Mencari Hukum Rokok dan Kopi

Judul Buku : Kitab Kopi dan Rokok; Untuk Para Pecandu Rokok dan Penikmat Kopi Berat
Penulis : Syaikh Ihsan Jampes
Penerbit : LkiS, Yogyakarta
Cetakan : I, 2009
Tebal : xxv + 110 halaman
Peresensi : MG. Sungatno *
Surabaya Post

Kontroversi seputar hukum rokok dan kopi, merupakan persoalan yang telah usang. Perdebatan antar ?alim ulama? itu telah terjadi sejak umat Islam turut serta sebagai konsumen kedua benda tersebut. Salah satu kendala (ilat) untuk menghukuminya adalah tidak adanya teks baik dalam al Qur?an maupun al Hadits yang berbicara secara jelas. Baik rokok (ad Dukhan) maupun kopi (al Qahwah) tidak ada dalam kitab panduan umat Islam itu. Yang ada hanyalah benda-benda atau makanan-minuman yang haram untuk dikonsumsi. Itu pun akibat efek samping yang muncul ketika dan atau setelah dikonsumsi. Sehingga, tidak sedikit diantara ulama? yang mengharamkan tindakan menghisap rokok dan atau kopi berangkat dari asumsi efek samping keduanya. Padahal, efek yang muncul itu sendiri masih kontrofersial pula; mulai dari segi kesehatan, agama (Islam), sosial, budaya, ekonomi bahkan politik.

Syaikh Ihsan Jampes merupakan salah satu ulama yang mengakui bahwa baik rokok maupun kopi masih tergolong sulit untuk dihukumi. Ini tampak dalam kitab yang judul aslinya Irsyad al Ikhwan fi Bayan al Hukm al Qahwah wa ad Dukhan ini. Dalam buku ini pula, putera bangsa yang lahir pada tahun 1901 ini tampak belum berani membubuhi hukum haram atau tidaknya kedua benda itu secara tegas. Meski demikian, Syaikh Jampes tetap menyajikan pandangan ulama tersohor pada zaman dulu terkait statement-statemennya dalam memutuskan hukum keduanya.

Buku ini terbagi dalam dua pembahasan. Pada pembahasan pertama, penulis menyajikan berbagai pandangan para ulama tentang hukum mengkonsumsi kopi. Sedangkan pandangan tentang rokok, dibicarakan dalam pembahasan berikutnya. Namun, secara kuantitas, pembahasan dalam buku ini lebih menitik beratkan pada pembahasan rokok.

Menurut Syaikh Jampes, ulama yang telah mengharamkan kopi, biasanya berpedoman bahwa kopi mengandung suatu madharat (bahaya) tertentu (hlm.20). Ulama yang berpedoman seperti ini diantaranya; Syaikh ?Abtawi dari Syiria, Syaikh Ibn Sulthan dan Syaikh Ahmad ibn Ahmad ibn ?Abdul Haq as Sanbathi dari Mesir. Meski begitu, menurut Syaikh Jampes, mayoritas ulama berpendapat sebaliknya. Hukum mengkonsumsi kopi tidak haram, bahkan dalam situasi dan kondisi tertentu bisa wajib hukumnya.

Dalam kitab al ?Ubab, misalnya, Syaikh al Qadhi Ahmad ibn ?Umar menulis bahwa “Kopi tidaklah menghilangkan akal, ingatlah itu!”. Statemen ini mengomentari pendapat ulama yang mengharamkan kopi. Mereka, waktu itu, beranggapan bahwa kopi dapat mengganggu akal (mail al aqli) manusia. Tidak jauh berbeda dengan Ibn Hajar al Haitami dalam Syarkh al ?Ubab, Ar Ramli dalam Fatawa dan Muhammad Tharabisyi al Halabi dalam Tabsyirah al Ikhwan. Ketiga tokoh Islam ini juga mengkonter pendapat ulama yang mengharamkan kopi. Dalam salah satu kisah yang dikutip Ibn Hajar al Haitami, Syaikh al Islam ketika hendak meminum kopi berkata bahwa pendapat yang mengharamkan kopi adalah pendapat yang ceroboh dan serampangan (hlm.25).

Dalam pembahasan tentang rokok pun tidak jauh berbeda dengan kopi. Ulama berhasil menyatukan pendapat terkait hukum mengkonsumsi rokok/tembakau. Semisal, dalam kitab khasyiyah-nya Syaikh as Syihab al Qalyubi atas kitab Syarkh-nya al Jalal al Mahali terhadap al Minhaj-nya Imam Nawawi. Dalam Bab Najis, Syaikh as Shihab al Qalyubi menulis, candu (termasuk rokok) dapat membahayakan manusia jika dikonsumsi. Namun, benda tersebut tidak bisa dihukumi najis, alias masih suci (hlm.36).

Argumentasi Syaikh as Shihab al Qalyubi itu tidak jauh berbeda dengan sejumlah alasan ulama lainnya yang mengharamkan rokok. Argumentasi yang berangkat dari aspek kesehatan perokok itulah yang menjadikan dasar mereka dalam menetapkan keharaman merokok. Semisal Syaikh Ibrahim al Laqqani al Maliki, Syaikh al Faqih al Tharabisisyi, Syaikh Ibn Hajar, dan Syaikh al Muhaqqiq al Bujairimi. Mereka merupakan sejumlah ulama yang memutuskan hukum haram dari aspek kesehatan perokok. Dalam kitab al Iqna? fi Syarkh Matn Abi Syuja?, menurut al Bujairimi, rokok (tembakau) berpotensi menimbulkan efek negatif bagi perokok.

Lebih jauh, Syaikh Hasan as Syaranbila mengharamkan tindakan merokok sekaligus melakukan transaksi jual beli yang berkaiatan dengan rokok. Dalam komentarnya atas kitab Nazam-nazam (syair) al Wahbaniyah, ia berpegang pada qaidah (kaidah) setiap larangan yang mengarah pada hukum haram, ketika menjual mapun membelinya pun juga haram (hlm.40). Sedangkan Sayyid al Husain ibn Abi Bakr, seorang ulama? sufi terohor pada masanya, selain mengharamkan rokok juga mengkhawatirnya nasib buruk yang akan menimpa perokok; meninggal dalam keadaan su?ul khatimah. Ini berbeda dengan Syaikh Ibn Alan dan Syaikh Ibn Ahmad Basudan yang cukup berkomentar bahwa ada keburukan dalam tindakan mengkonsumsi itu.

Meski merokok telah dikecam sebagian ulama, hukum merokok belum final pada haram. Al Imam Abd al Ghani, merupakan salah seorang pengikut madzab Hanafi yang dengan lantang menolak diharamkannya tindakan merokok. Argumentasi Abd al Ghani itu dituangkan dalam kitab ash Shulh bain al Ikhwan fi Khukm Ibahah Syarb ad Dhukhan. Menurutnya, merokok merupakan tindakan yang dibolehkan (Ibahah) Islam. Keputusan ini, sejalan dengan pandapat Syaikh as Syubramalis dan Syaikh asy Sulthan al Halab.

Dalam Khasyiyah ala Nihayah, Syaikh ar Rusyd berpendapat bahwa tidak ada dalil yang dapat dijadikan dasar untuk mengharamkan rokok. Sehingga, menurutnya, menghisap rokok lebih tepat dihukumi mubah (boleh). Berbeda lagi dengan Syaikh Ali al Ajhury yang memberi hukum halal dan haram. Bagi yang terkena hukum haram, menurutnya, adalah orang-orang yang mungkin akan mendapat madharat ketika dan atau setelah merokok. Hukum relatif ini juga dipegang oleh Syaikh al Barnawi. Menurutnya keharaman rokok bukan karena rokok itu sendiri haram (haram li dzatih), melainkan disebabkan adanya unsur dan faktor luar yang mempengaruhi dan merubah hukum halal itu (hlm.55). Sehingga, ketika ada perokok yang tidak merasa mendapat madharat ketika dan sedang merokok, maka baginya tidak terkena hukum haram.

Kuatnya referensi klasik yang digunakan Syaikh Jampes dalam buku ini, merupakan nilai lebih. Dari buku ini, pembaca akan mendapatkan pengetahuan tentang hujjah-hujjah ulama terdahulu dalam memperbincangkan hukum rokok dan kopi. Sehingga, Syaikh Jampes tampak tidak memaksakan pembaca untuk bertumpu pada salah satu hukum yang dilontarkan salah satu ulama. Pembaca bebas memilih dan menyesuaikan pendapatnya bersamaan pendapat ulama terdahulu. Sayangnya, dari sejumlah argumentasi yang dikutip penulis yang wafat pada 25 Dzulhijjah 1371 H (September 1952) ini tampak hanya berangkat dari aspek kesehatan dan ibadah perokok. Berbagai aspek semisal sosial, budaya, ekonomi ataupun politik yang berhubungan dengan kopi maupun rokok belum terbahas secara jelas.

Meski demikian buku ini mampu memberikan wawasan pengetahuan tentang hukum rokok maupun kopi yang kini mejadi bahan perdebatan di Negeri ini. Terlebih pasca Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengharamkan rokok yang tampak setengah-setengah. Haramnya rokok tidak berlaku bagi rakyat secara umum. Alhasil, tidak sedikit orang atau golongan yang menuding bahwa keputusan MUI itu telah tercemari unsur politis. Benarkah?.***

*) Ketua Lembah Kajian Peradaban Bangsa (LKPB) Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *