Francois Villon (1430-1480)

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=384

Nukilan dari GRAND TESTAMENT XVIII
Francois Villon

“Apa kauperbuat” datang tanya tiba-tiba,
“Sampai tersangka jadi pencuri di lautan?”
Yang ditanya buru-buru menjawab tanya:
“Kenapa aku pencuri kaunamakan?
Karena aku membajak di lautan?
Dengan hanya sebuah kapal kecil dan lemah?
Aku kini pasti telah raja di lautan,
Andai aku bagai kau punya balatentara.”
***

Francois Villon, nama aslinya Francois de Montcorbier atau Francois des Loges, lahir di Paris 1430 yang meninggal dekat tahun 1480. Penyair besar jaman Tengah yang menganut aliran romantik abad XII; getaran jiwanya berkumandang sampai mendapat perhatian penyair-penyair Prancis modern, Apollinaire dan Cargo. Lewat kesederhanaan indah keharuan meradang, menjanjikan umat manusia yang menderita. Villon dari keluarga miskin, ada familinya mampu sehingga dapat belajar di Universitet Sorbonne. Sewaktu mahasiswa terlibat peristiwa yang berakhir kematian seseorang. Villon dibuang lantas bergabung dengan gerombolan perampok. Dua kali menghadapi tiang gantungan, hanya nasib mujur menyelamatkannya, dijatuhkan hukum buang sepuluh tahun, sejak itu tak terdengar kabarnya. Sajak-sajaknya yang terkenal: Grand Testament, Ballade des Pendus, Ballade des Dames du Temps jadis, serta Ballade pour Prier Nostre Dame. {dari buku Puisi Dunia, jilid I, susunan M. Taslim Ali, terbitan Balai Pustaka, 1952}.

Hidup ialah perjuangkan nyawa bagi sang keras kepala, sebab kompromi menguntungkan para filsuf pencari muka; demikian sayup-sayup kudengar di telinga, entah kata hatiku atau pantulan dari suara Villon.

Di tempat berbeda aku sempat berpendapat, seorang perampok lebih bertanggung jawab terhadap anak-anaknya, manakala yang dirampok tak mempunyai perasaan malu menimbun harta, tanpa melihat tetangga kelaparan.

Kerasnya hidup menjejakkan kaki-kaki seseorang menentukan jalannya lebih tegas daripada pernyataan yang meski masuk akal.

Di sana ada padatan siang malam dalam jasad ruh, terlukis di binaran bola mata, jalan-jalan membisu, teriakan keras tak terdengar, tetapi menggetarkan sampai jauh.

Jarak tak mampu ditaksirkan melampaui abad sejarah paling kelam, sehingga matahari lebih dekat faham makna putaran.

Villon menyetubuhi waktu, ketika semuanya terlelap pada nafasan daging. Tatkala jiwanya sepanas bara, tidak dirasa bulan malam angin sepoi tunduk tatapannya.

Pandangannya lebih jitu dari butiran peluru atas pemicu ditarik ribuan hawatir, hasrat meledak-ledak laksana dada batu pecah oleh hantaman palu, remuknya memburai ke mata-mata.

Orang-orang ingin bertemu harus mengubah karakternya demi menerima aura yang tiada tertundukkan, sebab dinaungi dewi fortuna.

Ada kesungguhan puitik manakala takdir dirasa menjepit, realitas menampakkan keelokan nalar meliar bereaksi kilatan cahaya, atau air hujan melompat memberi fikiran meresap ke hati.

Ada lontaran lugas bersimpan peristiwa makna lebih indah sedari nyanyian balada, ketika yang terkena mendapati desiran halus firasat serupa.

Kesamaan nasib percepat pemahaman merasuk atau lewat penerimaan sungguh, dunia yang tak dikenal menjadi intim dari nilai-nilai keselarasan dirasai sebelumnya.

Di sini urakan menempati ruang hati seperti kebuntuan niscaya ada pada kehidupan. Dan Villon mampu menyerukan dengan menawan, sehingga panggung dibenarkan mementaskan.

Ada kerendah hatian matang melebihi ketabahan batu berlubang atas tetesan air. Pada puncaknya kisah itu keluar dari goa pertapaan, melintasi rimbun perbincangan memasuki ruang renungan, mengarungi gelombang perdebatan melewati gurun keterkucilan, atas deru badai perubahan.

Keharuan meradang dari realitas penekanan, menyembul bagai balon berisi udara direndam dalam air, terciptalah daya utarakan kejujuran perihal alami, tiba-tiba membuncah tak terelak.

Jeritan ketertindasan terwakili serupa sesalan pada ampunan tak menjadi baik. Di sebelahnya berkesungguhan terpancar memberi pengadilan, timbangan kekekalan masa-masa, Tuhan yang memberi tingkatan kesadaran menuju muara.

Di bawah ini TULISAN DI NISAN VILLON

Saudaraku seumat yang hidup sesudah kami,
Jangan terhadap kami hatimu kaubatukan,
Adapun, bila kaubelasi kami yang malang ini,
Kaupun lantas saja diampuni oleh Tuhan.
Kaulihat kami ini lima-enam orang bergantungan;
Daging kami, terlalu kami padat dengan makanan,
Hampirlah busuk seluruhnya, hancur berantakan,
Lalu kami, kerangka, menjadi tepung dan debu.
Kami yang malang ini janganlah tertawakan,
Tapi doakan: Tuhan mengampuni kami dan kamu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*