair Indonesia terkini kelahiran Probolinggo, 1975?pada setiap puisi ciptaannya. Tengok saja salah satu puisinya yang berjudul ?Instalasi Senja?:
?
Tanganku yang dingin
Menggambar kapal
kapal karam
Menyelami waktu
Dan kematian
?
(2004: 37)

Tema maut dalam puisi-puisi Luska Vitri A. juga dapat dilihat pada salah satu puisinya yang berjudul ?Rapsodi Kenangan?:
?
Aku mati
Dalam sepi
Angin makin hampa
memutih
?
(2004: 39)

Bukan hanya Luska Vitri A. saja perempuan penyair Indonesia yang memperlihatkan tema-tema maut dalam puisinya. Meskipun tak secara konsisten dan seekstrem puisi-puisi Luska Vitri A., nama Dina Oktaviani adalah salah satu lagi nama penyair perempuan Indonesia terkini?selain Gita Romadhona, Rukmi Wisnuwardhani, Deny Tri Aryanti (untuk sekedar menyebut sejumlah nama)?yang juga mencoba untuk mengangkat tema maut dalam setiap puisi ciptaannya. Lihat saja larik-larik pada salah satu puisinya yang berjudul ?Sebuah Natal, Hujan, Penghancuran?:
?
sebuah natal, biarkan ia membunuhmu
dengan sebuah isyarat, sebuah ciuman
yang tak mungkin kau bungkus dengan kado
atau menggantungnya di antara lampu-lampu
?
(2003: 54)

Sampai di sini muncul sebuah pertanyaan: ?mengapa banyak penyair Indonesia yang begitu tertarik, bahkan terobsesi dengan hal-ihwal maut??

Maut, bagi manusia, adalah sesuatu yang gelap dan begitu misterius. Dan dengan mengangkat tema maut, seorang penyair berusaha untuk menyingkap segala hal-ihwal atas hidup, kehidupan, dunia, Tuhan, bahkan nilai-nilai kemanusiaan yang dimilikinya. Dan melalui penyingkapan dan pengungkapan maut, seorang penyair, dalam setiap puisi yang digubahnya, berusaha untuk melakukan pendefinisian atas waktu kini, lampau dan masa depan.

Sejalan dengan pikiran tersebut, Subagio Sastrowardoyo dalam pengantarnya untuk kumpulan puisinya yang berjudul ?Dan Kematian Makin Akrab? pernah berkata, bahwa maut adalah tabir terakhir yang menghalangi kemungkinan kembali melibatkan diri dengan dunia yang kita cintai (1995: x). Sehingga dapatlah dipahami bahwa dengan usaha untuk menyingkapkan tabir terakhir tersebut manusia berusaha untuk kembali melibatkan diri dengan dunia yang dicintainya.

Ini merupakan salah satu alasan yang membuat banyak penyair terus-menerus memilih maut sebagai tema utama atau bahkan gagasan puisinya. Dan ketertarikan akan tema maut seperti ini, sesungguhnya, tidak hanya terjadi dalam lapangan perpuisian Indonesia saja, akan tetapi juga dunia. Charles Baudelaire, Joseph Brodsky, Dylan Thomas, Stephane Mallarme, Lorca, Seamus Heany adalah nama-nama besar penyair yang dunia yang dalam karya-karyanya juga memperlihat ketertarikannya untuk terus-menerus melakukan eksplorasi terhadap tema-tema maut.

*) Penulis adalah penyair, esais, staf pengajar di Fakultas Sastra & Filsafat Universitas Panca Marga, Probolinggo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*