Sastra Sunda di Mata Seorang Batak

Wilson Nadeak *
cetak.kompas.com

Ketika Shahnon Ahmad (sastrawan Malaysia) memberi ceramah di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, sekitar tahun 1970-an dalam pertemuan sastrawan Indonesia, Rustandi Kartakusumah yang duduk di sebelah kanan saya tiba-tiba berdiri dan berkata dengan lantang, “Jika Anda ingin mengetahui sastra dunia, pelajarilah sastra Sunda!” Shahnon yang agak terkejut lantas bertanya, “Anda siapa?” “Saya Rustandi Kartakusumah.” “Oh, sama dengan nama anak saya!”. Continue reading “Sastra Sunda di Mata Seorang Batak”

Monumentalisme Edhi Sunarso

Djuli Djatiprambudi*
http://www.jawapos.com/

SAYA yakin, andai Bung Karno masih hidup, sang proklamator itu pasti akan marah besar. Bayangkan, patung Dirgantara di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, kini ditelan jalan tol yang melintang dan mendominasi ruang kota. Patung yang berbentuk lelaki kekar seakan siap terbang itu tidak lagi tampak nyaman saat dilihat dari segala penjuru. Patung itu seolah-olah sudah kehilangan maknanya. Terjepit oleh modernitas kota yang terus-menerus mengepungnya. Continue reading “Monumentalisme Edhi Sunarso”

Biennale, Anti-Barat, Kesadaran Semu

Wahyudin *
jawapos.com

BIENNALE seni rupa terkadang butuh kenaifan. Pada saat-saat tertentu -seperti yang berlangsung dalam Jogja Biennale X-2009, 11 Desember 2009-10 Januari 2010- ia bahkan sebuah kenaifan itu sendiri.

Kenaifan itu sudah tentu berkenaan bukan dengan kebijaksanaan menumbuhkembangkan biennale sebagai tradisi kreatif yang berwibawa di jagat seni rupa dalam dan luar negeri, melainkan kebanalan pikiran yang bertendensi menafikan sejarah panjang perhelatan seni rupa dua tahunan ini Continue reading “Biennale, Anti-Barat, Kesadaran Semu”

Bahasa ยป