Francois Villon (1430-1480)

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=384

Nukilan dari GRAND TESTAMENT XVIII
Francois Villon

“Apa kauperbuat” datang tanya tiba-tiba,
“Sampai tersangka jadi pencuri di lautan?”
Yang ditanya buru-buru menjawab tanya:
“Kenapa aku pencuri kaunamakan?
Karena aku membajak di lautan?
Dengan hanya sebuah kapal kecil dan lemah?
Aku kini pasti telah raja di lautan,
Andai aku bagai kau punya balatentara.” Continue reading “Francois Villon (1430-1480)”

SISI GELAP PUAK MELAYU

Maman S. Mahayana *

Seorang pemulung, karena tak punya uang, kebingungan mengubur jenazah anaknya. Ia menggedong jenazah itu, sementara orang lalu-lalang seperti tak terjadi apa-apa. Seorang nenek ditemukan tewas lantaran kelaparan. Dua peristiwa ini terjadi di Jakarta. Di tempat-tempat lain, ada juga berita tentang gantung diri siswa SD gara-gara ia belum bayaran uang sekolah. Ada juga berita tentang sebuah keluarga yang mengalami lumpuh layu. Mereka menerima nasib begitu saja, karena tak ada biaya untuk berobat. Masih tak jauh dari Jakarta, beberapa anak mengalami busung lapar. Continue reading “SISI GELAP PUAK MELAYU”

DEWA MABUK :Naskah Monolog karya Akhudiat

Peran: Seorang Dionisian

Dionisian:
Dewa Mabuk, Tuan, Dionisos.
Teruskan, mabukkan, pestakan, sukaria, topeng, rumbai-rumbai, musik, tari, nyanyi. Rayakan dewa anggur, kesuburan, dan ramalan. Pesta musim panas, bumi baru, kesuburan setelah membeku. Kemabukan tiada tara. Mari terbang, melayang, jungkir dan balikkan. Tanpa kemabukan bukan lagi teater namanya, dan tak ada lagi hasrat serta manfaat gunanya. Bukanlah cinta tanpa mabuk kepayang-payang, barangkali cuma letup sesaat dan tak sengaja kayak kentut. “Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian,” ujar Chairil Anwar dalam Krawang-Bekasi. Tanpa kemabukan bagaimana bisa bertahan antara realitas dan mimpi? Continue reading “DEWA MABUK :Naskah Monolog karya Akhudiat”

Bahasa »